Headline

PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.

Transformasi Hulu Kopi Jadi Kunci untuk Atasi Stagnasi Produksi dan Kemiskinan Desa

Despian Nurhidayat
12/12/2025 18:55
Transformasi Hulu Kopi Jadi Kunci untuk Atasi Stagnasi Produksi dan Kemiskinan Desa
Ilustrasi(Dok Istimewa)

PRODUKSI kopi Indonesia dalam lima tahun terakhir cenderung stagnan dikisaran 750-820 ribu ton. Sementara itu, sejumlah daerah penghasil kopi termasuk wilayah pedesaan di Jawa Timur, Sumatera hingga Sulawesi masih menghadapi tantangan kemiskinan yang cukup tinggi. 

Kondisi ini menunjukkan bahwa potensi kopi Indonesia belum sepenuhnya diterjemahkan menjadi kesejahteraan yang merata. Dalam berbagai diskusi lintas-sektor bersama pemerintah, akademisi dan pelaku industri, muncul kesadaran bersama bahwa transformasi hulu kopi menjadi fondasi utama untuk memperkuat daya saing dan meningkatkan pendapatan petani. 

Penguatan praktik budidaya, peningkatan kualitas pasca panen, akses teknologi iklim, dan modernisasi desa kopi dinilai perlu dilakukan secara lebih terstruktur.

KAPPI yang merupakan Yayasan Pendidikan Pengembangan Perkopian Indonesia yang dalam beberapa tahun belakangan melakukan pendampingan diberbagai daerah mengamati adanya peningkatan kualitas dan nilai tambah terjadi secara signifikan, ketika petani mendapatkan pelatihan teknis yang tepat. Penekanan ini disampaikan oleh Roby Wibisono yang mewakili KAPPI.

“Pendidikan teknis ditingkat petani berpengaruh langsung terhadap kualitas dan nilai tambah. Kami melihat bahwa pengetahuan hulu adalah elemen kunci agar ekonomi desa dapat bertumbuh dari kopi,” ungkap Roby, Jumat (12/12).

Roby menambahkan bahwa pemahaman petani terhadap panen selektif, proses fermentasi yang terukur dan pentingnya traceability terbukti mengubah posisi tawar petani dalam rantai nilai. 

“Begitu petani memahami pentingnya kualitas, panen selektif, dan traceability, mereka tidak lagi berada diujung terlemah rantai nilai. Desa memperoleh porsi ekonomi yang lebih besar dan kopi menjadi benar-benar berperan dalam peningkatan kesejahteraan,” lanjut Roby.

Pandangan KAPPI sejalan dengan arahan pemerintah. Wakil Kepala BP Taskin, Iwan Sumule, menegaskan bahwa industrialisasi kopi berbasis desa penting untuk memastikan bahwa nilai tambah tidak berhenti di tingkat pedagang perantara. “Nilai tambah harus tinggal di desa. Jika itu tercapai, kopi bisa menjadi instrumen pembebasan sosial,” ujarnya.

Dari sisi akademisi, Universitas Jember dan sejumlah perguruan tinggi melihat bahwa riset, inovasi dan pendekatan berbasis data diperlukan untuk memperkuat budidaya dan mengembangkan komoditas kopi rakyat.

Dalam kolaborasi ini, KAPPI memposisikan diri sebagai mitra pendidikan dan pengembangan SDM perkopian. Program pelatihan, pendampingan pasca panen, penguatan kompetensi barista hingga transfer pengetahuan tentang standar kualitas global telah menjadi bagian dari komitmen KAPPI untuk mendorong produktivitas dan daya saing hulu.

Minimnya regenerasi petani juga menjadi perhatian banyak pihak. Dengan mayoritas petani berusia diatas 45 tahun dan keterlibatan generasi muda yang masih terbatas, risiko menurunnya inovasi dan produktivitas dalam jangka panjang semakin nyata.

Untuk menjawab tantangan ini, KAPPI mengembangkan program pendidikan, kompetisi serta youth empowerment yang bertujuan mengenalkan kopi sebagai industri masa depan yang memiliki prospek ekonomi kuat. Dengan memberikan akses pengetahuan dan ruang berkreasi, generasi muda diharapkan dapat mengambil peran lebih besar dalam pengembangan kopi nasional.

Seiring meningkatnya konsumsi kopi di Asia terutama Tiongkok, Indonesia memiliki peluang besar untuk memperluas pasar premium. Permintaan untuk specialty coffee, sustainable coffee dan produk berbasis origin semakin tinggi di kawasan tersebut.

Indonesia juga memiliki lebih dari 50 kopi berindikasi geografis (GI). Jika dikelola dengan baik, GI dapat menjadi strategi ekonomi desa untuk meningkatkan harga jual, memperkuat identitas origin serta memperluas peluang ekspor. 

KAPPI turut mendampingi sejumlah desa untuk memanfaatkan GI sebagai instrumen peningkatan nilai tambah di tingkat lokal.

Wilayah Tapal Kuda di Jawa Timur menjadi salah satu kawasan yang sering disebut dalam berbagai diskusi karena memiliki potensi kopi besar namun memerlukan penguatan kapasitas, akses teknologi serta perluasan pasar. Banyak pihak memandang kawasan ini sebagai contoh bagaimana ekosistem kolaboratif antara pemerintah, akademisi dan lembaga seperti KAPPI dapat menjadi model kebangkitan ekonomi berbasis kopi.

KAPPI (Yayasan Pendidikan Pengembangan Perkopian Indonesia) adalah lembaga pendidikan, penelitian, dan pengembangan SDM perkopian yang berfokus pada peningkatan kapasitas petani, penguatan kualitas kopi nasional, riset inovatif dan pengembangan kompetensi barista. 

KAPPI berkomitmen mendukung masa depan kopi Indonesia dengan menjunjung slogan “Semangat untuk Indonesia.” (H-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Indrastuti
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik