Jumat 15 Juli 2022, 19:31 WIB

Ekonom: Indonesia Antisipatif Tekan Kemiskinan

M. Ilham Ramadhan Avisena | Ekonomi
Ekonom: Indonesia Antisipatif Tekan Kemiskinan

ANTARA
Ilustrasi

 

PANDEMI covid-19 dan konflik geopolitik Rusia-Ukraina berimbas pada naiknya tingkat kemiskinan. Itu disebabkan oleh naiknya sejumlah harga komoditas global yang berdampak pada pelemahan daya beli masyarakat. 

Bahkan, sejumlah negara yang sebelumnya telah berhasil menekan tingkat kemiskinan, kini kembali mengalami penambahan jumlah penduduk miskin. Indonesia dinilai cukup baik mengantisipasi dan mengatasi persoalan tersebut. 

Baca juga: Menkeu: Dunia Semakin Terancam Kerawanan Pangan dan Krisis Energi

"Indonesia perlu menyikapi kondisi global itu dengan menjaga daya beli, yang mana sudah dilakukan pemerintah dengan menambah subisidi kepada masyarakat miskin dan rentan," ujar Ekonom Makroekonomi dan pasar Keuangan LPEM UI Teuku Riefky saat dihubungi, Jumat (15/7).

Menurutnya, upaya untuk menjaga daya beli masyarakat itu mesti menjadi prioritas utama dalam jangka pendek. Sebab, saat ini kondisi dunia berada di bawah bayangan krisis energi dan pangan, bahkan sejumlah negara terancam oleh resesi ekonomi.

Dalam jangka menengah, untuk menjaga tingkat kemiskinan di Tanah Air, kata Riefky, pemerintah mesti bisa mendorong pembukaan lapangan kerja secara luas. Upaya-upaya perbaikan regulasi untuk menciptakan lapangan kerja ini menurutnya juga sudah dilakukan pemerintah. 

Hal tersebut diharapkan dapat menjaga atau bahkan menurunkan jumlah penduduk miskin di Indonesia. "Karena memang kemiskinan ini berkaitan juga dengan pengangguran," kata Riefky. 

Sedangkan dalam jangka panjang, pemerintah perlu mendorong peningkatan produktivitas ekonomi. Dalam hal ini, imbuh Riefky, perbaikan serta peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) menjadi penting. Ini dapat dilakukan melalui jalur pendidikan, pelatihan, dan pendampingan. 

Guna mencapai hal itu, maka diperlukan pula infrastruktur yang andal dan memadai. Terutama pengembangan dan pemanfaatan infrastruktur digital di Tanah Air. "Ini perlu terus ditunjang agar aksesibilitas dan konektivitas bisa meningkat sehingga masyarakat di daerah remote bisa ikut meningkatkan produktivitasnya," jelas Riefky. 

Aspek yang tak kalah penting untuk menjaga angka kemiskinan tetap rendah ialah menciptakan nilai tambah pada produk dalam negeri. Hal ini utamanya diarahkan pada sektor manufaktur yang sedianya menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar. 

Adanya nilai tambah pada produk manufaktur diyakini akan menambah jumlah pendapatan masyarakat yang bekerja di sektor pengolahan tersebut. (OL-6)

Baca Juga

ANTARA FOTO/Arif Firmansyah

Pembatasan Konsumsi BBM Bersubsidi Dinilai Lebih Tepat

👤M. Ilham Ramadhan Avisena 🕔Jumat 19 Agustus 2022, 20:40 WIB
Fahmy menambahkan, beban subsidi energi pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) memang sudah terlampau...
Dok.super indo

Dukung Digitalisasi, Super Indo Hadirkan Aplikasi Belanja Online

👤Mediaindonesia.com 🕔Jumat 19 Agustus 2022, 18:20 WIB
Aplikasi itu diharap bisa membantu pelanggan untuk mendapatkan produk segar berkualitas dengan lebih mudah dan...
Antara

Stok Beras dan Jagung Melimpah, Bulog: Ketahanan Pangan Aman

👤M. Ilham Ramadhan Avisena 🕔Jumat 19 Agustus 2022, 18:00 WIB
Saat ini, stok beras di sejumlah gudang Perum Bulog mencapai 1,1 juta ton. Sementara untuk jagung, meski belum jadi sumber pangan utama,...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya