Headline
Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.
Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.
Kumpulan Berita DPR RI
MENTERI Keuangan Sri Mulyani menyoroti harga sejumlah bahan pangan yang selama ini masih mengalami kenaikan. Menurutnya, hal itu dapat menekan daya beli masyarakat dan membuat laju pertumbuhan ekonomi tersendat.
“Ini dalam situasi pasca Idul fitri dan menjelang Idul Adha pada Juni nanti. Dan ini tentu akan menyebabkan tekanan kepada daya beli masyarakat,” ujarnya dalam konferensi pers APBN di kantornya, Jakarta, Senin (27/5).
Hingga April 2024, tingkat inflasi umum tercatat 3,0%. Angka itu menurut Sri Mulyani masih relatif terkendali dan berada dalam rentang sasaran target. Namun berdasarkan komponennya, inflasi harga/pangan bergejolak (volatile price/food) tercatat di angka 9,6%.
Baca juga : Inflasi Pangan Bergejolak, Menkeu: Fokus Pemerintah Jaga Daya Beli
Kendati mengalami penurunan dari bulan sebelumnya yang berada di angka 10,3%, perempuan yang karib disapa Ani tersebut menekankan kenaikan harga pangan akan berdampak signifikan pada masyarakat.
Beberapa bahan pangan yang mengalami kenaikan, di antaranya ialah bawang merah naik 29,9% dalam tahun berjalan (year to date/ytd), bawang putih naik 12,9% (ytd), telur ayam naik 8,1% (ytd), gula pasir naik 6,1% (ytd).
Kemudian daging ayam naik 6,5% (ytd), minyak goreng naik 5,4% (ytd), dan daging sapi naik 0,2% (ytd). Sementara hanya cabai rawit dan cabai merah yang mengalami penurunan harga, yakni masing-masing turun 43,6% (ytd) dan 18,2% (ytd).
Baca juga : Pengamat: Ramadan Dorong Daya Beli meski Harga Pangan Tinggi
Adapun harga beras tercatat mengalami kenaikan harga 2,6% (ytd). Sri Mulyani mengatakan, harga dari komoditas itu telah menunjukkan penurunan setelah sebelumnya sempat mengalami kenaikan. “Harga beras yang kemarin sempat menjadi sorotan sudah cenderung mengalami penurunan. Secara year to date kenaikannya 2,6%,” jelasnya.
“Ini adalah upaya pemerintah di satu sisi, bahwa mencoba menjaga daya beli dari sisi stabilitas harga, namun tekanan terhadap harga beberapa bahan makanan perlu kita waspadai. Ini tentu akan memengaruhi dari sisi konsumsi rumah tangga,” tambah Sri Mulyani.
Sementara itu tingkat inflasi inti tercatat dalam posisi yang terkelola dengan baik, yakni di angka 1,82%. Sedangkan tingkat inflasi harga diatur pemerintah (administered price) terjaga di level yang rendah, yakni 1,54%. (Mir/Z-7)
Salah satu media daring yang berfokus pada pemberitaan agribisnis, yakni Panen News merayakan hari jadinya yang ke-6 dengan menggelar Panen Fest 2026 di Lapangan Banteng, Jakarta Pusat.
Peneliti ungkap Suku Asli Amerika telah menyebarkan kentang liar melintasi wilayah Four Corners sejak 10.000 tahun silam, jauh sebelum era pertanian dimulai.
Pemprov DKI mengalokasikan Rp6,4 triliun untuk subsidi transportasi, air, dan pangan pada 2025 demi menjaga daya beli warga.
Guru Besar Institut Pertanian Bogor (IPB), Dwi Andreas Santosa, mengingatkan pemerintah, dalam hal ini Kementerian Pertanian, untuk berhati-hati dalam menyusun tata kelola pangan 2026.
Dalam konsep piramida gizi seimbang, susu hanyalah salah satu opsi dari kelompok sumber protein.
Keberhasilan ini kian lengkap dengan torehan sejarah pada cadangan beras pemerintah yang kini menyentuh level tertinggi sejak Indonesia merdeka.
Pemerintah mengalokasikan anggaran sebesar Rp911,16 miliar untuk memberikan diskon transportasi selama periode mudik Lebaran 2026.
Indef menilai outlook negatif Moody’s mencerminkan kenaikan persepsi risiko, bukan pelemahan fundamental, sehingga menekan kepercayaan investor.
TRANSFORMASI sektor manufaktur, khususnya manufaktur padat karya, menjadi kunci utama untuk mendorong akselerasi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026.
Pemerintah menegaskan komitmen untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional yang berkelanjutan.
Dari sisi pengeluaran, perekonomian Jakarta masih ditopang oleh konsumsi rumah tangga dengan kontribusi 62,80%, diikuti Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) sebesar 33,79%.
Secara tahunan, ekonomi DIY tumbuh sebesar 5,94% (year-on-year/yoy) dibandingkan triwulan IV-2024.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved