Headline

Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.

Grab Indonesia 2025, dari Aplikasi ke Infrastruktur Sosial Ekonomi

Media Indonesia
01/1/2026 20:25
Grab Indonesia 2025, dari Aplikasi ke Infrastruktur Sosial Ekonomi
Grab Indonesia(Doc Grab)

PADA satu dekade terakhir, ekonomi digital di Indonesia berkembang cepat, kadang terlalu cepat untuk dipahami secara utuh. Ia hadir di tengah kota yang padat, desa yang terhubung perlahan, dan rumah tangga yang menghadapi tekanan biaya hidup.

Di antara dinamika itu, 2025 menjadi tahun penting: ketika platform digital tidak lagi semata dinilai dari pertumbuhan, tetapi dari perannya dalam menopang kehidupan sehari-hari masyarakat.

Di titik inilah perjalanan Grab Indonesia sepanjang 2025 layak dibaca bukan sebagai rangkaian inovasi teknologi, melainkan sebagai cermin perubahan struktur ekonomi rakyat.

Ketika Mobilitas Menjadi Kebutuhan Dasar

Transportasi yang terjangkau kini bukan lagi kemewahan, melainkan kebutuhan mendesak. Data menunjukkan bahwa 60 persen pengguna ojek dan taksi online berasal dari kelompok ekonomi bawah dengan pengeluaran di bawah Rp1,5 juta per bulan. Bagi mereka, transportasi online bukan sekadar pilihan praktis, tetapi penopang mobilitas kerja, pendidikan, dan akses layanan publik.

Tidak mengherankan jika 75 persen pengguna memanfaatkan layanan ini sebagai first mile dan last mile untuk menghubungkan rumah mereka dengan halte, stasiun, atau terminal. Transportasi daring hadir mengisi celah yang selama ini sulit dijangkau oleh moda transportasi umum konvensional.

Dalam konteks makro, industri transportasi dan pengantaran daring ini berkontribusi sekitar 2 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional. Grab sendiri menyumbang sekitar 50 persen dari industri ride-hailing. Namun, angka yang jauh lebih bermakna adalah fakta bahwa satu dari empat masyarakat Indonesia kini terhubung dengan Grab, baik sebagai pengguna maupun mitra. Ini menandakan bahwa platform ini telah melebur menjadi bagian dari ritme hidup nasional.

Platform sebagai Bantalan Sosial Baru

Di tengah ketidakpastian ekonomi pascapandemi dan gelombang PHK di berbagai sektor, platform digital menjelma menjadi ruang bertahan hidup. Sekitar satu dari dua mitra pengemudi Grab sebelumnya merupakan korban PHK atau tidak memiliki sumber pendapatan sama sekali. Mayoritas berusia di atas 36 tahun, bahkan lebih dari setengahnya berusia di atas 45 tahun, kelompok yang sering kali tersisih dari pasar kerja formal.

Tingkat pendidikan juga mencerminkan realitas sosial: 69 persen mitra pengemudi hanya menyelesaikan pendidikan hingga SMA/SMK. Namun justru di titik inilah fleksibilitas menjadi nilai utama. Platform ini memungkinkan siapa pun tanpa syarat ijazah tinggi, usia muda, atau pengalaman khusus untuk kembali produktif.

Lebih dari 182.500 mitra pengemudi Grab adalah perempuan, yang sebagian besar merupakan ibu tunggal dan tulang punggung keluarga. Selain itu, lebih dari 700 mitra pengemudi penyandang disabilitas juga turut tergabung dalam ekosistem ini. Dalam praktiknya, Grab berfungsi sebagai bantalan sosial informal; tidak untuk menggantikan peran negara, tetapi mengisi ruang kosong yang nyata di lapangan.

UMKM dan Mesin Pertumbuhan dari Akar Rumput

Jika mitra pengemudi adalah tulang punggung mobilitas, maka UMKM adalah jantung ekonomi digital Grab. Delapan dari sepuluh merchant GrabFood merupakan UMKM. Di GrabMart, lebih dari separuh merchant juga berasal dari pelaku usaha kecil dan mikro.

Sejak 2020 hingga 2024, ekosistem merchant Grab telah menciptakan sekitar 4,6 juta lapangan kerja. Angka ini menunjukkan bahwa dampak ekonomi platform tidak berhenti pada aplikasi, tetapi merembes ke dapur, kios, pasar tradisional, dan usaha rumahan.

Melalui program Kota Masa Depan, Grab bersama OVO dan Kementerian UMKM menyelenggarakan pelatihan di 16 kota tier-2 dan tier-3. Fokusnya bukan hanya digitalisasi teknis, tetapi juga kesiapan mental UMKM untuk bersaing di ekonomi yang semakin terkoneksi.

Ekosistem Terintegrasi: Dari Mobilitas hingga Keuangan

Sepanjang 2025, Grab memperkuat posisinya sebagai ekosistem terpadu. Layanan mobilitas seperti GrabBike, GrabCar, dan GrabElectric terhubung dengan layanan pengantaran (GrabFood, GrabExpress) , belanja (GrabMart, GrabJastip) , kesehatan (GrabHealth) , serta layanan keuangan melalui OVO dan Superbank.

Di sektor finansial, jutaan agen GrabKios di lebih dari 500 kota menjadi simpul inklusi keuangan. Pembayaran digital, pembiayaan mikro, hingga investasi ritel kini dapat diakses oleh masyarakat yang sebelumnya jauh dari layanan perbankan.

Ekosistem ini menunjukkan satu hal: ekonomi digital tidak berdiri sendiri, tetapi tumbuh ketika berbagai layanan saling menguatkan.

2025: Tahun Perayaan, Pendidikan, dan Kebangsaan

Tahun 2025 juga diwarnai oleh inisiatif sosial berskala nasional. Program “1080 Grab Indonesia” yang mengusung tema Semua Bisa Berdaya, Semua Bisa Sejahtera melibatkan lebih dari 5.000 mitra pengemudi di 80 kota, dari Aceh hingga Papua. Simbol #TumpengNASIonal bukan sekadar selebrasi, melainkan pengakuan atas peran mitra dalam menjaga roda ekonomi.

Di bidang pendidikan, GrabScholar menjangkau lebih dari 3.400 pelajar di 171 kota, dari jenjang SD hingga universitas. Program Generasi Campus 2025 melibatkan lebih dari 15.700 peserta di enam kota, mendorong anak muda untuk menyalurkan passion dalam aksi sosial dan kewirausahaan.

Sementara itu, penayangan billboard Grab di Times Square, New York, membawa wajah pariwisata dan kuliner Indonesia ke panggung global sebuah simbol bahwa ekonomi digital lokal juga mampu berbicara di tingkat dunia.

Mitra “Naik Kelas”: Mobilitas Sosial di Dunia Digital

Salah satu benang merah terpenting sepanjang 2025 adalah mobilitas sosial mitra. Melalui program magang GrabRental, sebanyak 1.700 mitra pengemudi ojek online beralih menjadi pengemudi taksi online, dengan peningkatan pendapatan hingga 2,5 kali lipat.

Akses modal juga diperluas. Sejak 2023, OVO Finansial telah menyalurkan lebih dari Rp6 triliun pembiayaan kepada lebih dari 445.000 mitra UMKM dan pengemudi melalui GrabModal. Di ranah ekonomi kreator, GrabAcademy bekerja sama dengan Meta melatih mitra pengemudi menjadi content creator dan KOL membuka peluang pendapatan di luar jalanan.

Perempuan sebagai Fokus Pemberdayaan

Pemberdayaan perempuan bukan sekadar program tambahan, melainkan agenda utama. Program Ibu Sudah OKE! (ISO) dari GrabExpress memberikan paket ongkir flat terjangkau bagi ibu pelaku usaha. Komunitas Mompreneur dalam Klub Juragan GrabExpress telah memberdayakan lebih dari 2.000 pelaku usaha perempuan.

Gerakan SERABI (Sekumpulan Perempuan Bisa) mendukung lebih dari 1.100 UMKM perempuan di 13 kota melalui teknologi AI GrabMerchant, akses GrabKios, dan pembiayaan. Program #MelajuSyantiek sendiri telah menjangkau lebih dari 25.000 mitra pengemudi perempuan, mayoritas ibu tunggal dan mahasiswi.

Kolaborasi dengan Negara: Dari Kesehatan hingga Gizi

Grab juga memperkuat kolaborasi dengan pemerintah. Bersama Kementerian Kesehatan, layanan cek kesehatan gratis disediakan bagi mitra pengemudi. Program Kota Masa Depan mendukung lebih dari 200.000 UMKM di 15 kota.

Dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) , Grab-OVO mengalokasikan dana CSR lebih dari USD 1 juta, menjangkau 4.500 murid dan guru di 29 sekolah, serta melibatkan lebih dari 20 UMKM. Grab menjadi institusi swasta pertama yang menjalankan MBG bagi anak berkebutuhan khusus—menandai peran sektor swasta dalam agenda sosial nasional.

Keamanan sebagai Fondasi Ekonomi Digital

Pertumbuhan tanpa kepercayaan adalah ilusi. Karena itu, sepanjang 2025 Grab menempatkan keamanan sebagai fondasi. Inovasi seperti Trip Monitoring, AudioProtect berbasis AI, dan sensor kata otomatis di GrabChat dirancang untuk mendeteksi risiko sejak dini dan merespons cepat.

Seluruh perjalanan di aplikasi Grab dilindungi asuransi, dengan pendampingan satuan tugas khusus sejak hari pertama kecelakaan hingga pemulihan. Grab juga memfasilitasi pendaftaran BPJS Ketenagakerjaan langsung dari aplikasi mitra, bekerja sama dengan pemerintah daerah untuk mendorong ribuan mitra terlindungi secara sosial.

Menjaga Integritas Finansial

Di sektor finansial, Grab dan OVO menggulirkan gerakan GEBUK JUDOL. Sepanjang 2025, lebih dari 7.000 akun terkait judi online diblokir, dan transaksi ilegal turun hingga 97 persen. Di sisi lain, adopsi QRIS di aplikasi Grab mencatat lebih dari 40 juta transaksi dalam setahun.

Puncaknya, IPO Superbank mencetak rekor sebagai IPO bank digital terbesar 2025, dengan tingkat oversubscription mencapai 318 kali sebuah indikator kepercayaan pasar terhadap ekosistem digital yang inklusif.

Integrasi Kota dan Masa Depan Mobilitas

Grab juga melangkah ke integrasi fisik dengan transportasi publik. Shelter Grab hadir di berbagai stasiun dan terminal—dari Jakarta, Bogor, Yogyakarta, hingga Surabaya. Fitur Public Transit di aplikasi membantu pengguna merencanakan perjalanan secara lebih akurat, menghubungkan transportasi online dan umum dalam satu ekosistem.

Dari Pertumbuhan ke Keberlanjutan

Sepuluh tahun lalu, ekonomi digital mungkin identik dengan promosi dan ekspansi. Sepuluh tahun ke depan, tantangannya adalah keberlanjutan, perlindungan, dan kepastian. Catatan Akhir Tahun Grab Indonesia 2025 menunjukkan bahwa platform digital dapat menjadi lebih dari sekadar mesin pertumbuhan ia bisa menjadi infrastruktur sosial, jembatan mobilitas, dan ruang harapan.

Tantangan ke depan tetap besar. Regulasi, perlindungan pekerja, dan keseimbangan ekosistem akan terus diperdebatkan. Namun satu hal menjadi jelas: ketika teknologi berpihak pada manusia, ekonomi digital tidak hanya tumbuh ia menguatkan. (Adv)

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Reynaldi
Berita Lainnya