Headline
Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.
Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.
Kumpulan Berita DPR RI
BANK Dunia memproyeksikan ekonomi Indonesia akan tumbuh 3,7% pada 2021. Angka itu lebih rendah dari perkiraan sebelumnya yang dirilis pada April 2021 di level 4,4%. Pemangkasan prediksi tersebut disebabkan adanya varian delta covid-19 yang dinilai menghambat laju pemulihan.
Prediksi Bank Dunia atas pertumbuhan ekonomi Indonesia itu ditunjukan dalam laporan bertajuk World Bank East Asia and Pacific Fall 2021 Economic Update yang dirilis pada Selasa (28/9).
"Ini merupakan pembalikan dari kegiatan ekonomi domestik yang tercederai oleh delta," ujar Ekonom Utama Bank Dunia untuk Asia Timur dan Pasifik Aaditya Mattoo dalam konferensi pers peluncuran East Asia Pacific Econimic Update secara virtual.
Prediksi ekonomi Indonesia di angka 3,7%, kata Aaditya, lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi kawasan Asia Timur dan Pasifik, tidak termasuk Tiongkok di angka 2,5%. Ekonomi Indonesia juga diprediksi tumbuh lebih tinggi dari perekonomian ASEAN-5 di angka 3,4%.
Proyeksi baru Bank Dunia itu serupa dengan hitungan pemerintah yang memprediksikan ekonomi Indonesia akan tumbuh di kisaran 3,7% hingga 4,5% di 2021.
Baca juga : Erick Thohir Cium Indikasi Korupsi di Krakatau Steel
Adapun pada 2022 Bank Dunia memprediksikan ekonomi Indonesia akan tumbuh di angka 5,2%, lebih tinggi dari perkiraan sebelumnya yakni 5,1%. Sedangkan di 2023 ekonomi Indonesia diproyeksikan tumbuh 5,1%.
Prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia di 2022, imbuh Aaditya, didasari pada situasi terkini dan asumsi penanganan covid yang terus membaik seiring akselerasi vaksinasi.
"Itulah mengapa kita melihat pertumbuhan yang sangat kecil tahun ini. Tapi pertumbuhan itu bisa pulih sekitar 4,5-5% dalam beberapa tahun ke depan karena adanya kebijakan ekonomi makro yang sangat suportif," terangnya.
Di saat yang sama, reformasi struktural dan fiskal yang dilakukan Indonesia dinilai mampu mendorong perekonomian untuk tumbuh secara baik. Pasalnya melalui reformasi tersebut Indonesia dinilai membuka pasar untuk investasi asing dan meningkatkan kompetisi dalam negeri.
Namun Indonesia dinilai memiliki kelemahan lantaran tidak mengintegrasikan diri ke dalam rantai pasok global. Hal itu berdampak pada kinerja perdagangan yang diperkirakan akan menghambat kompetisi dalam negeri.
"Ada banyak cerita menarik bagaimana non tarif restruction untuk impor itu justru mengegerus daya saing Indonesia dalam ekspor ini. Jadi memang perlu memikirkan reformasi yang lebih luas, yang tidak hanya terdiri dari investasi dalam keuangan, tapi juga perdanganagan karena Indonesia masih sangat bergantung pada sumber daya alam," pungkas Aaditya. (OL-2)
Harga komoditas global diproyeksikan turun ke level terendah dalam enam tahun pada 2026.
Langkah ini tidak hanya mendekatkan pengolahan sampah ke sumbernya, namun juga berkontribusi dalam mengurangi beban TPA dan mendukung ekonomi sirkular.
Pemerintah memastikan tidak akan mengadopsi data kemiskinan yang dirilis Bank Dunia.
AWAL April 2025, Bank Dunia melalui Macro Poverty Outlook menyebutkan pada tahun 2024 lebih dari 60,3% penduduk Indonesia atau setara dengan 171,8 juta jiwa hidup di bawah garis kemiskinan.
Di balik status Indonesia sebagai negara berpendapatan menengah ke atas, Bank Dunia mengungkapkan fakta mencengangkan: 60,3% dari total populasi Indonesia hidup dalam garis kemiskinan
Indonesia diproyeksikan hanya memiliki pertumbuan ekonomi rata-rata 4,8% hingga 2027. Adapun, rinciannya adalah 4,7% pada 2025, 4,8% pada 2026, dan 5% pada 2027.
Pemerintah mengalokasikan anggaran sebesar Rp911,16 miliar untuk memberikan diskon transportasi selama periode mudik Lebaran 2026.
Indef menilai outlook negatif Moody’s mencerminkan kenaikan persepsi risiko, bukan pelemahan fundamental, sehingga menekan kepercayaan investor.
TRANSFORMASI sektor manufaktur, khususnya manufaktur padat karya, menjadi kunci utama untuk mendorong akselerasi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026.
Pemerintah menegaskan komitmen untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional yang berkelanjutan.
Dari sisi pengeluaran, perekonomian Jakarta masih ditopang oleh konsumsi rumah tangga dengan kontribusi 62,80%, diikuti Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) sebesar 33,79%.
Secara tahunan, ekonomi DIY tumbuh sebesar 5,94% (year-on-year/yoy) dibandingkan triwulan IV-2024.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved