Headline

PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.

Genjot Konsumsi Akhir Tahun, Belanja Nataru Dibidik Rp110 T

Insi Nantika Jelita
27/12/2025 05:58
Genjot Konsumsi Akhir Tahun, Belanja Nataru Dibidik Rp110 T
Ilustrasi(Dok Istimewa)

MENTERI Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menargetkan nilai transaksi belanja masyarakat selama periode libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025/2026 mencapai Rp110 triliun. Target tersebut diharapkan tercapai seiring berbagai program diskon dan stimulus yang digulirkan pemerintah bersama pelaku usaha ritel dan lainnya.

Airlangga menjelaskan, hampir seluruh pusat perbelanjaan menawarkan potongan harga besar hingga 50%, bahkan cashback atau pengembalian uang. 

“Sampai akhir tahun kita targetkan sekitar Rp110 triliun dibelanjakan. Inilah yang kita dorong agar pertumbuhan ekonomi dan belanja masyarakat terus meningkat,” ujar Airlangga saat meninjau persiapan kebijakan Work From Anywhere (WFA) di Pondok Indah Mall 1, Jakarta, Jumat (26/12).

Target transaksi Rp110 triliun tersebut ditopang oleh sejumlah program belanja nasional. Antara lain Gerakan Nasional Belanja di Indonesia Aja (BINA), hasil kolaborasi Kemenko Perekonomian, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Kementerian Perdagangan, serta Himpunan Peritel dan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (Hippindo). Program BINA yang berlangsung pada 18 Desember 2025 hingga 4 Januari 2026 ditargetkan mencatatkan transaksi hingga Rp30 triliun.

Selain itu, program Hari Belanja Online Nasional (Harbolnas) yang digelar pada 10–16 Desember 2025 ditargetkan menghasilkan transaksi sekitar Rp35 triliun. Pemerintah juga menggandeng Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) melalui program Every Purchase Is Cheap (EPIC) yang menawarkan diskon besar-besaran mulai 20%-80%.

Pemerintah juga berharap wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Indonesia selama periode liburan turut berbelanja, sehingga program diskon ini menjadi daya tarik tambahan pariwisata.

Sementara itu, Ketua Umum Hippindo Budiharjo Iduansjah melaporkan adanya tren peningkatan signifikan penjualan ritel di pusat perbelanjaan dalam dua pekan terakhir. Ia menilai kebijakan fleksibilitas kerja seperti work from anywhere (WFA) dan work from mall menjadi katalis utama meningkatnya kunjungan masyarakat ke mal.

“Penjualan sudah mulai naik dalam dua minggu terakhir. Kami di sektor ritel sangat mendukung kebijakan ini karena dengan adanya aktivitas di mal, trafik meningkat dan pada akhirnya penjualan ritel ikut terdongkrak,” ujarnya.

Budiharjo juga mengapresiasi dukungan pemerintah yang mendorong transformasi mal tidak hanya sebagai tempat transaksi jual beli, tetapi juga sebagai ruang produktivitas dan tempat berkumpul masyarakat modern. Saat ini, konsep work from mall telah diterapkan di lebih dari 400 pusat perbelanjaan di 24 provinsi.

Sejalan dengan itu, Menteri Pariwisata (Menpar) Widiyanti Putri Wardhana menyampaikan program Belanja di Indonesia Aja yang diluncurkan bersama Indonesia Great Sale 2025 telah diluncurkan sejak 18 Desember 2025 dan berlangsung hingga 4 Januari 2026. Program tersebut digelar di 24 provinsi dengan melibatkan lebih dari 400 gerai.

Konsep work from mall dinilai sejalan dengan  program belanja nasional karena mendorong perputaran ekonomi, termasuk di sektor restoran dan kuliner.

"Aktivitas bekerja dari mal, minum kopi, dan makan turut meningkatkan transaksi belanja," ucapnya.

Musiman

Dihubungi terpisah, peneliti pusat makroekonomi dan keuangan Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Riza A. Pujarama menegaskan target realisasi transaksi belanja masyarakat selama libur Nataru yang sebesar Rp110 triliun perlu dihitung secara cermat berdasarkan data deret waktu (time series) pada periode yang sama di tahun-tahun sebelumnya. Dari data tersebut, proyeksi dapat dilakukan dengan mempertimbangkan berbagai asumsi perkembangan makroekonomi yang ada.

Menurut Riza, lonjakan konsumsi pada momen hari raya keagamaan dan Nataru
pada umumnya bersifat musiman atau sementara. Lonjakan belanja, katanya, lebih banyak didorong oleh kebutuhan liburan, perjalanan, serta konsumsi sesaat, bukan karena peningkatan daya beli yang berkelanjutan.

"Sehingga, kenaikan konsumsi pada periode Nataru belum tentu mencerminkan pemulihan daya beli masyarakat secara menyeluruh," tuturnya.

Selain itu, kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi, khususnya pada triwulan IV-2025, dinilai tidak akan signifikan apabila hanya mengandalkan sektor pariwisata. Dus, tanpa dukungan dari sektor-sektor lain yang lebih luas dan berkelanjutan, efek pengganda dari aktivitas ekonomi selama libur akhir tahun cenderung terbatas. 

Stimulus

Pemerintah telah mengguyur sejumlah program stimulus ekonomi untuk mendorong konsumsi masyarakat selama periode Nataru. Salah satunya pemberian diskon tiket kereta api hingga 30% pada periode 22 Desember hingga 10 Januari. Hingga 26 Desember, realisasi jumlah penumpang kereta api telah mencapai 1.093.231 orang.

"Ini dengan serapan anggaran sebesar 83,36 persen dari target 70%," kata Airlangga.

Selain itu, pemerintah juga memberikan diskon tiket kapal Pelni sebesar 20% pada periode 17 Desember hingga 10 Januari. Program ini menargetkan 405.881 penumpang dengan alokasi anggaran 24,8 persen. Hingga 26 Desember, realisasi penumpang Pelni tercatat mencapai 67,4% atau sebanyak 273.674 orang, dengan nilai anggaran terserap sebesar Rp17,2 miliar.

Stimulus serupa juga diberikan pada layanan penyeberangan ASDP dengan diskon tarif sebesar 19 persen. Hingga 26 Desember, realisasi tercatat mencapai sekitar 89.982 unit kendaraan dan 235.556 penumpang, atau setara dengan sekitar 18% dari target.

Untuk transportasi udara, pemerintah memberikan diskon tiket pesawat sebesar 13%–14% dengan asumsi jumlah penumpang mencapai 3.598.590 orang. 

Di sisi lain, guna menjaga daya beli masyarakat berpendapatan rendah, pemerintah juga menyalurkan Bantuan Langsung Tunai (BLT) Kesejahteraan dengan target awal 35,05 juta keluarga penerima manfaat, yang kemudian disesuaikan menjadi 29.912.362 keluarga berdasarkan data sensus ekonomi nasional terakhir. (H-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Indrastuti
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik