Headline

Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.

Inovasi Besar, Starlink Kini Hadapi Tantangan Bisnis Lebih Besar di Indonesia

Heryadi
12/11/2025 02:51
Inovasi Besar, Starlink Kini Hadapi Tantangan Bisnis Lebih Besar di Indonesia
CEO Tesla Inc. sekaligus SpaceX Elon Musk menyapa warga saat akan meluncuran layanan internet berbasis satelit Starlink di Puskesmas Pembantu Sumerta Klod Denpasar, Bali, Mei 2024 silam.(ANTARA/Muhammad Adimaja)

KEHADIRAN Starlink di Indonesia sejak Mei 2024 sempat memicu optimisme besar terhadap percepatan transformasi digital nasional. Dengan teknologi satelit orbit rendah (LEO), perusahaan milik SpaceX itu menjanjikan konektivitas cepat bagi wilayah-wilayah yang selama ini sulit dijangkau jaringan fiber optik dan seluler.

Namun, laporan terbaru Opensignal yang ditulis oleh Robert Wyrzykowski, Principal Data Analyst at Opensignal, menunjukkan bahwa di balik pencapaian teknologinya, Starlink menghadapi tantangan serius dalam hal keterjangkauan dan keberlanjutan model bisnis.

"Starlink telah membawa akses internet ke daerah yang sebelumnya terisolasi. Tetapi, harga yang tinggi dan performa yang fluktuatif membuat dampak ekonominya belum optimal," tulis Wyrzykowski dalam laporan tersebut.

Dalam satu tahun beroperasi, Starlink mencatatkan persebaran pelanggan yang menarik, yakni 60% pengguna berada di wilayah pedesaan, jauh di atas pengguna jaringan kabel tetap dan Fixed Wireless Access (FWA). Ini menunjukkan bahwa layanan satelit memang berhasil menembus pasar yang belum tersentuh infrastruktur digital konvensional.

Namun, tantangan muncul pada aspek adopsi massal. Banyak masyarakat pedesaan yang menjadi target utama justru belum mampu berlangganan. Dengan harga perangkat yang mencapai Rp4,75 juta–Rp9 juta dan tarif bulanan Rp479.000, biaya layanan ini tergolong tinggi untuk daya beli mayoritas rumah tangga Indonesia.

Wyrzykowski menegaskan bahwa struktur harga tersebut berpotensi memperlebar ketimpangan digital, alih-alih menutupnya.

"Bagi sebagian besar masyarakat di pedesaan, membayar hampir setengah juta rupiah per bulan untuk internet bukan pilihan realistis. Akibatnya, Starlink cenderung dinikmati oleh segmen menengah ke atas," jelasnya.

Kinerja turun, nilai ekonomi dipertanyakan
Selain faktor harga, laporan Opensignal juga mencatat penurunan performa signifikan pada jaringan Starlink di Indonesia sepanjang 2024–2025. Kecepatan unduh rata-rata menurun dari 42 Mbps menjadi 15,8 Mbps, sedangkan kecepatan unggah turun menjadi 5,4 Mbps. Kualitas pengalaman video dan gaming juga menurun, dengan konsistensi jaringan (quality consistency) hanya mencapai 30,9%, lebih rendah dibandingkan jaringan FWA lokal.

Kinerja yang tidak stabil ini menimbulkan pertanyaan bagi pelaku pasar, apakah Starlink benar-benar dapat menjadi solusi jangka panjang bagi pembangunan ekonomi digital di Indonesia?

Menurut Wyrzykowski, performa yang menurun berpotensi menekan nilai tambah layanan di pasar yang kompetitif. "Bila kecepatan dan stabilitas terus menurun, konsumen mungkin mulai mempertanyakan nilai yang mereka peroleh dari biaya tinggi yang dibayarkan," ujarnya.

Masuknya Starlink menambah dinamika kompetisi di sektor telekomunikasi nasional. Pemain lokal seperti Telkomsel, XL Axiata, dan Indosat Ooredoo Hutchison (IOH) selama ini telah membangun jaringan FWA yang menawarkan biaya lebih rendah dan performa relatif stabil di wilayah urban dan semiurban.

Sementara itu, pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) telah membuka peluang alokasi spektrum baru di pita 1,4 GHz untuk mendukung pengembangan layanan FWA dengan harga yang lebih terjangkau, sekitar Rp100.000–Rp 150.000 per bulan.

Dalam konteks ini, Wyrzykowski menilai Starlink harus menyesuaikan strategi bisnisnya agar tetap kompetitif di pasar domestik yang sensitif terhadap harga. "Starlink tidak bisa hanya mengandalkan keunggulan teknologi. Di pasar seperti Indonesia, efisiensi biaya dan kemitraan lokal akan menjadi faktor kunci keberlanjutan bisnis," tulisnya.

Potensi di sektor publik dan komunitas
Meski menghadapi tantangan komersial, Starlink tetap memiliki peran penting dalam memperkuat konektivitas layanan publik. Pemerintah Indonesia, misalnya, telah memanfaatkan jaringan Starlink untuk menghubungkan lebih dari 2.700 puskesmas, sekolah, dan fasilitas publik di wilayah terpencil.

Menurut Opensignal, model ini lebih berkelanjutan karena memusatkan biaya operasional pada lembaga publik, bukan individu. Namun, hal ini juga berarti Starlink belum sepenuhnya menjadi solusi untuk akses internet rumah tangga. 

"Pendekatan berbasis komunitas lebih efisien dalam jangka pendek, tetapi akses individu masih terbatas. Untuk mencapai inklusi digital sejati, Starlink perlu menjangkau pengguna langsung dengan harga yang lebih bersahabat," jelas Wyrzykowski.

Dari perspektif ekonomi, Starlink menghadapi dilema klasik model bisnis global di negara berkembang. Biaya produksi dan operasional satelit bersifat seragam secara internasional, namun daya beli konsumen berbeda di tiap negara.

Wyrzykowski menilai, jika Starlink ingin memperluas pasar di Indonesia, diperlukan adaptasi harga yang mempertimbangkan konteks ekonomi lokal. Langkah seperti penurunan harga langganan di Amerika Utara dan Eropa bisa menjadi contoh strategi yang layak diterapkan di Asia Tenggara.

"Strategi harga yang lebih fleksibel akan menjadi kunci untuk memperluas penetrasi pasar. Jika tidak, layanan ini akan tetap eksklusif untuk kalangan tertentu," katanya.

Selain itu, peluang kemitraan dengan operator lokal dapat menjadi jalan tengah. Dengan berbagi infrastruktur dan model bisnis, Starlink dapat memperluas jangkauan sekaligus menekan biaya bagi konsumen akhir.

Antara inovasi dan ketimpangan
Dari sisi makroekonomi, kehadiran Starlink menandai fase baru transformasi digital Indonesia. Namun, laporan Opensignal menegaskan bahwa inovasi teknologi tidak otomatis berarti inklusi ekonomi. Tanpa strategi bisnis yang memperhatikan daya beli masyarakat dan pemerataan layanan, Starlink berisiko menjadi simbol kemajuan yang hanya dinikmati sebagian kecil populasi. 

"Starlink menutup kesenjangan cakupan, tapi belum menutup kesenjangan ekonomi. Keberhasilan sejati akan datang bila layanan ini mampu menjangkau semua kalangan," tulis Wyrzykowski menegaskan.

Indonesia dengan lebih dari 17.000 pulau dan 270 juta penduduk adalah pasar besar sekaligus kompleks bagi teknologi satelit. Starlink telah membuka babak baru dalam konektivitas, tetapi agar bisa berperan signifikan dalam ekonomi digital nasional, strategi bisnisnya harus berevolusi.

Seperti disimpulkan Robert Wyrzykowski, tantangan terbesar bukan pada teknologi, melainkan pada model ekonomi yang berkelanjutan. 

"Starlink tidak akan menggantikan jaringan terestrial. Namun, jika harga bisa diturunkan dan akses diperluas, satelit ini dapat menjadi jembatan nyata menuju masa depan digital Indonesia yang lebih inklusif," tulisnya. (E-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Mirza
Berita Lainnya