Headline
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Kumpulan Berita DPR RI
DIREKTUR Utama Bank Mandiri Darmawan Junaidi mengungkapkan, kondisi likuiditas dan fungsi intermediasi perbankan domestik saat ini berada dalam kondisi yang terbilang baik. Hal itu menurutnya tak terlepas dari ragam kebijakan yang dikeluarkan Bank Indonesia menghadapi situasi saat ini.
"Kondisi likuiditas dan fungsi intermediasi perbankan domestik saat ini masih baik," ujarnya saat memberikan sambutan dalam Market and Investment Outlook 2022 bertema Indonesia's Strategy to Mitigate Global Inflation Risk, Kamis (25/8).
Merujuk data BI, rasio Alat Likuid terhadap Dana Pihak Ketiga (AL/DPK) masih tinggi mencapai 27,92% dan mendukung kemampuan perbankan dalam penyaluran kredit.
Sedangkan intermediasi perbankan juga tergolong cukup baik lantaran per Juli 2022 pertumbuhan kredit tercatat sebesar 10,71% (yoy), ditopang oleh peningkatan di seluruh jenis kredit dan pada sebagian besar sektor ekonomi.
Selain itu, suku bunga perbankan masih dalam tren menurun, meski dengan besaran yang semakin terbatas. Di pasar dana, suku bunga deposito 1 bulan perbankan turun sebesar 54 bps sejak Juli 2021 menjadi 2,89 % pada Juli 2022. Sedangkan di pasar kredit, suku bunga kredit menunjukkan penurunan 53 bps pada periode yang sama menjadi 8,94%.
Namun Darmawan mengatakan, kebijakan penaikan Giro Wajib Minimum (GWM) bertahap yang dilakukan BI perlu untuk dicermati dalam beberapa bulan ke depan. "Kita perlu waspada terkait peningkatan GWM BI pada bulan September 2022 ini," ujarnya.
GWM merupakan dana atau simpanan minimum yang harus disetorkan bank kepada BI dalam bentuk saldo rekening giro. Pada 1 September nanti, BI akan kembali menaikkan GWM bank umum konvensional ke level 9% dan 7,5% untuk bank umum syariah.
Tingkat GWM yang tinggi dikhawatirkan bakal mengganggu kemampuan perbankan untuk menyalurkan kredit lantaran mesti menyetor dana ke bank sentral. Namun BI menegaskan kenaikan GWM tak akan mengganggu kemampuan dan fungsi perbankan.
Darmawan menambahkan, kondisi perekonomian ke depan juga akan dipengaruhi oleh kebijakan-kebijakan moneter yang diambil oleh BI. Dia mengapresiasi keputusan bank sentral untuk menaikan tingkat suku bunga acuan menjadi 3,75% sebagai bentuk antisipasi lonjakan inflasi.
Sebab saat ini yang menjadi perhatian ialah mengenai kondisi lonjakan inflasi dunia. Dikhawatirkan hal itu akan merembes ke tingkat inflasi di dalam negeri dan mengganggu laju pemulihan ekonomi. BI, kata Darmawan, memproyeksikan tingkat inflasi hingga akhir tahun 2022 akan berada di level 5,24% dengan inflasi inti di level 4,15%.
Namun BI juga memperkirakan peningkatan laju inflasi sampai akhir 2022 bersifat temporer dan akan kembali ke level normal pada 2023. "Kebijakan moneter dan peningkatan suku bunga acuan yang telah diputuskan perlu kita cermati sebagai keputusan strategis untuk menjaga momentum pemulihan ekonomi Indonesia pascapandemi covid-19 agar bisa pulih lebih cepat, bangkit lebih kuat," pungkasnya. (OL-8)
Pertumbuhan ini menempatkan BEI sebagai salah satu bursa dengan likuiditas tertinggi di kawasan Asia Tenggara.
PT Bank Tabungan Negara (BTN) optimistis penempatan dana Rp25 triliun dari pemerintah akan sepenuhnya tersalurkan paling lambat pada Desember 2025.
Untuk mendorong sisi permintaan, lanjut Airlangga, pemerintah akan terus memperbaiki iklim investasi melalui melalui deregulasi.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa optimistis pertumbuhan ekonomi nasional bisa tembus 8% jika digerakkan bersama oleh mesin negara dan swasta.
Rencana pemerintah menyalurkan dana Rp200 triliun dari Saldo Anggaran Lebih (SAL) ke perbankan berpotensi menghadirkan risiko baru. Meski langkah ini dapat memperkuat likuiditas.
BRI catat efisiensi pendanaan lewat strategi CASA, BRImo, dan AgenBRILink, himpun DPK Rp1.421 triliun di Kuartal I 2025. Cost of fund turun jadi 3,5%.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved