Headline

Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.

OJK Paparkan Kinerja Triwulan II 2025

mediaindonesia.com
29/10/2025 16:02
OJK Paparkan Kinerja Triwulan II 2025
Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Mahendra Siregar pada Financial Expo (FinExpo), di Surabaya, Jawa Timur, Jumat (24/10/2025).(OJK Jatim)

Perkembangan Ekonomi Global

Memasuki triwulan II-2025, dinamika perekonomian global menunjukkan kecenderungan moderasi di tengah meningkatnya ketidakpastian arah kebijakan, tensi perdagangan, dan risiko geopolitik yang masih membayangi. 

Di Amerika Serikat, pertumbuhan ekonomi tetap terjaga pada tingkat yang solid dengan PDB tumbuh sebesar 2,07% (yoy). Stabilitas ini ditopang oleh konsumsi rumah tangga, terutama pembelian kendaraan bermotor yang meningkat secara pre-emptive sebelum penerapan tarif impor baru. Namun demikian, pasar tenaga kerja mulai memperlihatkan tanda perlambatan dengan menurunnya penyerapan tenaga kerja di sektor swasta. 

Di Tiongkok, pertumbuhan ekonomi melambat menjadi 5,2% (yoy), lebih rendah dibandingkan capaian kuartal sebelumnya sebesar 5,4%. Pertumbuhan tersebut didukung oleh kinerja industri besar yang meningkat 6,4%, dengan motor utama pada industri peralatan, manufaktur teknologi tinggi, serta produk unggulan seperti kendaraan listrik, printer 3D, dan robot industri. Zona Eropa pada periode yang sama masih mengalami moderasi, dengan pertumbuhan agregat sebesar 1,4% (yoy), lebih rendah dibandingkan triwulan I-2025 sebesar 1,5% (yoy). Kondisi stagnan ini terutama dipengaruhi oleh lemahnya permintaan domestik dan tekanan yang berlanjut pada sektor manufaktur. 

Sejalan dengan tren moderasi tersebut, inflasi inti di negara maju menurun. Di Amerika Serikat, rata-rata inflasi triwulanan lebih rendah dibandingkan triwulan sebelumnya. Kawasan Eropa juga menunjukkan tren serupa, meskipun di beberapa negara inflasi inti masih relatif tinggi. Inflasi inti tercatat sebesar 2,3% (yoy), terendah sejak Januari 2022. Sebaliknya, Tiongkok mencatatkan kenaikan inflasi inti ke 0,7% (yoy) dari 0,5% pada triwulan sebelumnya, walaupun masih dalam kisaran historis yang rendah.

Menyikapi perkembangan tersebut, mayoritas bank sentral dunia menempuh kebijakan moneter akomodatif. ECB menurunkan suku bunga acuan sebanyak dua kali (April dan Juni 2025) dengan total 50 bps, Bank of England memangkas suku bunga 25 bps pada Mei 2025, sementara PBoC menurunkan suku bunga acuannya sebesar 10 bps ke level 3,0%.

Di tengah tekanan global, ekonomi Indonesia tetap tumbuh solid. PDB triwulan II-2025 tercatat sebesar 5,12% (yoy), lebih tinggi dari capaian triwulan sebelumnya (4,87%) dan melampaui konsensus pasar sebesar 4,8%. Peningkatan kinerja ini ditopang oleh komponen investasi yang tumbuh 6,99% (yoy), jauh lebih tinggi dibandingkan triwulan I-2025 sebesar 2,12% (yoy). Lonjakan investasi terutama bersumber dari belanja modal pemerintah serta meningkatnya impor barang modal.

Dari sisi harga, inflasi terkendali pada 1,87% (yoy) di bulan Juni 2025. Inflasi inti melandai ke 2,37%, menunjukkan terbatasnya tekanan permintaan domestik. Dari sisi sektoral, industri pengolahan menjadi motor utama dengan kontribusi 18,67% terhadap PDB dan tumbuh 5,68% (yoy). 

Kinerja eksternal juga tetap kuat. Neraca perdagangan mencatatkan surplus USD 4,1 miliar pada Juni 2025, sejalan dengan ekspor yang tumbuh 11,29% (yoy). Ekspor manufaktur memberikan kontribusi signifikan dengan pertumbuhan 16,75% (yoy). 

Pasar keuangan global menunjukkan perbaikan signifikan setelah periode sebelumnya diliputi volatilitas tinggi akibat ketidakpastian kebijakan perdagangan Amerika Serikat. Indeks saham MSCI Advanced Economies dan Emerging Markets menguat masing-masing 10,96% qtq dan 11,02% qtq, seiring dengan menurunnya Volatility Index (VIX).

Pertumbuhan Positif Ekonomi Indonesia

Ekonomi Indonesia mencatatkan kinerja yang solid di tengah ketidakpastian perekonomian global yang masih berlangsung, dengan pertumbuhan PDB sebesar 5,12% yoy pada triwulan II-2025, melampaui konsensus pasar 4,8% dan meningkat dibandingkan capaian triwulan I-2025 sebesar 4,87%. 

Komponen investasi mencatatkan perbaikan yang signifikan dengan pertumbuhan 6,99% yoy (triwulan I-2025: 2,12% yoy), ditopang oleh peningkatan belanja modal pemerintah serta meningkatnya impor barang modal. Inflasi Juni 2025 tercatat sebesar 1,87% yoy relatif stabil, sementara inflasi inti terus melambat menjadi 2,37%, mengindikasikan terbatasnya tekanan permintaan. sektor ekonomi utama penggerak ekonomi mencatatkan pertumbuhan positif, dengan industri pengolahan menyumbang porsi terbesar 18,67% yang tumbuh 5,68% yoy. Dari sisi eksternal, neraca perdagangan mencatatkan surplus sebesar USD 4,1 miliar pada Juni 2025 sejalan dengan ekspor yang tumbuh solid 11,29% yoy utamanya didorong oleh sektor Industri Pengolahan yang meningkat 16,75% yoy.

Pasar Keuangan Global yang Menguat

Pada triwulan II-2025, pergerakan pasar saham dan obligasi global terpantau membaik dibandingkan periode sebelumnya. Salah satu penyebabnya adalah volatilitas di pasar keuangan global terpantau mereda setelah pada triwulan sebelumnya menghadapi volatilitas tinggi akibat ketidakpastian arah kebijakan Presiden Trump, khususnya terkait tarif perdagangan. Indeks saham MSCI Advanced Economies dan Emerging Markets menguat masing-masing sebesar 10,96% qtq dan 11,02% qtq yang disertai penurunan Volatility Index (VIX). 

Di pasar domestik, IHSG terpantau menguat sebesar 6,41% qtq, mencapai level 6.927,68. Namun, investor nonresiden masih mencatatkan net sell sebesar Rp23,65 triliun di triwulan II-2025, sedikit lebih rendah dari periode sebelumnya yang mencatatkan net sell sebesar Rp29,92 triliun.
Pasar obligasi global mencatatkan kinerja yang positif. Penurunan yield didukung oleh ekspektasi pelonggaran moneter lebih lanjut serta respons investor terhadap ketidakpastian arah fiskal AS, termasuk pemangkasan peringkat surat utang AS oleh Moody’s. Sejalan dengan pasar surat utang global EM, pasar surat utang domestik pada triwulan II-2025 juga terpantau menguat. Yield surat utang 10 tahun pemerintah Indonesia (SBN) turun 36,7 bps. Investor nonresiden mencatatkan net buy sebesar Rp8,96 triliun (triwulan I-2025: net buy Rp15,22 T).
Konsistensi Mempertahankan Resiliensi Stabilitas Sistem Keuangan (SSK) Indonesia

Pada triwulan II-2025 tetap terjaga di tengah tetap tingginya ketidakpastian global akibat kebijakan tarif resiprokal AS dan ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Kinerja intermediasi Lembaga Jasa Keuangan (LJK) masih menunjukkan pertumbuhan yang resilien, seiring dengan permodalan yang kuat, likuiditas yang mencukupi, dan profil risiko yang tetap terkendali. 

Pertumbuhan kredit perbankan mencapai 7,77% yoy, relatif turun dari posisi pertumbuhan kredit bulan Maret 2025 sebesar 9,16% (Des-24: 10,46% Jun-24: 12,36% yoy). Berdasarkan segmentasi kredit, korporasi masih mendominasi 53,05% dari total kredit, masih tumbuh double digit 10,78% meskipun mengalami moderasi dibandingkan posisi Maret-25 13,52% yoy (Des-24: 15,67%, Jun-24: 15,43 yoy). Sementara, piutang pembiayaan pada Juni 2025 juga termoderasi dengan pertumbuhan sebesar 1,96% yoy dari posisi Maret 2025 sebesar 4,60% yoy (Des-24: 6,92%, Juni-24: 10,72% yoy). Dana Pihak Ketiga (DPK) Perbankan per Juni 2025 tumbuh sebesar 6,96% yoy, meningkat dari Maret 2025 yang tercatat 4,75% yoy (Des-24: 4,48%, Juni- 24: 8,45% yoy). 

Di industri asuransi, premi bertambah sebesar Rp27,64 triliun pada Juni 2025 meningkat dibandingkan penambahan Maret 2025 Rp27,44 triliun (Des-24: Rp39,99 triliun) sehingga secara tahunan tumbuh 0,65%, picking up dari posisi Maret 2025 yang terkontraksi 0,06% (Des-24: 4,91% yoy). Apabila dirinci, pertumbuhan premi asuransi ditopang oleh premi asuransi umum dan reasuransi yang tumbuh positif 2,04% yoy (Mar-25: -3,50% yoy). Selanjutnya, penghimpunan dana di pasar modal hingga 29 Juni 2025 masih terjaga, yaitu sebesar Rp142,12 triliun, dengan emiten baru tercatat sebanyak empat belas emiten (triwulan IV-2024: 34 emiten, triwulan III-2024: 30 emiten, triwulan II-2024: 26 emiten baru). 

Dari sisi ketahanan permodalan, tingkat permodalan perbankan tercatat ample dengan Capital Adequacy Ratio (CAR) sebesar 25,81% pada Juni 2025, terpantau mengalami peningkatan stabil dari CAR Maret 2025 sebesar 25,38% (Des-24: 26,68%, Jun-24: 26,09%). Sementara, Risk-Based Capital (RBC) industri asuransi jiwa, dan asuransi umum & reasuransi posisi Juni 2025 tercatat masing-masing 473,55% dan 312,33%, relatif jauh di atas threshold 120%. Gearing ratio Perusahaan pembiayaan di bulan Juni 2025 tercatat sebesar 2,24 kali (threshold max: 10 kali), stabil dari gearing ratio bulan Maret 2025 sebesar 2,26 kali. 

Dari perspektif risiko kredit, kualitas portofolio kredit tetap terjaga dengan rasio Non-Performing Loan (NPL) net perbankan tercatat pada level 0,84% (Mar-25: 0,80%, Des-24: 0,74%).

Kinerja Perbankan tetap Terjaga Baik

Di tengah masih tingginya gejolak ketidakpastian global, kinerja perbankan pada triwulan II-2025 tetap terjaga baik tercermin dari meningkatnya fungsi intermediasi perbankan. Performa yang baik juga didukung DPK yang tumbuh sebesar 6,96% (yoy) yang diikuti dengan pertumbuhan kredit sebesar 7,77% (yoy). Secara umum ketahanan perbankan pada Juni 2025 masih terjaga serta menunjukkan kemampuan bank yang memadai dalam menyerap risiko dengan indikator CAR sebesar 25,81%. Risiko kredit juga terjaga dan melandai dengan rasio NPL gross turun 4 bps menjadi 2,22% dari 2,26% pada tahun sebelumnya, masih jauh di bawah threshold. 

Pada triwulan II-2025, OJK melaksanakan pengawasan terhadap 17 Konglomerasi Keuangan (KK) dan 118 LJK. Total Aset KK pada posisi 30 Juni 2025 mengalami peningkatan dari Rp9.861 triliun (Des-24) menjadi Rp10.192 triliun (3,25%). Peningkatan tersebut terutama karena peningkatan sumber pendanaan DPK dari Rp6.981 triliun (Des-24) menjadi Rp7.065 triliun (Jun-25) dan di sisi aset diikuti oleh peningkatan jumlah kredit/ pembiayaan yang diberikan dari Rp6.386 triliun (Des-24) menjadi Rp6.611 triliun (Jun-25).

Peningkatan Kinerja Bursa Saham Indonesia Pasar Modal dan Bursa Karbon

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada akhir triwulan II-2025 ditutup pada level 6.927,68, naik sebesar 6,41% dibandingkan triwulan sebelumnya (qtq) atau turun sebesar -1,29% dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya (yoy). Dari sisi nilai kapitalisasi pasar saham juga mengalami peningkatan baik dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar 9,46% qtq maupun dibandingkan dengan posisi akhir tahun sebelumnya sebesar 0,71% yoy Rp12.178,38 triliun. Pada triwulan II-2025, transaksi obligasi korporasi mencatatkan peningkatan pada volume, nilai, dan frekuensi transaksi masing-masing sebesar 28,97 triliun (17,93%), Rp30,76 triliun (18,83%), dan 505 kali (4,13%). Di sisi obligasi Pemerintah, juga tercatat peningkatan volume dan nilai transaksi masing-masing sebesar 76,36 triliun (2,91%) dan Rp100,23 triliun (3,88%). Namun demikian, terjadi penurunan frekuensi transaksi sebesar -18.223 kali (-8,85%). 

Sampai dengan triwulan II-2025, jumlah Single Investor Identification (SID) secara keseluruhan telah mencapai 16.997.534 atau meningkat sebesar 29,96% yoy dan 7,57% qtq. Di samping itu, terdapat 124 perusahaan yang melakukan penawaran umum, yang terdiri dari empat belas Penawaran Umum Perdana (PUP) Saham, delapan Penawaran Umum Terbatas (PUT) serta 102 Penawaran Umum Efek Bersifat Utang/Sukuk (PU EBUS) Korporasi.

Hingga triwulan II-2025, jumlah Perusahaan Tercatat di Pasar Modal mencapai 956 dengan total Emiten Baru sebanyak enam belas dimana empat belas Emiten Baru Saham dan dua Emiten Baru EBUS di OJK. 

Pada periode ini, terdapat penambahan pengguna jasa bursa karbon sebanyak dua pengguna jasa, sehingga total pengguna jasa bursa karbon telah mencapai 112 pengguna jasa (tumbuh 600% sejak IDX Carbon meluncurkan perdagangan karbon). Diantara 112 pengguna jasa bursa karbon tersebut, sebanyak 20 pengguna jasa bursa karbon (18%) adalah Emiten dan Perusahaan Publik. Pencapaian akumulasi volume perdagangan sejak awal tahun 2025 hingga akhir triwulan II-2025 adalah sebanyak 691.304 tCO2e. Capaian tersebut tercatat meningkat sebesar 67,08% dari akumulasi volume perdagangan tahun 2024 yang sebanyak 413.764 ton CO2e. Unit karbon yang sudah dilakukan retirement sejak awal tahun 2025 hingga akhir triwulan II-2025 telah mencapai 553.223 ton CO2e mengalami peningkatan sebesar 31,41% jika dibandingkan dengan tahun 2024 yang sebanyak 420.987 ton CO2e.

Industri PPDP yang Konstan Bertumbuh

Aset industri Perasuransian, Penjaminan dan Dana Pensiun (PPDP) pada triwulan II-2025 mencapai Rp2.816,02 triliun. Komposisi aset PPDP tersebut terdiri dari program pensiun sebesar Rp1.578,47 triliun (56,05%), asuransi sebesar Rp1.163,11 triliun (41,30%), perusahaan penjaminan sebesar Rp47,27 triliun (1,68%), dan jasa penunjang asuransi dan reasuransi sebesar Rp27,18 triliun (0,96%). 

Pada triwulan II-2025, aset asuransi tumbuh sebesar Rp17,48 triliun (1,53% qtq) dari Rp1.145,63 triliun menjadi Rp1.163,11 triliun. Pertumbuhan aset terjadi pada asuransi komersial sebesar Rp14,51 triliun (1,57% qtq) dan asuransi nonkomersial sebesar Rp2,97 triliun (1,35% qtq). Pendapatan premi asuransi pada triwulan II– 2025 sebesar Rp260,59 triliun. Secara yoy, pendapatan premi ini tumbuh sebesar Rp6,31 triliun (2,48% yoy) dari Rp254,28 triliun menjadi Rp260,59 triliun. 

Aset program pensiun mengalami peningkatan sebesar Rp53,55 triliun (3,51% qtq) dari Rp1.524,92 triliun menjadi Rp1.578,47 triliun. Kenaikan aset terbesar dialami oleh program pensiun wajib sebesar Rp45,24 triliun (3,96% qtq) dari Rp1.141,79 triliun menjadi Rp1.187,03 triliun. Sementara itu, aset program pensiun sukarela naik sebesar Rp8,31 triliun (2,17% qtq) dari Rp383,13 triliun menjadi Rp391,43 triliun.

Aset perusahaan penjaminan tumbuh sebesar Rp0,15 triliun (0,31% qtq) dari Rp47,12 triliun menjadi Rp47,27 triliun. Sementara itu, liabilitas perusahaan penjaminan mengalami penurunan sebesar Rp0,31 triliun (-1,10% qtq) dari Rp28,34 triliun menjadi Rp28,03 triliun dan ekuitas perusahaan penjaminan tumbuh sebesar Rp0,46 triliun (2,45% qtq) dari Rp18,78 triliun menjadi Rp19,24 triliun. 

Aset industri jasa penunjang asuransi dan reasuransi sebesar Rp25,70 triliun dan jumlah perusahaan pialang asuransi, pialang reasuransi, dan penilai kerugian asuransi sampai akhir periode triwulan II-2025 adalah 220 perusahaan. 

Pada triwulan II-2025, aset PPDP Syariah tumbuh sebesar Rp1,93 triliun (2,87%qtq) dari Rp67,42 triliun menjadi Rp69,36 triliun. Pertumbuhan aset terbesar terjadi pada perasuransian syariah sebesar Rp1,36 triliun (2,95% qtq).

Dinamika Industri PVML

Kinerja Industri Pembiayaan, Modal Ventura, Lembaga Keuangan Mikro, dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya (PVML) mengalami kontraksi pada triwulan II-2025. Hal tersebut tercermin dari penurunan total aset PVML dibanding triwulan sebelumnya sebesar 0,04% menjadi Rp1.049,56 triliun. 

Total aset, liabilitas dan ekuitas Perusahaan Pembiayaan per triwulan II-2025 mengalami penurunan dibandingkan triwulan sebelumnya,masing-masing sebesar 1,89%, 2,09%, dan 1,40%. Di sisi lain, Total aset PMV pada triwulan II-2025 turun sebesar Rp0,10 triliun atau 0,37% dibandingkan dengan triwulan sebelumnya menjadi Rp27,20 triliun. Liabilitas PMV turun sebesar Rp0,33 triliun atau 2,58% dibandingkan triwulan sebelumnya menjadi Rp12,27 triliun. Ekuitas meningkat sebesar Rp0,22 triliun atau 1,52% menjadi Rp14,93 triliun. 

Total aset LKM berdasarkan laporan periode Juni 2025 adalah sebesar Rp1.588,69 miliar dengan penyaluran pinjaman sebesar Rp1.049,64 miliar, serta simpanan sebesar Rp584,02 miliar. Pada periode laporan, total aset perusahaan pegadaian berizin tercatat naik 9,49% dari triwulan I-2025 menjadi Rp126,10 triliun. Seiring dengan kenaikan Aset tersebut, pinjaman yang disalurkan pegadaian pada triwulan II-2025 tercatat sebesar Rp105,04 triliun, atau naik 9,68% dibandingkan triwulan sebelumnya. Sementara itu, total aset peer to peer lending pada periode laporan sebesar Rp9,91 triliun dengan pinjaman outstanding mencapai Rp83,52 triliun.

Industri ITSK Semakin Beragam

Sampai dengan triwulan II-2025, penyelenggara ITSK yang terdaftar di OJK sejumlah tiga puluh penyelenggara terdiri dari sepuluh Pemeringkat Kredit Alternatif (PKA) dan dua puluh penyelenggara dengan jenis ITSK penyelenggara Agregasi Jasa Keuangan (PAJK). Sampai dengan periode triwulan II-2025, total aset penyelenggara ITSK terdaftar jenis PKA turun 3,32% dibandingkan triwulan sebelumnya menjadi Rp416,57 miliar. Berbeda dengan total aset yang mengalami penurunan, jumlah kemitraan dari PKA terdaftar mengalami kenaikan sebesar 3,11% menjadi 232 (163 LJK dan 69 lainnya) dibandingkan triwulan sebelumnya. Sedangkan total aset penyelenggara ITSK terdaftar jenis PAJK meningkat sebesar 4,52% dibandingkan triwulan sebelumnya menjadi Rp186,00 miliar. 

Pada triwulan II-2025, OJK mengeluarkan satu izin usaha untuk Pedagang Aset Keuangan Digital (PAKD) sehingga di dalam ekosistem Aset Keuangan Digital Aset Kripto saat ini terdapat dua puluh PAKD, satu penyelenggara Bursa, satu Lembaga Kliring Penjaminan dan Penyelesaian, serta satu Pengelola Tempat Penyimpanan. Berdasarkan data yang diterima OJK dari Pedagang Aset Keuangan Digital (PAKD) termasuk aset kripto, jumlah konsumen aset kripto di Indonesia pada triwulan II-2025 sebesar 15,85 juta konsumen. Selain itu, pada periode yang sama, nilai transaksi aset kripto secara akumulatif sepanjang triwulan II-2025 sebesar Rp117,52 triliun mengalami peningkatan sebesar 10,38% dibandingkan triwulan sebelumnya.

Pelaksanaan Edukasi, Literasi dan Pengaduan Konsumen

Sesuai Surat Keputusan (SK) Kepala Daerah, telah dibentuk 552 TPAKD yang terdiri dari 38 TPAKD tingkat provinsi dan 514 TPAKD tingkat kabupaten/kota. Dari jumlah tersebut, seluruh TPAKD telah melakukan pengukuhan yang terdiri dari 38 TPAKD tingkat provinsi dan 514 TPAKD tingkat kabupaten/kota. Jumlah TPAKD telah mencapai 100% di seluruh wilayah. Dengan demikian, TPAKD di setiap daerah dapat menjadi forum koordinasi dalam penyediaan produk dan layanan keuangan yang mendukung pengembangan kegiatan ekonomi masyarakat. 

OJK telah menyelenggarakan kegiatan dalam rangka meningkatkan literasi keuangan masyarakat sebanyak 2.937 kegiatan yang menjangkau 6.170.698 peserta yang terdiri dari kegiatan sosialisasi, workshop, training of community, training of trainers, konsultasi, pendampingan dan training of facilitator. Terdapat 1.779 kegiatan edukasi keuangan konvensional yang menjangkau 1.468.674 peserta, 458 kegiatan edukasi keuangan syariah yang menjangkau 4.108.378 peserta serta 700 kegiatan edukasi keuangan yang menggabungkan antara konvensional dan syariah dengan jangkauan 593.646 peserta.

Pada triwulan II-2025, OJK menerima 124.880 layanan yang terdiri dari 32.882 layanan penerimaan informasi (laporan), 80.284 layanan pemberian informasi (pertanyaan), dan 11.714 layanan pengaduan.

Penguatan Tata Kelola

Komitmen OJK dalam upaya penguatan tata kelola organisasi melalui pelaksanaan Forum Penguatan Fungsi GRC di Jakarta dengan mengusung tema “Harmoni dalam Kolaborasi untuk Penguatan Fungsi GRC di Sektor Jasa Keuangan” dihadiri oleh kurang lebih 144 orang peserta baik yang hadir secara luring dan daring dari Asosiasi Profesi/Lembaga di Bidang GRC dan Asosiasi terkait lainnya. 

Profil Risiko Jangka Menengah OJK tahun 2023-2027 terdiri dari sembilan jenis risiko, yaitu Risiko Pengawasan, Risiko Pengaturan, Risiko Pengawasan Perilaku PUJK, Edukasi dan Perlindungan Konsumen, Risiko Hukum dan Kepatuhan, Risiko Teknologi Informasi, Risiko Operasional, Risiko Reputasi, Risiko Kecurangan, dan Risiko Keuangan. Pada triwulan II-2025 telah dilakukan penetapan Profil Risiko OJK Tahun 2025 serta pelaporan risiko triwulan I-2025, melalui Rapat Dewan Komisioner.

Pada triwulan II-2025, Unit Pengendalian Gratifikasi (UPG) OJK telah menerima 48 laporan dan telah menyelesaikan analisis atas laporan tersebut. Rincian atas laporan tersebut terdiri dari tujuh laporan penolakan gratifikasi dan 41 laporan penerimaan gratifikasi (29 laporan atau sebesar 60,4% diteruskan kepada KPK dan diputuskan untuk ditetapkan menjadi milik negara; sepuluh laporan atau sebesar 20,8% diputuskan oleh OJK untuk disumbangkan kepada pihak yang berhak sebagai bantuan sosial, dikelola satuan kerja, atau menjadi milik pelapor; dan dua laporan atau sebesar 4,2% yang sebagian diputuskan OJK dan sebagian diputuskan KPK).

Dukungan Manajemen Strategis

Sampai dengan periode triwulan II- 2025, dalam rangka memberikan dukungan penegakan hukum di sektor jasa keuangan, OJK telah menerima 80 permintaan keterangan saksi dan 209 keterangan ahli, baik pada tahap penyelidikan, penyidikan, maupun persidangan. Dari total permintaan keterangan tersebut, 73 permintaan keterangan saksi dan 113 permintaan keterangan ahli telah dipenuhi. 

Mengacu pada Siklus Manajemen Strategi dan Kinerja OJK, pada triwulan II-2025, OJK telah melaksanakan melaksanakan forum Board Retreat serta Forum Strategis Anggota Dewan Komisioner dalam rangka penyusunan arah dan kebijakan strategi tahun 2026. Berdasarkan pembahasan dalam forum tersebut telah disepakati bahwa strategic high call dari arah dan kebijakan strategis OJK, yaitu (1) Menjaga Stabilitas Sektor Keuangan; (2) Mendorong Pendalaman Pasar; (3) Meningkatkan inklusi dan pelindungan konsumen/investor; (4) Memperkuat Kapabilitas Internal. 

Dalam rangka memperkuat sumber daya manusia, OJK telah melakukan rekrutmen umum dengan Program Pendidikan Calon Staf Angkatan 7 (PCS7) dan Program Pendidikan Calon Pegawai Tata Usaha Angkatan 2 (PCT2). Untuk program PCS7 telah selesai dilakukan seluruh rangkaian pendidikan sedangkan PCT2 telah dilaksanakan adalah Pendidikan Disiplin dan Karakter OJK (PENDEKAR OJK) dan kegiatan klasikal.

Laporan Kinerja OJK Triwulan II-2025 dapat diakses melalui tautan: https://www.ojk.go.id/id/data-dan-statistik/laporan-triwulanan/Pages/Laporan-Triwulan-II---2025.aspx 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Irvan Sihombing
Berita Lainnya