Headline

PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.

Kemacetan Merak-Bakauheni Dinilai Bersumber dari Keterbatasan Dermaga

Insi Nantika Jelita
22/12/2025 18:06
Kemacetan Merak-Bakauheni Dinilai Bersumber dari Keterbatasan Dermaga
Sejumlah truk antre untuk memasuki kapal di Pelabuhan Merak, Kota Cilegon, Banten, Kamis (18/12/2025).(Antara)

KEMACETAN panjang yang kerap terjadi di lintasan penyeberangan Merak–Bakauheni, khususnya saat periode libur Natal dan Tahun Baru (Nataru), dinilai tidak disebabkan oleh kekurangan armada kapal. Akar persoalan justru berada pada keterbatasan infrastruktur dermaga yang belum mampu mengimbangi lonjakan arus kendaraan.

Pandangan tersebut disampaikan Ketua Umum DPP Gabungan Pengusaha Nasional Angkutan Sungai, Danau, dan Penyeberangan (Gapasdap) Khoiri Soetomo. Ia menegaskan jumlah kapal yang beroperasi saat ini sudah lebih dari cukup, termasuk sekitar 70 kapal roll-on/roll-off (Ro-Ro) berkapasitas di atas 5.000 GT.

Menurut Khoiri, persoalan muncul ketika peningkatan kapasitas jaringan Tol Trans-Jawa dan Trans-Sumatra tidak diiringi dengan penguatan fasilitas pelabuhan. Akibatnya, arus kendaraan dari jalan tol bermuara di pelabuhan tanpa dukungan dermaga yang memadai.

“Penambahan kapasitas jalan tol tanpa peningkatan kemampuan dermaga justru berpotensi memicu kemacetan. Seluruh arus akhirnya tertahan di pelabuhan,” ujarnya di Jakarta dalam keterangan resmi, Senin (22/12).

Data operasional pada periode 17–20 Desember menunjukkan bahwa kemacetan di lintasan Merak–Bakauheni turut dipengaruhi cuaca ekstrem serta uji coba sistem administrasi digital yang belum sepenuhnya selaras dengan kondisi lapangan. Meski sebagian kendaraan barang telah dialihkan ke Pelabuhan Ciwandan dan Bandar Bakau Jaya (BBJ), penumpukan tetap terjadi karena keterbatasan fasilitas sandar.

Gapasdap juga menyoroti kebijakan pengalihan operasional yang dinilai mengurangi peran lintasan Merak–Bakauheni sebagai pelabuhan utama saat puncak arus. Padahal, lintasan ini memiliki tujuh pasang dermaga yang paling sesuai untuk melayani kapal berukuran besar. Pengalihan beban ke pelabuhan pendukung yang belum siap justru memperpanjang waktu tunggu kendaraan logistik, bahkan hingga dua hari.

Dorong solusi jangka panjang

Untuk mengatasi persoalan secara berkelanjutan, Gapasdap mengajukan sejumlah rekomendasi strategis kepada Prabowo Subianto. Salah satunya adalah pembangunan pemecah gelombang dan kolam pelabuhan yang terlindungi, agar aktivitas bongkar-muat tetap berjalan saat cuaca buruk, sebagaimana diterapkan di Pelabuhan Ulee Lheue, Aceh.

Selain itu, Gapasdap mendorong penguatan infrastruktur dermaga di lintasan Merak–Bakauheni serta Ketapang–Gilimanuk agar ditetapkan sebagai Proyek Strategis Nasional (PSN). Langkah tersebut dinilai penting untuk memastikan pengembangan pelabuhan penyeberangan mendapat perhatian dan pengawalan langsung dari pemerintah pusat.

Tanpa pembenahan struktural pada infrastruktur dermaga, Gapasdap menilai upaya peningkatan efisiensi logistik nasional melalui pembangunan jalan tol akan terus menghadapi hambatan serius di titik-titik penyeberangan antarpulau. (Ins/I-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Irvan Sihombing
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik