Headline
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Kumpulan Berita DPR RI
PENGAMAT Ekonomi Energi Universitas Gadjah Mada (UGM) Fahmy Radhi menduga batalnya sejumlah SPBU swasta membeli BBM dari Pertamina tidak hanya masalah kandungan etanol. Namun bisa juga terkait kesepakatan harga.
Fahmy pun menilai pembelian BBM lewat Pertamina untuk SPBU swasta sulit dilakukan.
"Dari awal saya mengatakan apa yang disampaikan Bahlil (Menteri ESDM Bahlil Lahadalia) bahwa sudah ada kesepakatan antara SPBU swasta untuk membeli BBM di Pertamina, menurut saya itu sangat sulit. Jadi, apa yang disampaikan oleh Bahlil itu hanya klaim belaka. Kenyataannya itu tidak terjadi," ungkapnya saat dihubungi, Kamis (2/9).
"Yang cukup membuat signifikan menurut saya adalah harga jual yang ditetapkan oleh Pertamina. Pertamina sebagai badan usaha atau entitas bisnis tentunya akan mengambil margin dalam menjual BBM ke SPBU swasta. Bahkan sudah berani melakukan impor, kalau nggak salah 100 ribu barel dan itu belum terserap juga. Ini saya kira akan terjadi terus kalau dipaksakan oleh Bahlil pada SPBU swasta," jelasnya.
Ia memaparkan alasan perihal harga juga bisa memengaruhi kesepakatan. Pasalnya sesungguhnya bisnis SPBU itu memiliki margin keuntungan yang kecil sekali. Karena itu, berbagai strategi itu dilakukan untuk menekan ongkos produksi.
"Yang selama ini dilakukan oleh SPBU swasta, dia menetapkan semacam portfolio yang pengadaannya itu bisa dari beberapa sumber. Sehingga ketemulah harga yang paling murah. Nah, itulah digunakan untuk bersaing dengan Pertamina. Meskipun harganya pasti lebih mahal, tapi kualitasnya lebih baik, servisnya lebih baik," ungkapnya.
Fahmy menyampaikan bahwa pemerintah mesti memerhatikan keberlangsungan SPBU swasta. Jangan sampai kebijakan pemerintah malah mematikan pasar mereka.
"Kan awalnya mereka diundang untuk investasi Indonesia karena ada kebebasan, ada liberalisasi untuk membeli dari manapun terserah. Kemudian kebebasan dalam menerapkan harga sesuai dengan mekanisme pasar, kebebasan untuk mendirikan SPBU di kota-kota besar, seperti yang mereka inginkan," papar Fahmy.
"Kalau tiba-tiba kemudian di regulasi ada semacam pembatasan bahwa dia belinya hanya dari Pertamina. Ini saya kira tidak sesuai dengan kondisi SPBU swasta yang tadi menghendaki kebebasan tadi," jelasnya.
Untuk itu, kata Fahmy, solusinya yang paling baik itu adalah mengembalikan regulasi izin impor untuk satu tahun.
"Jangan kemudian diubah menjadi enam bulan. Menurut saya, itu penyebab utama dari kelangkaan SBPU di swasta. Dia belum sempat impor, persediaannya sudah habis. Maka terjadilah kelangkaan," jelasnya.
Kemudian yang kedua, batalkan kebijakan impor satu pintu lewat Pertamina. Dari kedua hal itu Fahmy menduga seolah-olah kelangkaan itu dibuat oleh regulasi pemerintah.
"Setelah mereka langka, dipaksa membeli ke impor Pertamina. Yang sesungguhnya itu mengarah pada monopoli," pungkasnya. (E-4)
ANGGOTA Komisi XII DPR RI Fraksi Partai Golkar, Yulisman, menegaskan bahwa isu kelangkaan BBM nonsubsidi di sejumlah SPBU swasta tidak boleh menimbulkan kegaduhan publik.
MENTERI Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menanggapi terkait dua perusahaan swasta, yakni SPBU Vivo dan BP-AKR, membatalkan rencana pembelian base fuel dari Pertamina.
PT Shell Indonesia akhirnya mencapai kesepakatan dengan PT Pertamina Patra Niaga untuk membeli 100 ribu barel bahan bakar minyak (BBM)
Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) BP-AKR dan Vivo telah kembali menyediakan stok Bahan Bakar Minyak (BBM), utamanya untuk BBM dengan Ron 92.
Pemerintah memastikan stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) asing tidak akan hengkang dari Indonesia di tengah isu kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) swasta.
SEJUMLAH negara di dunia semakin agresif mendorong penggunaan etanol sebagai campuran bahan bakar minyak (BBM) untuk menekan emisi karbon dari sektor transportasi.
PT Pertamina (Persero) menegaskan bahwa mereka tidak mengambil keuntungan dari kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) yang saat ini dialami oleh sejumlah SPBU milik swasta.
KEMENTERIAN Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menegaskan kerja sama antara Pertamina dan pihak swasta dalam penyediaan bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi akan terus berjalan tahun ini.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved