Headline

Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.

Garuda Indonesia harus Pangkas Beban dan Fokus Ekspansi

Andhika Prasetyo
23/9/2025 10:24
Garuda Indonesia harus Pangkas Beban dan Fokus Ekspansi
Ilustrasi(Antara)

Anggota Komisi VI DPR RI, Asep Wahyuwijaya, menyoroti tantangan besar yang dihadapi PT Garuda Indonesia sebagai maskapai nasional. Menurut Asep, ekosistem bisnis penerbangan sudah sangat kompetitif dan bagi maskapai sendiri bebannya amat berat.

“Kalau soal bisnis dan maintenance, bisnis kebandaraan relatif oke. Tetapi bagi perusahaan jasa penerbangan yang mengelola dan memiliki maskapai, untuk mencapai profit dua digitnya saja pasti sulit, apalagi ketika dihadapkan dengan persaingan yang ketat dan bebannya yang sangat banyak,” ungkap Asep dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi VI DPR bersama jajaran direksi PT Garuda Indonesia, PT Angkasa Pura, dan PT Integrasi Aviasi Solusi di Kompleks DPR RI, Senayan, Jakarta, Senin (22/9). 

Meski demikian, Asep menilai Garuda masih memiliki potensi besar untuk tumbuh, terutama di sektor penerbangan domestik mengingat Indonesia merupakan negara kepulauan. Ia bahkan membandingkan dengan maskapai dari negara yang secara luasan jauh lebih kecil seperti Emirates, Etihad, hingga Qatar Airways namun mampu mencetak keuntungan signifikan.

Legislator NasDem dari Dapil Jabar V (Kabupaten Bogor) ini juga mempertanyakan keterbatasan Garuda dalam menjangkau daerah pelosok. Komitmen untuk memberikan jasa layanan penerbangan hingga seluruh pelosok nusantara adalah keniscayaan yang harus dilakukan oleh PT Garuda Indonesia agar klaimnya sebagai maskapai penerbangan nasional kebanggaan semakin kuat legitimasinya. 

“Garuda sebagai maskapai nasional milik negara, kenapa tidak lebih banyak hadir di pelosok? Apakah itu akan dibebankan kepada Citilink? Tentu itu soal lain, tapi saya kira melakukan ekspansi bisnis dengan memaksimalkan rute domestik ini harus sudah mulai dipikirkan dan dilakukan karena Garuda dan Citilink kan maskapai penerbangan milik bangsa yang berada dalam satu manajemen grup yang sama,” urainya.

Agar kondisi finansialnya menjadi sehat, lulusan Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran ini mendorong manajemen Garuda untuk melakukan pembenahan secara menyeluruh, termasuk memangkas beban operasional warisan masa lalu, seperti banyaknya anak dan cucu perusahaan yang keberadaannya berpotensi membebani.

“Kita semua paham kalau kondisi keuangan Garuda saat ini secara fundamental sedang tidak baik-baik saja. Saya kira manajemen Garuda pun mestinya harus sudah menyisir dimana saja beban operasional dan finansial itu terjadi. Beban operasional yang menggerus kondisi keuangan secara terus-menerus muncul jangan sampai dibiarkan. Jangan sampai menjadi benalu atau kanker. Lakukan amputasi dan potong saja jika hal itu ada. Anak dan cucu perusahaan yang jika saat ini menjadi beban, saya kira segera hilangkan dan bubarkan saja,” tegasnya.

Pria yang akrab disapa Kang AW ini juga menekankan perlunya transformasi tata kelola dan budaya kerja di tubuh Garuda. 

“Garuda jangan sampai menyia-nyiakan perhatian banyak pihak dan kesempatan bisnis yang masih bisa dilakukan. Pihak Garuda sendiri yang harus sigap dalam meresponnya dengan melakukan upaya transformasi di internal perusahaandengan sungguh-sungguh”, tukasnya. 

Dengan perhatian yang hingga saat ini sudah diberikan banyak pihak kepada PT Garuda Indonesia (Tbk), tambah Kang AW, mestinya Garuda bisa memanfaatkan kesempatan ini dengan memaksimalkan posisinya sebaik mungkin agar menjadi entitas usaha penerbangan milik bangsa yang dapat dibanggakan. 

"Saya khawatir jika Garuda tak bisa memanfaatkan kesempatan baik ini dengan benar, nasibnya bisa jadi malah berakhir buruk”, pungkasnya.(E-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Andhika
Berita Lainnya