Headline
Ada kelompok yang nyaman dengan kelakuan lama, ingin intervensi meski tak lagi berkuasa.
Ada kelompok yang nyaman dengan kelakuan lama, ingin intervensi meski tak lagi berkuasa.
Kumpulan Berita DPR RI
PERANG antara Ukraina dan Rusia, berdampak pada inflasi zona Eropa, yang akhirnya naik ke level tertingginya sepanjang masa. Perang mendorong kenaikan biaya energi, sehingga memberikan bobot lebih besar bagi inflasi di Eropa.
Inflasi naik menjadi 7,5%, didukung oleh perang dan gangguan pasokan, alhasil tidak menutup mata bahwa Bank Sentral Eropa mungkin tidak akan menunggu hingga akhir tahun untuk bertindak.
"Mereka mungkin akan segera bergerak untuk menenangkan situasi dan kondisi yang dimana hal ini membuat pelaku pasar dan investor khawatir. Spanyol dan Jerman mulai berspekulasi bahwa Bank Sentral Eropa akan secepatnya mengakhiri era tingkat suku bunga negatif yang terjadi hampir 8 tahun," kata Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus, Senin (4/4).
Presiden Bundesbank, Joachim Nagel juga mengatakan pada, Jumat kemarin kepada Bank Sentral Eropa untuk mulai menanggapi inflasi dengan cepat. Kebijakan moneter saat ini tidak boleh melewatkan kesempatan untuk melakukan tindakan pencegahan yang tepat waktu.
Diharapkan jangan sampai Bank Sentral Eropa kembali berada di belakang kurva lebih jauh daripada negara lainnya. Wakil Presiden Bank Sentral Eropa melihat bahwa inflasi akan bergerak 2 – 3 x lipat lebih cepat dalam kurun waktu 1 – 2 bulan mendatang.
"Inflasi datang akibat biaya komoditas, bahan bakar, dan energi yang lebih tinggi. Kami melihat, fase ekspansi ekonomi juga mulai goyah, karena kenaikan harga telah melemahkan konsumsi ditambah lagi perang yang mulai menghancurkan kepercayaan dan investasi bagi investor. Kami cukup khawatir dengan perang yang tidak kunjung berakhir," kata kata Nico.
Semakin lama perang itu terjadi, maka semakin banyak ketidakpastian yang akan dimiliki oleh dunia, dan semakin khawatir bahwa ketidakpastian tersebut justru menjadi penghambat pemulihan ekonomi yang berkepanjangan. Padahal dunia baru saja memulai fase pemulihan.
Sejauh ini inflasi di Eropa didominasi oleh biaya energi yang tagihan dalam rumah tangga telah meningkat 35%, dan akan berpotensi meningkat lebih banyak lagi sebanyak 30% dalam beberapa bulan ke depan di tengah lonjakan kenaikan harga gas alam.
Biaya bahan bakar di Eropa naik 15% pada bulan Maret, sehingga kontribusi biaya energi terhadap inflasi akan mencapai 4,3% di bulan Maret dan terus meningkat hingga bulan Agustus.
"Kalau melihat sikap dari Bank Sentral Eropa yang dipimpin oleh Christine Lagarde, tampaknya mereka akan bergerak lebih cepat, setidaknya pada kuartal II 2022 untuk bisa mengendalikan inflasi dengan menaikkan tingkat suku bunga," kata Nico.
Hal ini menjadi penting karena jangan sampai inflasi bergerak liar tidak terkendali, sehingga dikhawatirkan kenaikan harga tidak mampu diikuti dengan daya beli. Terkait dengan perang yang terjadi saat ini juga, beberapa pemerintah Uni Eropa telah meminta untuk Rusia agar diberikan sanksi sebagai tanggapan atas aksi Rusia yang mengeksekusi warga sipil yang tidak bersenjata di kota kota yang ada di Ukraina.
Komisi Eropa akan mencoba untuk menutup celah, memperkuat tindakan seperti kontrol penuh terhadap ekspor barang teknologi, dan memberikan sanksi penuh terhadap bank yang sebelumnya telah terputus dari pembayaran global SWIFT, hingga mendorong perluasan sanksi individu yang terkena sanksi.
"Saat ini belum ada Informasi lanjutan mengenai kapan sanksi akan diberikan atau diterapkan. Kami khawatir, bahwa sanksi yang sudah diberikan, mungkin tidak akan cukup untuk mengatasi agresi dari Rusia," kata Nico.
Sanksi di bidang Energi mungkin menjadi salah satu cara yang mampu untuk menekan Rusia, namun Eropa tampaknya tidak berani untuk mengambil sanksi ini karena akan memberatkan mereka sendiri. Keenganan untuk berkorban ini membuat agresi Rusia tidak terkendali.
"Pertanyaannya, tindakan apa yang harus dilakukan Rusia agar seluruh dunia mampu memberikan sanksi yang dimana hal ini mendorong mereka untuk berkorban demi kepentingan yang lebih besar. Sejauh ini sepertinya tindakan yang dilakukan oleh Amerika, Eropa dan semuanya masih belum mampu menghentikan agresi dari Rusia," kata Nico.
Namun di satu sisi, meski perang telah terjadi dan dampaknya tidak terhindarkan, Juru Bicara Kremlin mengatakan bahwa mereka menolak kejahatan perang. Mereka mengatakan banyak foto foto palsu yang beredar di internet, sehingga Rusia mengatakan bahwa Ukraina telah melakukan provokasi.
"Di tengah situasi dan kondisi saat ini, ada beberapa negara yang menurut kami telah mendorong keinginan mereka untuk berbela rasa yaitu Lithuania dan Polandia yang telah mengumumkan untuk tidak lagi mengimpor energi dari Rusia. Hal ini akan menjadi langkah yang besar untuk menghentikan perang, sekalipun harus mencubit diri sendiri," kata Nico. (OL-13)
Baca Juga: Harga Pertamax Naik, Saatnya Beradaptasi dengan Gaya Hidup Sehat
PERSERIKATAN Bangsa-Bangsa atau PBB dan Rusia menyatakan tidak akan menghadiri pertemuan perdana Board of Peace yang dibentuk Presiden Amerika Serikat Donald Trump
SERANGAN udara terbaru Rusia menyebabkan gangguan besar pada infrastruktur vital di Ukraina. Listrik dan air dilaporkan tidak dapat diakses di ibu kota Kyiv
Kremlin pastikan Rusia absen dari pertemuan perdana Board of Peace di Washington pada 19 Februari. Moskow masih pelajari urgensi badan pengelola Gaza tersebut.
Iran tingkatkan arsenal rudal balistik dengan bantuan Rusia. Rudal Kheibar Shekan kini mampu jangkau seluruh wilayah Israel, memicu ancaman konflik terbuka.
Kim Jong-un sinyalkan penguatan nuklir dan ICBM pada Kongres Partai ke-9. Pyongyang fokus pada pembangunan militer luar biasa dan konsolidasi kekuasaan absolut.
Kesepakatan tersebut ditandatangani pada 2010 oleh Presiden AS saat itu Barack Obama dan Presiden Rusia Dmitry Medvedev, dan mulai berlaku pada 5 Februari 2011.
SERANGAN udara terbaru Rusia menyebabkan gangguan besar pada infrastruktur vital di Ukraina. Listrik dan air dilaporkan tidak dapat diakses di ibu kota Kyiv
Kementerian Pertahanan Rusia melaporkan serangan ke 148 target militer Ukraina, termasuk depot amunisi, formasi militer, dan menembak jatuh ratusan drone.
Rusia kembali serang Kyiv, ibu kota Ukraina, dengan drone pada 5 Februari 2026. Dua warga luka, gedung TK dan perkantoran rusak di tengah kelanjutan perundingan damai di Abu Dhabi.
Sebelumnya, FIFA dan UEFA telah membekukan keanggotaan Rusia dari seluruh kompetisi internasional sejak Februari 2022, sesaat setelah invasi skala penuh ke Ukraina dimulai.
KEPALA Dana Investasi Langsung Rusia Kirill Dmitriev, pada Selasa (27/1), mengatakan bahwa penarikan pasukan Ukraina dari Donbas dapat mendorong perdamaian di Ukraina.
Presiden Zelenskyy menyatakan dokumen jaminan keamanan AS-Ukraina siap diteken usai pertemuan trilateral di Abu Dhabi. Isu teritorial masih jadi ganjalan utama.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved