Headline
Pelaku usaha menagih penyederhanaan regulasi dan kepastian kebijakan dari pemerintah.
Pelaku usaha menagih penyederhanaan regulasi dan kepastian kebijakan dari pemerintah.
Kumpulan Berita DPR RI
KEKHAWATIRAN pemerintah akan ancaman menjadi negara yang gagal naik kelas dinilai rasional. Pasalnya, ketidakpastian ekonomi global telah memberi dampak signifikan pada kemampuan ekonomi negara-negara berkembang untuk melesat.
"Memang kekhawatiran ini menjadi beralasan, karena pertumbuhan ekonomi yang susah tumbuh di atas 5% dalam satu dekade terakhir," ujar periset Center of Reform on Economic (CoRE) Indonesia Yusuf Rendy Manilet saat dihubungi, Jumat (4/10).
Hal itu disampaikannya untuk merespons Wakil Menteri Keuangan II Thomas Djiwandono yang menyebut 108 negara berkembang terancam gagal naik kelas.
Baca juga : Banggar dan Pemerintah Sepakati Asumsi Makro untuk RAPBN dan RKP 2025
"Sekitar 108 negara berpotensi gagal bertransisi menuju negara-negara berpenghasilan tinggi jika mereka tidak dapat merancang strategi yang tepat untuk mereformasi ekonomi mereka dan meningkatkan produktivitas mereka sebelum populasi mereka mulai menua," ujar Thomas.
Menurut Yusuf, kendati telah berada di level negara berpendapatan menengah-atas, Indonesia masih berada di tahap awal. Tingkat pendapatan per kapita Indonesia saat ini masih berada di rentang US$3.896 hingga US$12.055.
Setidaknya Indonesia masih membutuhkan penambahan pendapatan per kapita sekitar US$8.000 untuk mencapai level tertinggi pada golongan negara berpendapatan menengah-atas. Namun hal itu tak mudah lantaran dalam satu dekade terakhir pertumbuhan ekonomi Indonesia mandek di kisaran 5%.
Baca juga : Bappenas: Dunia Meyakini Ekonomi Indonesia Kuat di Tahun Ini
"Hitungan sederhana kami, untuk bisa naik kelas ke high income countries, Indonesia membutuhkan pertumbuhan ekonomi rata-rata 7% sampai dengan tahun 2038," tutur Yusuf.
Sejauh ini, belum ada upaya signifikan yang dianggap bisa membawa pertumbuhan ekonomi ke level itu. Upaya penghiliran industri yang dilakukan disebut masih cukup terbatas.
Meski tampak gencar melakukan hilirisasi, kata Yusuf, sektor industri manufaktur Indonesia justru konsisten mengalami penurunan dalam satu dekade terakhir.
Baca juga : Indonesia Diyakini Lolos Middle Income Trap di 2036
"Kita tahu bersama kondisi industri manufaktur di Indonesia tidak begitu baik, dilihat dari proporsi sektor industri manufaktur yang mengalami penurunan dalam 10 tahun terakhir terhadap PDB," jelasnya.
Kondisi domestik itu disebut menjadi rintangan tambahan dari situasi ekonomi global yang belum suportif. Konflik geopolitik, utamanya di Timur Tengah justru kian memanas dalam tiga tahun terakhir.
Belum lagi ekonomi Tiongkok yang belum menunjukkan perbaikan. "Tentu akan memengaruhi perkembangan ekonomi negara-negara emerging market seperti Indonesia sehingga ketika ekspor dan juga harga komoditas mengalami perlambatan, ini sedikit banyak juga akan ikut memengaruhi performa dari perekonomian Indonesia," pungkas Yusuf. (E-2)
Pelajari cara menghitung pertumbuhan ekonomi suatu negara dengan rumus PDB riil. Panduan lengkap beserta indikator dan contoh penghitungan mudah.
Transisi menuju ekonomi sirkular dinilai penting untuk mendukung pertumbuhan yang inklusif, meningkatkan daya saing nasional, serta membantu pencapaian target Net Zero Emissions 2060.
Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Anindya Novyan Bakrie usai acara menegaskan, fundamental ekonomi Indonesia tetap kokoh di tengah dinamika global.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan pemerintah tidak akan mengubah batas defisit anggaran sebesar 3 persen, meskipun menargetkan pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi.
Presiden RI Prabowo Subianto mengungkapkan kekhawatirannya terhadap adanya pihak-pihak tertentu yang dinilai berupaya melemahkan Indonesia dan menghambat langkah bangsa.
INDEF nilai Ramadan dan Idul Fitri 2026 bisa dorong ekonomi kuartal I-II lewat sektor pangan, transportasi, dan logistik, didukung stimulus pemerintah.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved