Headline

Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.

Alarm Ekonomi: Inflasi Pangan 2025 Tembus 4,58%, Pemerintah Waspadai Daya Beli

Media Indonesia
06/1/2026 08:05
Alarm Ekonomi: Inflasi Pangan 2025 Tembus 4,58%, Pemerintah Waspadai Daya Beli
Ilustrasi(ANTARA/BAYU PRATAMA)

MESKI harga sejumlah komoditas seperti cabai dan bawang terpantau turun pasca-libur Nataru hari ini, bayang-bayang inflasi pangan tahunan yang tinggi menjadi 'lampu kuning' bagi ekonomi Indonesia di awal 2026.

Badan Pusat Statistik (BPS) dalam rilis terbarunya mencatat inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) sepanjang tahun 2025 mencapai 2,92% (year-on-year). Angka ini merupakan yang tertinggi sejak April 2024, didorong kuat oleh lonjakan harga pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Pudji Ismartini, mengungkapkan bahwa kelompok volatile food (pangan bergejolak) menjadi penyumbang tekanan terbesar terhadap dompet masyarakat.

"Kelompok makanan, minuman, dan tembakau mengalami inflasi sebesar 4,58% dan memberikan andil inflasi terbesar yakni 1,33%. Ini perlu menjadi perhatian karena menyangkut kebutuhan dasar masyarakat," ujar Pudji di Jakarta, Senin (5/1).

Anomali Harga: Cabai Turun Harian, Naik Tahunan

Data Badan Pangan Nasional (Bapanas) per pagi ini, Selasa (6/1/2026), memang menunjukkan tren penurunan harga harian (deflasi) pada komoditas bumbu dapur usai permintaan Nataru mereda. Harga cabai rawit merah turun Rp2.891 menjadi Rp58.796/kg secara nasional.

Namun, jika ditarik dalam perspektif tahunan (2025 vs 2024), beban masyarakat justru bertambah berat. BPS mencatat harga rata-rata cabai rawit merah sepanjang 2025 naik 15,61% dibanding tahun sebelumnya.

📊 Data Kunci Inflasi & Harga (Per Jan 2026)

  • Inflasi Umum 2025: 2,92% (yoy).
  • Inflasi Pangan: 4,58% (Tertinggi antar kelompok).
  • Komoditas Penyumbang Utama: Emas Perhiasan (0,79%), Cabai Merah (0,18%), Beras (0,15%).
  • Harga Daging Sapi (6/1/2026): Rp136.818/kg (Naik Rp845 - Anomali).

Daya Beli Kelas Menengah Terancam?

Kenaikan inflasi pangan yang menyentuh level 4,58% dinilai para ekonom sebagai sinyal bahaya bagi daya beli masyarakat, khususnya kelas menengah-bawah yang menghabiskan hampir 50-60% pendapatannya untuk konsumsi makanan.

Bank Indonesia (BI) dan pemerintah sendiri telah menargetkan pertumbuhan ekonomi 2026 di kisaran 5,1% - 5,4%. Namun, target ini bisa meleset jika inflasi pangan tidak segera diredam di Kuartal I-2026.

"Jika harga beras dan daging sapi terus bertahan tinggi di Januari-Februari, kita khawatirkan konsumsi rumah tangga akan terkoreksi dalam. Stimulus bansos mungkin membantu yang miskin, tapi kelas menengah akan 'terjepit' inflasi pangan," ungkap analisis tim ekonomi Media Indonesia.

Langkah Antisipasi Pemerintah

Merespons data ini, pemerintah melalui Kementerian Keuangan telah menyiapkan strategi shock absorber. Salah satunya adalah optimalisasi Saldo Anggaran Lebih (SAL) dan percepatan penyaluran bantuan sosial di awal tahun untuk menjaga stabilitas harga.

Menteri Pertanian dan Kepala Bapanas juga diinstruksikan untuk segera membanjiri pasar dengan stok cadangan pemerintah (CBP) guna menekan harga beras dan daging sapi yang mulai merangkak naik pekan ini.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Indrastuti
Berita Lainnya