Kamis 28 Oktober 2021, 07:24 WIB

SiMevi Siap Sinergi Harmonis Lintas Stakeholders Wujudkan Digitalisasi Satu Data Hortikultura Indonesia

mediaindonesia.com | Ekonomi
 

KEMENTERIAN Pertanian (Kementan) mencanangkan pertanian Indonesia yang maju, mandiri, dan modern. Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo mengarahkan pembangunan pertanian yang modern dengan pemanfaatan teknologi digital yang pada masa kini terus berkembang pesat.

Menindaklanjuti hal tersebut, Direktorat Jenderal Hortikultura memiliki program demi terwujudnya pembangunan hortikultura yang berdaya saing, seperti program kampung hortikultura yang mencakup kampung buah, sayur, dan tanaman obat; program penumbuhan UMKM dan modernisasi hortikultura melalui pengembangan smart farming, mekanisasi, dan digitalisasi hortikultura.

“Selama ini banyak pelaku usaha yang mengeluh kepada saya, bahwa mereka mengalami kesulitan dalam memasarkan produknya karena volumenya yang tidak menentu. Ini menyulitkan pelaku usaha, yang mana dalam mengumpulkan produk tersebut harus mengeluarkan biaya yang cukup mahal. Dampaknya, daya saing kita jadi cukup rendah. Oleh karena itu, kita desain kampung-kampung hortikultura ini,” terang Prihasto.

Lebih lanjut, dalam penumbuhan UMKM Hortikultura, jika pasar sudah cukup untuk menampung hasil, maka produk akan diolah untuk ditingkatkan nilai tambahnya. Proses pengolahan akan difasilitasi dan pemasarannya akan dibantu, baik di dalam maupun luar negeri. Untuk memantau keberlanjutan fasilitas dan bantuan ini, dibutuhkan modernisasi sistem informasi, seperti SIMevi(Sistem Monitoring dan Evaluasi Agroindustri Hortikultura Indonesia) yang dirancang oleh Sekretaris Jenderal Hortikultura, Retno Sri Hartati Mulyandari.

“SIMevi ini sangat diperlukan. Karena dari sekian banyaknya bantuan dari Direktorat Jenderal Hortikultuta yang diberikan kepada masyarakat pada 3-5 tahun yang lalu, sulit terdeteksi di mana barangnya dan sudah tidak bisa terevaluasi,” ujar Prihasto.

Selain SiMevi, terdapat sistem informasi lain yang dibuat oleh Direktorat Jenderal Hortikultura, yaitu SRIKANDI atau Sistem Informasi dan Registrasi Kampung Sayuran dan The Hopers_dev.

Dengan adanya SRIKANDI ini, diharapkan ke depannya ada pemantauan data petani, berisi nama desa, kecamatan, kabupaten, nama kelompok tani, ketua kelompok tani, anggota kelompok tani berdasarkan nama, serta tempat tinggal.

Sementara itu, The Hopers_dev merupakan sistem informasi pemantauan dampak perubahan iklim. The Hopers akan menginformasikan iklim yang terjadi dan bagaimana mengantisipasi dampak yang ada akibat perubahan tersebut.

Retno menyampaikan bahwa ada 569 komoditas pertanian yang harus dikawal oleh hortikultura. Sampai saat ini, melalui kerja sama Ditjen Hortikultura dengan Badan Pusat Statistik, sudah dapat  fokus satu data untuk 87 komoditas.

“Kampung hortikultura menerapkan konsep one village one variety berbasis kebutuhan pasar yang berskala ekonomi dengan pengembangan korporasi petani dan sinergi lintas stakeholders yang harmonis untuk menghasikan produk yang berdaya saing,” jelas Retno.

Melalui SiMevi yaitu Sistem Monitoring dan Evaluasi Agroindustri Hortikultura Indonesia, dirancang digitalisasi satu data hortikultura yang menjadi pintu utama untuk akses beragam sistem informasi  yang saat ini masih terpencar di masing-masing Direktorat lingkup Ditjen Hortikultura. SiMevi juga menyediakan Si Banpem Horti. Melalui aplikasi ini dapat dilihat di mana saja, berapa, jenis, dan penerima bantuan untuk pengembangan hortikuktura.

Selanjutnya secara interaktif dapat dilakukan monitoring dan evaluasi secara mandiri sehingga dapat dilakukan pengawalan, identifikasi permasalahan  dan penelusuran pelaksanaan maupun tingkat kebermanfaatannya bagi masyarakat. Data SiMevi diharapkan nantinya menjadi substansi Horticulture War Room (HWR) yang terkoneksi dengan Agriculture War Room (AWR).

Data yang telah terinput akan diolah dalam berbagai tipe informasi publik. Antara lain dalam bentuk infografis dan data terkoneksi secara digital ke seluruh perangkat pengguna.

Selanjutnya untuk SRIKANDI, Direktur Sayuran dan Tanaman Obat, Tommy Nugraha menyampaikan bahwa aplikasi SRIKANDI yang dirancangnya ini diharapkan bisa memudahkan monitoring dan evaluasi, juga informatif dan interaktif.

“Data atau informasi yang tercantum berupa profil unit kampung, data CP/CL kampung dan dokumentasi kegiatan. Sedangkan dalam upaya meningkatkan daya saing dan kesejahteraan petani. SRIKANDI mendukung adanya registrasi kampung STO, informasi sebaran kampung STO per komoditas, data polygon per petak lahan/petani, monitoring bantuan APBN, monitoring tanam dan panen, serta penilaian kampung berdaya saing,” papar Tommy.

Kemudian untuk sistem informasi The Hopers_dev atau Early Warning Sistem Perlindungan Hortikultura, Koordinator Kelompok Dampak Perubahan Iklim, Muhammad Agung Sunusi menyampaikan bahwa sangat penting untuk melihat data yang ada dan menjadi bahan informasi untuk mengambil suatu tindakan atau kebijakan dalam mitigasi dan identifikasi dalam dampak  iklim.

“Ada dua jenis komoditas yang sangat populer di hortikultura, yaitu bawang merah dan cabai. Komoditas ini lah kami mencoba data-data yang diperoleh minimal akan bisa menginfokan kekeringan dan kebanjiran yang menjadi fokus di kampung-kampung hortikultura,” ujar Agung.

Tiyo Sulistyo selaku coach aplikasi SiMevi menyatakan bahwa aplikasi-aplikasi ini akan menjadikan data-data terharmonisasi dan akan memberi kemudahan dan kelancaran dari tugas pokok dari Direktorat Jenderal Hortikultura. “Dengan adanya aplikasi ini menjadikan semua data bisa terdokumentasi dengan jelas,” ujar Tito.

Sementara itu, Brisma Renaldi selaku coach pada aplikasi SRIKANDI mengungkapkan harapannya dengan aplikasi ini. Yaitu dapat menguatkan program kampung hortikultura yang sudah baik.

"Harapannya dengan SRIKANDI ini kita dapat melihat kampung sayuran dan tanaman obat itu menjadi tangguh, sesuai dengan namanya. Saya sangat setuju dengan Pak Dirjen, bahwa ini harus berkesinambungan dan berkelanjutan untuk kepentingan bangsa dan negara yang kita cintai ini,” tutur Brisma.

Sejalan dengan Tito, dan Brisma, Suharyoto selaku coach The Hopers turut menyampaikan masukannya agar seluruh aplikasi ini dapat menjadi komitmen jangka panjang dan memberikan manfaat yang terasa bagi pertanian Indonesia.

“Apa yang kita susun merupakan bentuk digitalisasi, tools yang disusun harus jelas untuk apa, dan untuk siapa. Oleh karena itu, jangan sampai tools yang dibuat ini tidak memiliki nilai manfaat," ujar Suharyoto. (RO/OL-10)

Baca Juga

Ist

HUT Satu Dasawarsa, OJK Gelar Pelatihan Wirausaha Bagi Penyandang Disabilitas

👤mediaindonesia.com 🕔Rabu 01 Desember 2021, 02:57 WIB
OJK melakukan serangkaian kegiatan aksi sosial  bertujuan meningkatkan kualitas sumber daya manusia...
Dok. Pribadi

Hunian Mixed-Use dengan Konsep Ruang Terbuka Luas Jadi Perhatian Konsumen Properti 

👤Mediaindonesia.com 🕔Rabu 01 Desember 2021, 00:06 WIB
Di sisi lain, perhatian terhadap adanya fasilitas ruang terbuka dalam hunian juga meningkat. Hal itu karena ruang terbuka dinilai bisa...
Instagram @Jokowi

Pemerintah Pastikan Tidak Impor Beras Sepanjang 2021

👤Mediaindonesia.com 🕔Selasa 30 November 2021, 23:52 WIB
Kata Lutfi, pemerintah selalu menjaga ketahanan stok beras nasional untuk menjaga keseimbangan dan ketersediaan...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya