Headline

Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.

Pemerintah Diimbau Bangun Sistem Pangan Berkelanjutan

Eni Kartinah
22/10/2020 11:10
Pemerintah Diimbau Bangun Sistem Pangan Berkelanjutan
Simposiumi daring bertema Covid-19 & Sistem Pangan Berkelanjutan: Dampak, Tantangan & Peluang Bagi Industri Pangan.(Dok.Indofood)

BADAN Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) mengingatkan adanya potensi krisis pangan dunia akibat pandemi covid-19. Hal itu sebagai akibat dari kebijakan sejumlah negara yang membatasi aktivitas masyarakat mereka.

Kondisi itu tentu saja dapat menganggu rantai pasokan pangan karena kekurangan tenaga kerja untuk memproduksi dan memproses pangan, kesulitan akses ke pasar bagi petani kecil, pembatasan transportasi dan berkurangnya  pasokan  komoditas. Padahal banyak negara dituntut untuk menjaga pasokan pangan mereka sekaligus menangani wabah virus korona.

Baca juga: Diversifikasi untuk Ketahanan Pangan

Untuk itu dalam  rangka Hari Pangan se-Dunia  2020,  PT  Indofood  Sukses  Makmur  Tbk (Indofood) menyelenggarakan Simposium melalui daring yang mengangkat tema Covid-19 & Sistem Pangan Berkelanjutan:  Dampak,  Tantangan  &  Peluang  Bagi  Industri  Pangan.

“Membangun  sistem  pangan  berkelanjutan  harus menjadi salah satu prioritas kita. Bukan hanya sebagai langkah antisipasi krisis pangan akibat pandemi, tetapi juga sebagai upaya memberikan jaminan pasokan maupun akses pangan bagi bangsa di masa depan. Untuk itu, perlu pendekatan yang holistik, serta dukungan dan sinergi semua stakeholder,” ujar Direktur  Indofood  Franciscus  Welirang.

Ia menekankan pentingnya integrasi dalam sistem pangan mulai produksi pangan, pengolahan pangan baik di industri besar maupun kecil hingga akses masyarakat akan pangan tersebut. “Dalam menghasilkan sebuah produk, bibit yang baik dan bersertifikasi sangatlah penting. Bagi kami, bibit yang baik akan meningkatkan produktivitasapabila dikombinasikan  dengan Good Agriculture Practices. Hasilnya  akan  baik  pula."

"Sementara  guna mengatasi malnutrisi, industri  bisa  melakukan fortifikasi  pangan. Beberapa  produk kami telah  difortifikasi seperti fortifikasi Iodium pada garam, zat besi dan asam folat untuk Tepung Terigu Bogasari dan vitamin A pada Minyak Goreng Bimoli. Langkah ini kami lakukan sebagai kontribusi dalam perbaikan gizi bangsa, di samping terus mengedukasi masyarakat tentangGizi Seimbang,” jelasnya.

Dia menambahkan bahwa kondisi pandemi covid-19 juga mempengaruhi kelompok usaha mikro kecil dan menengah (UMKM). Padahal UMKM berperan penting dalam perekonomian Indonesia. UMKM berkontribusi sebesar 60,3% dari total komponen pembentuk Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia.

“Sebagai bagian dari sistem pangan, peran pelaku UMKM bidang pangan perlu mendapatkan perhatian kita semua. Kami bermitra dengan Usaha Kecil Menengah (UKM) dan Industri Kecil Menengah (IKM) dari hulu hingga ke hilir. Model bisnis inklusif yang kami lakukan di hulu seperti bermitra dengan petani ataupun IKM pengolah berbagai komoditi yang menjadi Supplier. Di hilir, kami menjalankan kemitraan denganUKM/IKM baik dibidang kuliner maupun industri olahan yang menjadi customer untuk mencapai konsumen akhir,” paparnya.

Dalam kesempatan itu, pihak Indofood juga memberikan dana riset kepada 60 mahasiswa pangan dari 31 Perguruan Tinggi Negeri maupun Swasta di Indonesia. Penerima dana riset IRN juga berhak  memperoleh pendampingan  dan bimbingan teknis dari  Tim  Pakar  IRN hingga  penelitian  selesai. Program  IRN  yang  mengangkat  tema  'Milenial  dan  Penelitian  Pangan  Era  Kenormalan  Baru  Menuju Indonesia  Maju' membiayai  penelitian  yang dilakukan  sebagai syarat  kelulusan meraih gelar  sarjana  S1.

Bantuan dana diserahkan secara simbolis ditandai dengan Penandatangan Memorandum of Understanding (MOU) dan dilaksanakan secara daring. Ketua Program IRN dan Direktur PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk Suaimi Suriady mengatakan melakukan penelitian di masa pandemi covid-19 menjadi tantangan tersendiri bagi mahasiswa yang akan menyelesaikan pendidikan sarjana.

"Bagi milenial yang akrab dengan teknologi, memanfaatkan kecanggihan teknologi menjadi salah satu pilihan yang efektif, mengingat adanya pembatasan sosial selama pandemi. Kita perlu terus menumbuhkan minat riset di kalangan generasi muda. Terlebih dengan adanya ancaman krisis pangan global akibat pandemi dan perubahan iklim, kita perlu terus menggali potensi sumber pangan yang kita miliki dan melahirkan inovasi di bidang pangan guna memperkuat sistem pangan nasional,” ujar Suaimi.

Di periode IRN kali ini, kata dia, jumlah proposal penelitian yang diterima mencapai 296. Setelah melalui tahap seleksi, Tim Pakar menetapkan 60 proposal yang berhak menerima bantuan dana riset. “Kami berharap, teman-teman  mahasiswa  dapat  memanfaatkan  kesempatan  ini  dengan  sebaik-baiknya.  Karena  tidak  hanya memperoleh  bantuan  dana,  mereka  juga  akan  mengikuti  pelatihan, coaching  clinic serta mendapatkan bimbingan dan pendampingan oleh pakar-pakar yang sudah dikenal baik di Indonesia maupun di tingkat global,” ujarnya. (A-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Maulana
Berita Lainnya