Rabu 28 Juli 2021, 23:07 WIB

Reisa Berbagi Tips Menyesuaikan Diri saat PPKM

Mediaindonesia.com | Ekonomi
Reisa Berbagi Tips Menyesuaikan Diri saat PPKM

Antara
Tim Komunikasi Publik Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, Reisa Broto Asmoro.

 

Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan COVID-19 dan Duta Perubahan Perilaku Reisa Broto Asmoro berbagi tips menyesuaikan diri saat melakuan transaksi di masa PPKM agar tidak terpapar COVID-19.

Reisa mengatakan di masa PPKM, pasar rakyat yang menjual kebutuhan pokok telah diperbolehkan buka dengan protokol kesehatan ketat dan pengaturan lebih lanjut dari pemerintah daerah.

"Ada lebih dari 16.000 lebih pasar di Indonesia. Kalau sampai kita tidak taat protokol kesehatan, maka tempat tersebut dapat menjadi pusat penyebaran virus," kata Reisa, dalam konferensi pers perkembangan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) secara daring yang dipantau dari Jakarta, Rabu (28/7).

Reisa menyebut lima provinsi yang memiliki pasar rakyat terbanyak adalah Jawa Timur, Jawa Tengah, Sumatera Utara, Sumatera Selatan dan Jawa Barat, yang menerapkan PPKM Level 4. Artinya, risiko penularan tingkat komunitas di lima provinsi itu masih terbilang tinggi.

Maka, jika harus berkegiatan di pasar, Reisa meminta masyarakat mengingat lima hal. Pertama, memastikan kondiri kesehatan sedang baik dan tidak dalam keadaan sakit bergejala demam, batuk dan pilek.

Kedua, selalu menggunakan dua lapis masker saat menuju dan berada dalam pasar rakyat. Ketiga, untuk mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir atau cairan penyanitasi tangan.

Keempat, masyarakat diminta menghindarkan diri untuk menyentuh area wajah, seperti mata, hidung dan mulut selama berada dalam pasar, dan jika diperlukan menggunakan pelindung muka.

Kelima, adalah menjaga jarak minimal satu meter dengan orang lain dan segera pulang setelah mendapatkan apa yang dicari di pasar.

"Panduan pasar sehat dan pasar yang beradaptasi dengan kebiasaan baru sudah dibuat oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia dan Kementerian Perdagangan sejak tahun lalu," kata Reisa.

Sementara untuk bertransaksi dengan pedagang kaki lima, toko kelontong, pangkas rambut, pencucian pakaian atau usaha kecil lain yang sejenis, Reisa menyarankan untuk memilih lokasi yang terbuka dan mempersingkat kunjungan. Selain itu, tidak boleh melepas masker dan mencuci tangan sesering mungkin.

Berikutnya, untuk menurunkan risiko tertular COVID-19 saat bertransaksi, Reisa mengatakan Bank Indonesia telah menjelaskan beberapa langkah untuk mensterilkan dan menyortir uang fisik setelah transaksi dilakukan.

"Pastikan sering-sering cuci tangan sebelum dan setelah memegang uang, lalu tempatkan uang di dompet atau wadah tertutup yang bersih dan higienis," katanya.

Selain itu, Reisa mengajak masyarakat mengutamakan transaksi non-tunai dengan uang elektronik, internet banking maupu QRIS.

"Sudah banyak kok pedagang pasar dan warung-warung yang menerima transaksi non-tunai. Yang paling penting adalah bahwa cara menghentikan pandemi ini ada di tangan kita. Keputusan kitalah yang akan mengakhiri penularan SARS-CoV-2 penyebab COVID-19," ujar Reisa. (Ant/OL-12)

Baca Juga

AFP/Ahmad El Itani/Saudi Aramco.

Saudi Aramco Targetkan Nol Emisi Karbon pada 2050

👤Mediaindonesia.com 🕔Sabtu 23 Oktober 2021, 20:19 WIB
Arab Saudi, pengekspor minyak mentah utama dunia, mengatakan akan bergabung dengan upaya global untuk mengurangi emisi metana hingga 30%...
Antara/Prasetia Fauzani

KAI Catatkan Kenaikan Pendapatan Rp7,46 Triliun Pada Semester I 2021 

👤Depian Nurhidayat 🕔Sabtu 23 Oktober 2021, 20:18 WIB
"Perseroan terus berinovasi secara efektif dan efisien agar kinerja keuangan bisa lebih lincah dalam merespons dampak yang timbul...
Dok Kementerian BUMN

Erick Thohir Apresiasi BRI Dampingi UMKM Bertransformasi Digital

👤Ant 🕔Sabtu 23 Oktober 2021, 20:10 WIB
Transformasi digital pada industri keuangan yang diadaptasi BUMN harus juga menjangkau ekonomi...

E-Paper Media Indonesia

HALAMAN FOKUS EKSTRA 4 HALAMAN

Fokus Edisi

Amendemen Konstitusi antara Ambisi Elite dan Aspirasi Rakyat

Persepsi publik mengenai cara kerja presiden lebih mengharapkan pemenuhan janji-janji politik saat kampanye ketimbang bekerja berdasarkan Pokok-Pokok Haluan Negara (PPHN).

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya