Headline
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
Kumpulan Berita DPR RI
MENTERI Keuangan RI Purbaya Yudhi Sadewa merespons usulan Ketua Dewan Ekonomi Nasional Luhut Binsar Pandjaitan agar pemerintah mengucurkan dana ke Indonesia Investment Authority (INA). Meski begitu, Purbaya memberi catatan penting agar dana tersebut harus benar-benar masuk ke sektor riil yang produktif, bukan sekadar ke instrumen obligasi.
"Saya enggak mau ngasih uang ke sana (INA), uangnya dibelikan bond lagi. Buat apa? Mending saya kurangin bond saya," kata Purbaya dikutip dari Antara, Jumat (17/10).
Purbaya mengatakan sebelumnya juga pernah mengkritik Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) karena terlalu menggantungkan investasi pada instrumen obligasi yang dinilai kurang produktif.
Purbaya mengingatkan, INA dan Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) sebagai sovereign wealth fund (SWF) seharusnya berperan aktif menyerap dana investasi luar negeri dan menyalurkannya ke sektor produktif.
"INA kan harusnya mengundang investor asing, kan sovereign wealth fund bukan domestik saja," jelasnya.
"Kalau dia butuh duit beneran ekspansi kebetulan ya udah kita dukung, tapi kalau masih banyak uangnya di bond, di obligasi, ngapain kita dukung?" tambahnya.
Sebelumnya, Luhut mengusulkan agar pemerintah menyalurkan Saldo Anggaran Lebih (SAL) sebesar Rp50 triliun per tahun ke INA. Dana tersebut dinilai dapat menjadi mesin penggerak pertumbuhan ekonomi nasional bersama BPI Danantara.
"Sovereign wealth fund kita ini, kalau kita tarik investasi Rp50 triliun ke situ tiap tahun, dari dana yang masih sisa di Bank Indonesia (BI), kita bisa leverage Rp1.000 triliun dalam lima tahun ke depan,” ujar Luhut dalam kegiatan '1 Tahun Prabowo-Gibran: Optimism 8 Persen Economic Growth'
Luhut juga menilai, suntikan dana ini berpotensi besar menarik arus modal asing langsung (FDI) ke Indonesia. Ia menekankan pentingnya peran sektor swasta untuk mendorong target pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 8%.
"Peranan pemerintah kan cuma 10-15% dari APBN, sisanya itu harus sektor swasta. Untuk itu, kita harus ramah dengan FDI, itu harus jalan bagus," ujarnya.
PEMERINTAH Indonesia menghentikan sementara izin operasional PT Toba Pulp Lestari (TPL) menyusul tuduhan kuat bahwa aktivitas perusahaan pulp dan kertas tersebut ikut berkontribusi pada kerusakan lingkungan dan bencana ekologis di wilayah Sumatra.
KETUA Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan kembali menegaskan bahwa dirinya tidak memiliki keterkaitan maupun kepemilikan dengan PT Toba Pulp Lestari (TPL).
KETUA Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan mengungkapkan bahwa dirinya telah menolak keberadaan PT Toba Pulp Lestari sejak lebih dari 20 tahun lalu.
Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan membantah tuduhan yang mengaitkannya dengan kepemilikan perusahaan Toba Pulp Lestari (TPL).
Luhut Binsar Pandjaitan menjelaskan sejarah pembangunan kawasan industri Morowali dimulai pada era Presiden SBY.
KETUA Dewan Ekonomi Nasional Luhut Binsar Pandjaitan mengklaim proyek Kereta Cepat Jakarta–Bandung (KCJB) atau Woosh sudah mampu
Lembaga Pengelola Investasi atau Indonesia Investment Authority (INA) berhasil menarik Foreign Direct Investment (FDI) sebesar Rp13,8 triliun di 2024.
PT Hutama Karya (Persero) resmi melepas dua ruas Jalan Tol Trans Sumatra yakni (JTTS) Tol Medan–Binjai dan Bakauheni–Terbanggi Besar kepada Indonesia Investment Authority (INA).
Menurut Menkeu, transaksi divestasi yang dilakukan Indonesia Investment Authority (INA) dan anak usaha Waskita Karya menjadi suatu hal yang bersejarah.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved