Selasa 18 Januari 2022, 13:46 WIB

Kesenjangan antara Kebutuhan dan Produksi Picu Masifnya Impor Kedelai

Despian Nurhidayat | Ekonomi
Kesenjangan antara Kebutuhan dan Produksi Picu Masifnya Impor Kedelai

FOTO/Dok.MI
Ketua Umum Gabungan Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia (Gakoptindo) Aip Syarifuddin.

 

KETUA Umum Gabungan Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia (Gakoptindo) Aip Syarifuddin mengatakan bahwa terdapat kesenjangan yang terjadi antara kebutuhan kedelai dalam negeri dengan produksi kedelai lokal.

Kebutuhan kedelai sampai saat ini mencapai 3 juta ton per tahun sedangkan produksi kedelai dalam negeri hanya mencapai 300 ribu ton per tahun.

Hal ini menyebabkan pemerintah Indonesia mengambil langkah impor kedelai guna memenuhi kebutuhan dalam negeri. "Dulu tahun 1992 kebutuhan kedelai kita 2 juta ton," kata Aip.

Sekarang sudah 20 tahun naik menjadi 3 juta ton, sedangkan produksi kedelai lokal yang tadinya 2 juta ton, menurun terus sampai tahun 2021 hanya 300 ribu ton.

"Sehingga, kebutuhan kita yang tinggi menyebabkan impor kedelai mencapai 2,7 juta ton," ungka Aip dalam acara Market Review IDX Channel, Selasa (18/1).

Selain itu, Aip juga menambahkan bahwa harga jual kedelai yang murah menjadi permasalahan yang membuat petani lebih memilih menanam beras ketimbang kedelai.

Dia menggambarkan, jika petani memiliki tanah satu hektare dan ditanami kedelai, hanya dapat memproduksi 1,5-2 ton per hektare. Sementara itu, harga jual kedelai hanya mencapai Rp8.500 per kg, sehingga petani hanya dapat menghasilkan Rp7 juta per satu hektare.

"Kalau padi itu bisa produksi 5-6 ton per satu hektare tanah. Kalau harga beras itu Rp10 ribu per kg, petani bisa dapat Rp60 juta satu kali tanam dengan jangka waktu tanam antara padi dan kedelai yang sama. Jadi lebih menguntungkan tanam padi, jagung, cabai dan komoditas lainnya dibandingkan tanam kedelai," ujar Aip.

Lebih lanjut, Aip menambahkan bahwa kedelai lokal sebetulnya memiliki kualitas yang lebih tinggi jika dibandingkan kedelai impor. Namun, kedelai impor dikatakan telah memiliki standarisasi yang justru menjadi kelebihan jika dibandingkan dengan kedelai lokal.

"Kedelai impor itu sudah bersih dan punya standarisasi. Kalau kedelai lokal itu kadang ada yang masih ada daunnya, tanahnya dan membuat kita para pengrajin tempe dan tahu harus membersihkan terlebih dahulu," ucap Aip.

"Ini juga yang membuat harga jual kedelai lokal lebih murah dibandingkan kedelai impor karena tidak ada standarisasi," tuturnya.

"Harga kedelai impor itu bisa sampai Rp10.500 per kg dari importir. Ini di Jakarta, kalau di daerah bisa lebih tinggi harganya. Sedangkan harga kedelai lokal hanya Rp7 ribu per kg maksimal karena kita harus bersihkan lagi dan takarannya bisa sampai kurang dari 1 kg kalau sudah dibersihkan," ujar Aip.

Aip menegaskan bahwa pihaknya selalu membutuhkan kedelai setiap harinya untuk memenuhi produksi tempe dan tahu. Maka dari itu, pemilihan kedelai impor menjadi solusi bagi pihaknya karena stok kedelai lokal yang tidak selalu ada ketika dibutuhkan. (Des/OL-09)

Baca Juga

Ist

BPJAMSOSTEK Beri Penghargaan kepada Sejumlah Perusahaan

👤mediaindonesia.com 🕔Kamis 26 Mei 2022, 15:56 WIB
Penghargaan tersebut diberikan kepada perusahaan yang telah berkontribusi besar terhadap coverage BPJS Ketenagakerjaan melalui perlindungan...
ANTARA/SIGID KURNIAWAN.

G20 Dorong Pemulihan Ekonomi di tengah Eskalasi Tantangan Global

👤Fetry Wuryasti 🕔Kamis 26 Mei 2022, 15:41 WIB
Dalam pertemuan tersebut, juga hadir beberapa pembicara eksternal dari kalangan akademisi dan pelaku pasar yang turut memberikan beragam...
Dok. ShopeePay

Dorong Inklusi Keuangan Digital, BI Perluas Penggunaan QRIS

👤Mediaindonesia.com 🕔Kamis 26 Mei 2022, 14:55 WIB
Selain praktis, teknologi ini juga membuat transaksi kita jadi lebih mudah dan...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya