Headline
Kasus kuota haji diperkirakan merugikan negara Rp622 miliar.
Kumpulan Berita DPR RI
PT Bank Mandiri Tbk berencana menerbitkan obligasi atau surat utang senilai Rp5 triliun pada triwulan III 2016 mendatang. Penerbitan obligasi itu salah satunya dimaksudkan untuk memanfaatkan limpahan dana repatriasi dari rencana penerapan pengampunan pajak (tax amnesty).
Direktur Treasury dan Market Bank Mandiri, Pahala Mansury, mengatakan obligasi berdenominasi rupiah itu merupakan tahap awal penawaran umum berkelanjutan (PUB) obligasi Bank Mandiri yang ditargetkan dapat menyerap total dana Rp14 triliun hingga 2018.
Berdasarkan tahapannya, pada 2017, Mandiri akan kembali menerbitkan obligasi Rp5 triliun, lalu pada 2018 sebesar Rp4 triliun. Tenor PUB Mandiri berkisar 5-10 tahun.
"Kira-kira September tahap I book building (penawaran awal), sehabis Lebaran," kata Pahala dalam konferensi pers paparan kinerja bank pelat merah itu di Jakarta, kemarin (Senin, 16/5).
Ia menyebut perseroan memang membutuhkan pendanaan untuk menopang rencana ekspansi bisnis, salah satunya untuk mengakselerasikan penyaluran kredit, terutama kredit infrastruktur yang berjangka panjang.
Saat ini Mandiri memiliki simpanan berjangka mayoritas berjangka waktu pendek berkisar 1-3 bulan. Dari porsi simpanan berjangka pada komposisi dana pihak ketiga (DPK) Mandiri, tenor 1-6 bulan mencapai porsi 88,9%, kemudian tenor 6-12 bulan 9%, dan sisanya untuk tenor di atas 12 bulan.
Kinerja meningkat
Dari sisi kinerja, Bank Mandiri mencatat pendapatan bunga bersih dan premi bersih sebesar Rp13,037 triliun pada triwulan I 2016. Angka itu naik 19,7% daripada periode yang sama tahun lalu sebesar Rp10,944 triliun. Kenaikan itu dipicu tumbuhnya margin bunga bersih (<>net interest margin/NIM) menjadi 6,42%.
Sementara itu, pendapatan berbasis komisi (fee based income) tumbuh 8% menjadi Rp4,2 triliun. Hasil pendapatan bunga dan komisi itu berkontribusi pada peningkatan pendapatan operasional menjadi Rp17,2 triliun.
Akan tetapi, seiring dengan meningkatnya rasio kredit bermasalah akibat belum stabilnya kondisi perekonomian, perseroan memutuskan meningkatkan pencadangan atau provisi menjadi Rp4,59 triliun, berselisih jauh dari periode sebelumnya yang hanya sebesar Rp1,549 triliun.
Sebagai imbasnya, laba bersih Bank Mandiri pun terbukukan 'hanya' Rp3,81 triliun, atau turun 25,7% year on year dari laba bersih periode yang sama tahun lalu.
"Kalau kita lihat pendapatan operasional sebelum pencadangan masih tumbuh 19%, bunga bersih 20%, bunga plus premi 21%. Kondisi operasional perusahaan masih baik sekali, tapi karena butuh pencadangan untuk antisipasi kuartal III dan IV 2016, laba bersihnya tinggal Rp3,81 triliun," kata Pahala.
Direktur Utama Bank Mandiri, Kartika Wirjaatmadja, mengatakan 2016 ditargetkan menjadi tahun terakhir Mandiri melakukan konsolidasi kualitas kredit.
Tahun ini, kata dia, tingkat non-performing loan (NPL) Mandiri kuartal I memang naik signifikan. NPL gross perseroan meningkat dari 1,81% menjadi 2,89%. NPL konsolidasi dengan anak usaha malah mencatatkan angka lebih tinggi, yakni 3,18%.
Selama lebih dari empat tahun terakhir Banyumas menerapkan sistem pengelolaan sampah berbasis pemberdayaan masyarakat dan ekonomi sirkular
Pekerja mengolah sampah tutup botol plastik di Bank Sampah Kertabumi, Pondok Aren, Tangerang Selatan, Banten.
Edukasi yang paling mendasar adalah memilah sampah dari rumah sebelum dibuang.
Gereja Katedral Jakarta kembali menunjukkan kepeduliannya pada lingkungan dan semangat kebersamaan dengan menggunakan dekorasi Natal berbahan daur ulang pada perayaan Natal 2025.
Kegiatan diikuti sebanyak 347 peserta tingkat SD dan SMP dari wilayah Jakarta, Bogor dan Bekasi tersebut bertujuan untuk membentuk generasi literat yang sadar lingkungan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved