Headline
RI tetap komitmen perjuangkan kemerdekaan Palestina.
RI tetap komitmen perjuangkan kemerdekaan Palestina.
Kumpulan Berita DPR RI
TRANSISI energi menuju net zero emission (NZE) pada tahun 2060 merupakan tantangan besar bagi Indonesia, yang masih bergantung pada energi fosil.
Saat ini, industri migas masih berkontribusi signifikan dalam pemenuhan kebutuhan energi. Apalagi, gas memegang peran penting sebagai sumber energi transisi dengan kandungan emisi karbon lebih rendah. Teknologi Carbon Capture Storage/Carbon Capture Utilization and Storage (CCS/CCUS) menjadi penting di masa ini karena dapat mendukung pengurangan emisi pada berbagai sektor industri.
Badan Kejuruan Kimia Persatuan Insinyur Indonesia (BKK PII) kembali menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD) sebagai bagian dari rangkaian Annual Meeting BKK PII 2025 di Jakarta pada Jumat, (2/5) . FGD kedua ini mengusung tema: “Implementasi Teknologi CCU/CCS/CCUS untuk Industri Migas yang Berkelanjutan di Indonesia.”
FGD ini menjadi forum lanjutan dari diskusi sebelumnya dan mempertemukan para pemangku kepentingan dari sektor pemerintah, industri, akademisi, hingga asosiasi profesi teknik untuk membahas strategi penerapan teknologi Carbon Capture Utilization (CCU), Carbon Capture and Storage (CCS), dan Carbon Capture, Utilization, and Storage (CCUS) dalam mempercepat dekarbonisasi sektor energi nasional.
Dalam sambutannya, Ketua Departemen Teknik Kimia Universitas Indonesia, Dr. Bambang Heru Susanto, S.T., M.T., menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari lima rangkaian FGD menuju acara puncak Annual Meeting BKK PII 2025 yang akan digelar pada 25–27 September 2025 di Balai Purnomo, Universitas Indonesia, Depok.
Sementara itu, Dewan Penasehat Panitia AM BKK PII 2025 sekaligus Direktur Manajemen Risiko PT Pertamina Hulu Energi, Mery Luciawaty, S.T., M.M., M.Eng., menekankan pentingnya sinergi lintas sektor dalam menghadapi tantangan adopsi teknologi dekarbonisasi.
“Indonesia memiliki potensi strategis untuk menjadi pusat CCS di Asia Tenggara. Namun, biaya investasi yang tinggi memerlukan dukungan kebijakan yang kuat, regulasi yang proaktif, dan kerja sama yang erat antar pemangku kepentingan,” ujar Mery.
Diskusi sesi pertama membahas aspek kebijakan, regulasi, dan kolaborasi multi-sektor untuk mendukung implementasi teknologi CCU/CCS/CCUS. Narasumber terdiri dari Deputi Penanganan Perubahan Iklim dan Nilai Ekonomi Karbon KLHK, Kementerian ESDM, CoE CCS/CCUS & Komisaris Utama PT Kilang Pertamina Internasional, Executive Director Indonesian CCS Center (ICSSSC), serta perwakilan SKK Migas.
Sementara, sesi kedua memaparkan perkembangan teknologi dan studi kasus penerapan CCS/CCUS di lapangan, dengan kontribusi dari ExxonMobil Low Carbon Solutions Indonesia Ltd, PT Energi Mega Persada, serta PT Pertamina Hulu Energi.
Salah satu inovasi yang disorot adalah teknologi Carbon Capture Utilization (CCU) dari PT Algatek Karbon Nusantara (A Zekindo Companies) pada sesi II, yang memungkinkan penangkapan CO2 hasil proses industri menjadi biomassa bernilai ekonomi, memperkuat langkah menuju ekonomi karbon sirkular, juga sebagai alternatif transisi dari upaya dekarbonisasi.
FGD ini bertujuan merumuskan rekomendasi strategis guna memperkuat kebijakan, mendorong percepatan teknologi CCU/CCS/CCUS, serta membangun ekosistem kolaboratif yang mendukung transisi energi nasional.
Dengan sinergi antara pemerintah, industri, akademisi, dan komunitas profesi, Indonesia berada pada posisi yang strategis untuk menjadi pemimpin regional dalam teknologi dekarbonisasi dan mewujudkan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan serta rendah emisi karbon. (H-2)
Pada proyek dekarbonisasi ini, jelasnya, Petrokimia Gresik menggunakan teknologi CCU yang telah terbukti mempercepat penurunan emisi karbon industri.
Teknologi Wet Gas Sulphuric Acid (WSA) mampu mengubah gas buang dari proses kilang—yang mengandung acid gas—menjadi produk asam sulfat bernilai tinggi.
Dukungan terhadap pengembangan bisnis pengangkutan karbon menjadi fokus utama dalam forum internasional The 5th Asia CCUS Network Forum di Jakarta.
Pakar ekonomi dan lingkungan IPB University Eka Intan Kumala Putri menilai positif upaya Pertamina mereduksi lebih dari 1 juta ton equivalen emisi karbon pada semester I 2025.
Indonesia diproyeksikan mampu menyerap emisi CO2 lebih dari 100 juta ton per tahun melalui CCS di sektor energi dan industri pada pertengahan abad ini.
PT Pertamina Hulu Energi menegaskan komitmennya mendukung target pemerintah Indonesia mencapai Net Zero Emission (NZE) 2060.
MENURUT Journal of Cleaner Production (2023), pelatihan profesional yang terstruktur di bidang berkelanjutan dapat meningkatkan efektivitas strategi dekarbonisasi perusahaan hingga 40%.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved