NILAI tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada akhir pekan merosot seiring dengan kemungkinan penaikan suku bunga bank sentral AS The Fed. Kurs rupiah pada Jumat ditutup melemah 51 poin atau 0,34% ke posisi 15.210 per dolar AS dibandingkan posisi pada penutupan perdagangan sebelumnya 15.159 per dolar AS.
"Rupiah tertekan oleh dolar AS yang kembali menguat setelah data Producer Price Index (Indeks Harga Produsen) AS lebih tinggi dari perkiraan," kata Analis DCFX Futures Lukman Leong saat dihubungi di Jakarta. Dolar AS juga menguat setelah ada pernyataan hawkish dari Presiden Fed St Louis Fed Bullard terkait kemungkinan penaikan 50 basis poin (bps) pada pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) berikutnya.
Dolar melonjak mencapai level tertinggi enam minggu terhadap sekeranjang mata uang di sesi Asia pada Jumat sore. Ini karena serangkaian data ekonomi yang tangguh dari Amerika Serikat meningkatkan ekspektasi pasar bahwa lebih banyak penaikan suku bunga akan segera terjadi.
Departemen Tenaga Kerja AS melaporkan bahwa indeks harga produsen AS untuk permintaan akhir rebound 0,7% pada Januari. Ini kenaikan terbesar sejak Juni, setelah turun 0,2% pada Desember.
Selain itu, klaim pengangguran awal AS turun 1.000 menjadi 194.000 dalam pekan yang berakhir 11 Februari. Pasar sekarang memperkirakan suku bunga AS mencapai puncaknya di 5,28% pada Juli dan tetap di atas 5,0% hingga akhir tahun.
Lukman menuturkan rupiah berpotensi melemah walau didukung oleh beberapa data ekonomi domestik yang kuat akhir-akhir ini seperti perekonomian Indonesia pada 2022 yang berhasil tumbuh 5,31% dibanding tahun sebelumnya (year-on-year/yoy). Inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) menurun secara tahunan menjadi 5,28% year on year (yoy) pada Januari 2023 dari 5,51% yoy pada Desember 2022.
Di samping itu, Bank Indonesia (BI) mempertahankan suku bunga acuannya atau BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) sebesar 5,75%. Ini dinilai memadai untuk menekan inflasi, sehingga tidak perlu ada penaikan. BI memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2023 akan cenderung tumbuh lebih tinggi atau bias ke atas dalam kisaran 4,5%-5,3%, didorong kenaikan ekspor dan semakin membaiknya permintaan domestik, khususnya konsumsi swasta.
Rupiah pada pagi hari dibuka menurun ke posisi 15.187 per dolar AS. Sepanjang hari rupiah bergerak di kisaran 15.179 per dolar AS hingga 15.224 per dolar AS. Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia pada Jumat melemah ke posisi 15.199 per dolar AS dibandingkan posisi sebelumnya 15.176 per dolar AS. (Ant/OL-14)