Senin 22 Februari 2021, 14:00 WIB

Pecahkan Rekor, Penjualan ORI019 Tembus Rp26 Triliun

M. Ilham Ramadhan Avisena | Ekonomi
Pecahkan Rekor, Penjualan ORI019 Tembus Rp26 Triliun

MI/M IRFAN
Ilustrasi

 

PEMERINTAH menetapkan penjualan Surat Berharga Negara (SBN) ritel seri ORI019 sebesar Rp26 triliun. Nilai itu menjadi rekor penjualan tertinggi dari sisi penjualan SBN ritel secara daring.

"Ini rekor tertinggi sampai dengan saat ini untuk yang dilakukan secara online, tradeable untuk ORI dan sukuk ritel," ujar Kepala Seksi Pendalaman Pasar dan Perluasan Basis Investor Surat Utang Negara Direktorat Jenderal Pembiayaan dan Pengelolaan Risiko Kementerian Keuangan Antonius Dyan dalam diskusi melalui siaran langsung instagram DJPPR, Senin (22/2).

Baca juga: BI: Relaksasi DP 0% untuk Merangsang Konsumsi Rumah Tangga

Dana yang diperoleh dari penjualan ORI019 akan digunakan sebagian untuk membiayai penanganan pandemi covid-19 dan pemulihan ekonomi. Selain dari nilai penjualan, ORI019 juga mencatatkan rekor lain berupa tingkat kupon rendah.

ORI019 merupakan seri pertama dari SBN ritel yang diterbitkan awal tahun dengan kupon rendah yakni 5,57%. "Dari awal kita juga memperkirakan penetapan kupon ini banyak pertimbangannya, pertama mungkin adalah kondisi pasar pada umumnya, lalu tingkat suku bunga acuan seperti BI7DRR di kisaran berapa dan melihat seri SUN yang non ORI, reguler fix rate, mereka memberikan yield sebesar apa dan pertimbangan instrumen investasi lain. itu semua menjadi pertimbangan," kata Antonius.

"Ada beberapa analis bilang, ada room untuk BI rate turun, dan terbukti itu turun. Ini menjadi salah satu booster untuk para investor agar membeli ORI ini," sambungnya.

Antonius menambahkan, animo masyarakat terhadap ORI019 cukup tinggi. Itu terlihat dari adanya penambahan kuota penjualan selama masa penawaran di 25 Januari 2021 hingga 18 Februari 2021.

Awalnya, kuota yang tersedia untuk penjualan ORI019 ialah sebesar Rp10 triliun, kemudian digandakan menjadi Rp20 triliun hingga akhirnya ditetapkan kuota hingga Rp26 triliun.

Antonius mengatakan, sebanyak 48.731 investor berinvestasi di ORI019. Dari jumlah itu, sebanyak 22.268 investor, atau 45,7% merupakan investor baru. Sedangkan bila dilihat dari golongannya, generasi milenial (usia 20-40 tahun) mendominasi jumlah investor hingga 37,5%.

Itu kemudian diikuti oleh generasi X (usia 41-55 tahun) sebanyak 34%; generasi baby boomers (usia 54-74 tahun) sebanyak 25,3% ; generasi tradisionalis (usia lebih dari 75 tahun) sebanyak 2,2%; dan generasi Z (usia di bawah 20 tahun) sebanyak 1%.

Sedangkan berdasarkan profesi investor, maka pegawai swasta menjadi yang paling dominan mencapai 33,8% dari total investor. Lalu diikuti wiraswasta 31,2%; ibu rumah tangga 10,1%; pelajar/mahasiswa 4,9%; PNS/TNI/Polri 4,5%; pensiunan 3,3%; pegawai otoritas/lembaga/BUMN/BUMD 2,4%; profesional 2,6%; dan lainnya 7,2%.

Antonius mengatakan, pihaknya mengubah cara untuk menyosialisasikan instrumen investasi yang diterbitkan pemerintah. Saat ini sosialisasi dan edukasi mengenai investasi dilakukan secara daring melalui berbagai sarana.

Tujuannya agar masyarakat mengetahui pemerintah memiliki insrumen investasi yang aman dan menarik. Keterlibatan masyarakat untuk berinvestasi melalui SBN, kata Antonius, memberikan dua dampak, yakni pembiayaan melalui investasi dan mendorong penerimaan pajak.

"Jadi selain ikut mendukung pembiayaan, dengan berinvestasi masyarakat ikut menambah penerimaan pajak," pungkasnya. (Mir)Pemerintah Tetapkan Penjualan ORI019 sebesar Rp26 Triliun

Pemerintah menetapkan penjualan Surat Berharga Negara (SBN) ritel seri ORI019 sebesar Rp26 triliun. Nilai itu menjadi rekor penjualan tertinggi dari sisi penjualan SBN ritel secara daring.

"Ini rekor tertinggi sampai dengan saat ini untuk yang dilakukan secara online, tradeable untuk ORI dan sukuk ritel," ujar Kepala Seksi Pendalaman Pasar dan Perluasan Basis Investor Surat Utang Negara Direktorat Jenderal Pembiayaan dan Pengelolaan Risiko Kementerian Keuangan Antonius Dyan dalam diskusi melalui siaran langsung instagram DJPPR, Senin (22/2).

Dana yang diperoleh dari penjualan ORI019 akan digunakan sebagian untuk membiayai penanganan pandemi covid-19 dan pemulihan ekonomi. Selain dari nilai penjualan, ORI019 juga mencatatkan rekor lain berupa tingkat kupon rendah.

ORI019 merupakan seri pertama dari SBN ritel yang diterbitkan awal tahun dengan kupon rendah yakni 5,57%. "Dari awal kita juga memperkirakan penetapan kupon ini banyak pertimbangannya, pertama mungkin adalah kondisi pasar pada umumnya, lalu tingkat suku bunga acuan seperti BI7DRR di kisaran berapa dan melihat seri SUN yang non ORI, reguler fix rate, mereka memberikan yield sebesar apa dan pertimbangan instrumen investasi lain. itu semua menjadi pertimbangan," kata Antonius.

"Ada beberapa analis bilang, ada room untuk BI rate turun, dan terbukti itu turun. Ini menjadi salah satu booster untuk para investor agar membeli ORI ini," sambungnya.

Antonius menambahkan, animo masyarakat terhadap ORI019 cukup tinggi. Itu terlihat dari adanya penambahan kuota penjualan selama masa penawaran di 22 Januari 2021 hingga 18 Februari 2021.

Awalnya, kuota yang tersedia untuk penjualan ORI019 ialah sebesar Rp10 triliun, kemudian digandakan menjadi Rp20 triliun hingga akhirnya ditetapkan kuota hingga Rp26 triliun.

Antonius mengatakan, sebanyak 48.731 investor berinvestasi di ORI019. Dari jumlah itu, sebanyak 22.268 investor, atau 45,7% merupakan investor baru. Sedangkan bila dilihat dari golongannya, generasi milenial (usia 20-40 tahun) mendominasi jumlah investor hingga 37,5%.

Itu kemudian diikuti oleh generasi X (usia 41-55 tahun) sebanyak 34%; generasi baby boomers (usia 54-74 tahun) sebanyak 25,3% ; generasi tradisionalis (usia lebih dari 75 tahun) sebanyak 2,2%; dan generasi Z (usia di bawah 20 tahun) sebanyak 1%.

Sedangkan berdasarkan profesi investor, maka pegawai swasta menjadi yang paling dominan mencapai 33,8% dari total investor. Lalu diikuti wiraswasta 31,2%; ibu rumah tangga 10,1%; pelajar/mahasiswa 4,9%; PNS/TNI/Polri 4,5%; pensiunan 3,3%; pegawai otoritas/lembaga/BUMN/BUMD 2,4%; profesional 2,6%; dan lainnya 7,2%.

Antonius mengatakan, pihaknya mengubah cara untuk menyosialisasikan instrumen investasi yang diterbitkan pemerintah. Saat ini sosialisasi dan edukasi mengenai investasi dilakukan secara daring melalui berbagai sarana.

Tujuannya agar masyarakat mengetahui pemerintah memiliki insrumen investasi yang aman dan menarik. Keterlibatan masyarakat untuk berinvestasi melalui SBN, kata Antonius, memberikan dua dampak, yakni pembiayaan melalui investasi dan mendorong penerimaan pajak.

"Jadi selain ikut mendukung pembiayaan, dengan berinvestasi masyarakat ikut menambah penerimaan pajak," pungkasnya. (OL-6)
 

Baca Juga

DOK.BNC

Transformasi ke Digital, Nilai Saham Bank Neo Commerce Naik

👤mediaindonesia.com 🕔Jumat 26 Februari 2021, 01:00 WIB
Melalui aksi korporasi ini, diharapkan perseroan akan mendapatkan suntikan dana sebesar Rp249,82...
Dok. 99 Group

Pandemi Covid-19 Picu Sektor Properti Befluktuasi pada 2020

👤Ghani Nurcahyadi 🕔Kamis 25 Februari 2021, 23:44 WIB
Pertumbuhan suplai listing tertinggi terjadi di bulan Juli sebesar 8.75 persen. Penurunan suplai listing yang cukup drastis terjadi dari...
ANTARA FOTO/Moch Asim

259 Ton Udang Vaname Sulteng Diekspor ke Jepang

👤Mediaindonesia.com 🕔Kamis 25 Februari 2021, 23:33 WIB
Volume ekspor udang vaname tahun 2020 mengalami penurunan dari pada volume ekspor udang vaname tahun 2019 yang mencapai 285,66 ton senilai...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya