Headline

Gibran duga alih fungsi lahan picu tanah longsor di Cisarua.

Sekjen MUI : Boikot Produk Prancis Jangan Kebablasan

M Iqbal Al Machmudi
08/11/2020 12:35
Sekjen MUI : Boikot Produk Prancis Jangan Kebablasan
Ajakan boikot produk Prancis(Antara/Ahmad Subaidi)

Sekjen Majelis Ulama Indonesia (MUI), Anwar Abbas, menyebutkan seruan boikot terhadap produk Prancis jangan sampai melebihi batas. Cukup dengan tidak mengonsumsi dinilai sudah cukup.

MUI menilai jika aksi sweeping untuk menghimbau masyarakat berhenti mengkonsumsi produk Prancis maka tidak masalah. Namun apabila produk asal Prancis tersebut disweeping dan dibuang maka hal tersebut sudah melampaui batas.

"Kalau barang kan tidak masalah, kenapa harus dibuang-buang, jangan seperti itu. Jadi menurut saya kita boleh marah kepada Prancis tetapi kita jangan berbuat hal-hal yang dilarang oleh agama," saat webinar bertajuk MUI Boikot Perancis, Siapa Menangis? yang diadakan Medcom.id, Minggu (8/11).

Sebelumnya beredar video viral sekelompok orang melakukan sweeping terhadap produk asal Prancis di Jakarta Pusat. Massa tersebut membeli produk tersebut dan membakarnya. Produk yang disweeping antara lain air mineral, susu kemasan, dan lainnya.

"Ada juga yang membakar mobil dari Prancis, itu menurut saya sudah melebihi batas. Itu bukan boikot tetapi itu melakukan sesuatu yang dilarang oleh agama," ujarnya.

Anwar menjelaskan bahwa boikot terhadap produk yang berasal dari Prancis bukan hanya sekedar boikot, tetapi untuk menyadarkan kekeliruannya. Oleh karena itu ketika Presiden Prancis Emmanuel Macron meminta maaf atas pernyataannya mengina Agama Islam dan Nabi Muhammad, MUI akan segera mencabut seruan boikotnya.

"Dunia sudah mengakui bahwa pernyataan Presiden Prancis Emmanuel Macron telah menghina Agama Islam dan Nabi Muhammad. Dunia akhirnya mengingatkan Macron untuk mencabut ucapannya," ungkapnya.

"Namun setelah diucapkan bukannya mundur malah semakin sombong kesimpulannya ialah bukannya meminta maaf malah menyalahkan ummat Islam dan menyebut ajaran Islam sedang dalam krisis, padahal pemahaman dan falsafahnya yakni sekularisme yang sedang krisis," pungkasnya. (E-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Raja Suhud
Berita Lainnya