Rabu 08 September 2021, 18:48 WIB

Kilang Cilacap Mampu Produksi 8 Ribu Barel/hari Bioavtur

Insi Nantika Jelita | Ekonomi
Kilang Cilacap Mampu Produksi 8 Ribu Barel/hari Bioavtur

Antara
Suasana di kilang minyak Cilacap, Jateng

 

CORPORATE Secretary Subholding Refining & Petrochemical Pertamina Ifki Sukarya mengatakan, Kilang Pertamina Internasional unit Cilacap, Jawa Tengah, memiliki kapasitas teknis untuk mengembangkan BioAvtur nasional.

Hal tersebut, sebutnya, tak lepas dari portfolio bisnis unit kilang Cilacap yang merupakan produsen BBM jenis Aviaton Turbine terbesar di Indonesia dengan angka produksi sebesar 1.852 ribu barel sepanjang 2020.

"Kapasitas produksi Bioavtur di Unit Kilang Cilacap mencapat 8 ribu barel per hari dan akan terus ditingkatkan dengan melihat kebutuhan pasar, mulai 2023 nanti,” ujar Ifki dalam keterangannya, Selasa (8/9).

Di Unit Kilang Cilacap, pengembangan Bioavtur dilakukan di dalam Treated Distillate Hydro Treating (TDHT). Katalis merah putih untuk Bioavtur diproduksi di fasilitas milik Clariant Kujang Catalyst di Cikampek dengan supervisi langsung dari team RTI (Research Technology and Innovation) Pertamina.

Ifki menerangkan, melalui Unit Kilang Cilacap, Bioavtur dihasilkan melalui bahan baku minyak inti kelapa sawit atau atau Refined, Bleached, and Deodorized Palm Kernel Oil (RBDPKO) dengan avtur fosil. Sejak 2014, Pertamina menyatakan telah merintis penelitian dan pengembangan Bioavtur melalui Unit Kilang Dumai dan Cilacap. Performa Bioavtur sudah optimal, dimana perbedaan kinerjanya hanya 0.2–0.6% dari kinerja avtur fosil.

"Bioavtur J2.4 sendiri mengandung nabati 2.4%, ini merupakan pencapaian maksimal dengan teknologi katalis yang ada,” jelas Ifki.

Diketahui, pemerintah akan uji coba penggunaan Bioavtur J2.4 pada pesawat CN235 FTB milik PT Dirgantara. Kontribusi Pertamina dalam mengembangkan Bioavtur J2.4 dilakukan dengan dua tahap. Tahap awal pengembangan tersebut dikelola oleh PT Kilang Pertamina Internasional unit Dumai melalui Distillate Hydrotreating Unit (DHDT). 

Tahap pertama ditandai dengan proses ‘Hydrodecarboxylation’, dimana target awal kami adalah produksi diesel biohidrokarbon dan bioavtur dalam skala laboratorium. Sementara, tahap kedua ditandai dengan proses Hydrodeoxygenation, yang mana Pertamina telah berhasil memproduksi diesel biohidrokarbon.

Ifki meneruskan, pada 2020, unit Kilang Dumai juga dianggap berhasil memproduksi  Diesel biohidrokarbon D-100 yang 100% berasal dari bahan baku nabati yaitu Refined Bleached Deodorized Palm Oil (RBDPO). 

RBDPO adalah minyak kelapa sawit yang sudah melalui proses penyulingan untuk menghilangkan asam lemak bebas serta penjernihan untuk menghilangkan warna dan bau. Tahap awal tersebut menjadi langkah penting pengembangan green product termasuk green diesel dan bioavtur.  Pengembangan Bioavtur J2.4 yang dikelola oleh Kilang Pertamina Internasional melalui unit Dumai dan Cilacap dikatakan Ifki, merupakan dukungan dari roadmap Environment, Social dan Government (ESG) yang merupakan pilar bisnis perusahaan Pertamina. (OL-8)

Baca Juga

ANTARA

Jokowi Sebut Ekonomi Bali Perlu Transformasi

👤Dhika kusuma winata 🕔Jumat 03 Desember 2021, 16:15 WIB
Jokowi memahami kondisi pertumbuhan ekonomi di Provinsi Bali mengalami penurunan besar lantaran yang terganggunya pariwisata di masa...
DOK MI.

Komitmen Investasi di Kawasan Industri Kaltara Capai Rp1.800 Triliun

👤Insi Nantika Jelita 🕔Jumat 03 Desember 2021, 15:50 WIB
Luas kawasan industri yang ada di Tanah Kuning mencapai 10.100 hektare dan ditetapkan sebagai Program Strategis Nasional...
DOK SHOPEEPAY

Jarang Disadari, Ini 4 Tren di 2021 yang Bisa Bikin Tambah Cuan

👤mediaindonesia.com 🕔Jumat 03 Desember 2021, 14:58 WIB
Buat kamu yang belum sadar akan kehadiran tren finansial di sepanjang tahun ini, jangan khawatir, kamu masih bisa ikut mencoba menerapkan...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya