Headline

PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.

PMI Meroket, Permintaan Domestik Dorong Kinerja Manufaktur RI

Insi Nantika Jelita
01/12/2025 21:18
PMI Meroket, Permintaan Domestik Dorong Kinerja Manufaktur RI
Ilustrasi: Pekerja mengamati bagian komponen otomotif usai produksi di Dharma Polimetal Tbk, Cikarang, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat.(ANTARA/Fakhri Hermansyah)

LEMBAGA pemeringkat S&P Global menempatkan Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur Indonesia kembali berada di zona ekspansi pada November 2025 dengan skor 53,3, naik dari bulan sebelumnya dengan skor 51,2. Di tengah permintaan global yang masih mengalami tekanan, PMI manufaktur Indonesia ekspansif empat bulan berturut-turut sejak Agustus 2025.

"Di tengah perlambatan beberapa pasar ekspor utama, permintaan domestik kembali menjadi jangkar pertumbuhan. Industri kita bergerak adaptif, melakukan penyesuaian kapasitas," ujar Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita saat menanggapi laporan S&P Global tersebut, Senin (1/12).

Ia menambahkan, periode November ini merupakan yang paling tinggi sejak Februari. Hal itu, menurutnya, mencerminkan perbaikan kondisi operasional industri nasional dan kesehatan sektor manufaktur yang kian solid.

Agus menjelaskan, peningkatan PMI terutama digerakkan oleh lonjakan pesanan baru yang mencapai level tertinggi dalam 27 bulan terakhir. Sebagian besar responden menyebut peningkatan jumlah pelanggan domestik sebagai faktor pendorong, sementara permintaan dari luar negeri justru menyusut cukup tajam. 

Kondisi itu, kata Menperin, mendorong produsen meningkatkan produksi kembali setelah periode stagnasi, sekaligus memperbesar stok barang jadi guna mengantisipasi permintaan lanjutan.

Kenaikan permintaan juga berdampak pada kapasitas kerja pabrik. Perusahaan mencatat akumulasi pekerjaan yang signifikan, tertinggi selama lebih dari empat tahun. 

"Untuk menjaga kelancaran produksi, banyak pelaku industri menambah tenaga kerja meskipun tidak secepat bulan sebelumnya," sebutnya.

Aktivitas pembelian bahan baku juga meningkat, sejalan dengan upaya menjaga kesiapan pasokan input di tengah pemulihan permintaan.

Dalam catatan S&P Global, PMI manufaktur ASEAN meningkat dari 52,7 pada Oktober menjadi 53,0 pada November 2025. Indonesia (53,3) berada dalam kelompok ekspansif bersama Thailand (56,8), Vietnam (53,8), Myanmar (51,4), dan Malaysia (50,1), sedangkan Filipina berada di zona kontraksi (47,4). 

Di luar kawasan, sejumlah negara besar juga mencatat ekspansi seperti India (59,2), Amerika Serikat (52,5), Australia (51,6), serta Tiongkok (50,6). Kondisi tersebut menunjukkan aktivitas industri global mulai stabil, meski kecepatan pemulihannya tidak merata.

"Kami yakin sektor manufaktur tetap menjadi andalan perekonomian nasional. Prioritas kami menjaga iklim usaha yang sehat, mendorong nilai tambah, dan mengawal transformasi industri yang berkelanjutan," pungkas Agus. (Ins/E-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Mirza
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik