Jumat 15 Oktober 2021, 20:45 WIB

Mobil Listrik Mendisrupsi, Industri Otomotif Butuh Transisi Menuju Full Battery

Mediaindonesia.com | Ekonomi
Mobil Listrik Mendisrupsi, Industri Otomotif Butuh Transisi Menuju Full Battery

Antara/Audy Alwi
Kehadiran mobil listrik full battery akan mendisrupsi industri komponen otomotif.

 

INDUSTRI otomotif nasional membutuhkan transisi sebelum menuju battery electric vehicle (BEV). Sebab, perubahan mobil dari mesin pembakaran internal (internal combustion engine/ICE) ke BEV sangat radikal dan akan mengubah struktur industri otomotif nasional, mulai dari pemanufaktur, pemasok komponen, hingga konsumen.

Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) menilai, diperlukan transisi alami dari ICE ke BEV, seperti halnya pergeseran dari transmisi manual ke otomatis. Ini untuk menghindari dampak negatif perubahan struktur industri otomotif. 

Bagi industri komponen, perubahan dari ICE akan BEV akan mendisrupsi 47% perusahaan. Pilihan mereka ada dua, tutup atau beralih membuat komponen-komponen BEV. Namun, membuat komponen membutuhkan investasi baru dan juga pengembangan sumber daya manusia (SDM). 

Itu sebabnya, industri komponen lebih memilih transisi dari ICE ke mobil hibrida atau (hybrid elecric vehicle/HEV) dan plug-in hybrid electric vehicle (PHEV) sebelum masuk BEV. Masa transisi ini dapat dimanfaatkan industri komponen untuk membangun kompetensi. 

Ketua V Gaikindo Shodiq Wicaksono menuturkan ada sejumlah tantangan yang dihadapi dengan mengembangkan BEV. Pertama, harga BEV masih mahal, yakni Rp 600 jutaan, sedangkan daya beli konsumen masih di bawah Rp 300 juta. Alhasil, penetrasi pasar kendaraan listrik di Indonesia masih relatif rendah, belum mencapai 1% dari total pasar. 

Berdasarkan data Gaikindo, per September 2021, penjualan BEV mencapai 611 unit, hanya 0,1% dari total pasar, sedangkan PHEV 44 unit. Adapun penjualan HEV mencapai 1.737 unit atau 0,3%.

“PDB per kapita Indonesia saat ini masih di kisaran US $ 4.000, sehingga daya beli masyarakat untuk mobil masih di bwah Rp 300 juta,” kata Shodiq dalam webinar Quo Vadis Industri Otomotif Indonesia di Era Elektrifikasi yang digelar Forum Wartawan Industri (Forwin), Jumat (15/10). 

Pembicara lain webinar ini adalah Direktur Industri Maritim, Alat Transportasi, dan Alat Pertahanan Sony Sulaksono, Ketua Umum Gabungan Industri, Ketua Umum Gabungan Industri Alat-alat Mobil dan Motor (GIAMM) Hamdhani Dzulkarnaen Salim, pengamat otomotif dari Institut Teknologi Bandung Yannes Martinus Pasaribu. Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita memberika keynote speech di acara ini. 

Tantangan lain, Shodiq Wicaksono melanjutkan, infrastruktur pengecasan baterai EV masih terbatas. Adapun dari sisi industri, mobil listrik yang dipasarkan saat ini masih diimpor dalam keadaan utuh, belum dirakit atau dibuat di Indonesia.

Kemudian, kata dia, industri komponen utama baterai masih dalam proses pembangunan diperkirakan baru mulai berproduksi pada tahun 2024. Kesiapan masyarakat/konsumen untuk mengadopsi kendaraan dengan teknologi baru ini.

Pada prinsipnya, dia menyatakan, industri otomotif mendukung penuh BEV. Namun, ini membutuhkan transisi teknologi. Sebab, ketika teknologi berubah dari mesin ICE ke motor listrik, komponen berubah. Itu sebabnya, semua pihak harus mengurangi dampak negatif ini ke industri, terutama pemasok komponen. 

Pada titik ini, dia menyatakan, transisi alami perlu berjalan mulus, sehingga tidak ada yang dirugikan. Hal ini terjadi saat pergeseran transmisi manual ke otomotif. “Yang penting, semua bisa terakomodasi dengan baik,” kata dia. 

Hamdhani Dzulkarnaen Salim menyatakan, sebanyal 47% anggota GIAMM akan terdisrups dari transisi ICE ke BEV. Komponen yang hilang di BEV adalah mesin, pelumas, termasuk tangki bensin, dan knalpor, sedangkan komponen perlu penyesuaian di BEV adalah rem, elektronik, drivetrain, AC dan kompresor. 

Adapun komponen baru di BEV, kata dia, yakni battery pack, inverter, motor, DC converter dan charger. Sementara itu, komponen ICE yang masih digunakan di BEV adalah roda dan ban, setir, suspensi, aki, sasis dan bodi, interior dan eksterior, serta lampu. Saat ini, total anggota GIAMM mencapai 240 perusahaan, baik pemasok mobil dan motor. 

Itu sebabnya, dia menyatakan, pengembangan ICE ke BEV membutuhkan transisi dan melalui sejumlah tahapan. Ketimbang langsung ke BEV, industri mobil ICE bisa masuk ke HEV dan PHEV terlebih dahulu. 

“Ini bukan berarti kami pro ke merek-merek tertentu. Sebab, masa transisi ini dibutuhkan agar kami punya waktu untuk membangun kompetensi. Kalau langsung ke BEC, waktunya sangat terbatas,” tegas dia. 

Di era elektrifikasi, dia menyatakan, dibutuhkan kompetensi di kimia, elektronik, dan material, sedangkan era ICE lebih ke mekanis dan mesin. Isu otomotif saat ini adalah konektivitas, otonom, sharing ride, dan elektrifikasi, yang membutuhkan kompetensi teknologi informasi, elektronik, dan kontrol. 

“Pertanyaannya, apakah kita siap? Kita bisa siap atau tidak, tergantung banyak hal. Intinya, kami akan berusaha, karena ini masalah hidup dan mati. Waktu tidak berulang lagi. Kami berusaha diversifikasi, mencari mitra yang menopang teknologi kompetensi untuk era elektrfikasi. Ini sangat menantang bagi kita,” tandasnya. (RO/E-1)

Baca Juga

Dok Shopeepay

ShopeePay 12.12 Birthday Deals Hadir Rayakan Pencapaian UMKM Sepanjang 2021

👤Mediaindonesia.com 🕔Minggu 28 November 2021, 12:26 WIB
Berbagai penawaran spesial hadir guna menstimulasi pertumbuhan UMKM dan sebagai bentuk apresiasi atas dukungan serta peran aktif masyarakat...
Ist

Sandiaga Uno Dorong Bidang Kecantikan dan Fesyen untuk Bangkitkan Perekonomian

👤mediaindonesia.com 🕔Minggu 28 November 2021, 11:44 WIB
Pelaku ekonomi kreartif subsektor fesyen diharapkan dapat memperkuat produknya dari sisi inovasi, kreativitas dan kolaborasi agar bisa...
DOK KEMENTAN

Kunjungi Brebes, Kementan Dorong Penumbuhan UMKM Hortikultura Tingkatkan Diversifikasi Olahan

👤mediaindonesia.com 🕔Minggu 28 November 2021, 11:26 WIB
Sekretaris Ditjen Hortikultura, Retno Sri Hartati Mulyandari menyampaikan bahwa penumbuhan UMKM adalah untuk menjaga stabilisasi harga...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya