Rabu 09 September 2020, 06:05 WIB

Bertahan di saat Pandemi dengan Ide-Ide Kreatif

Humaira Balqis/X-11 | Ekonomi
Bertahan di saat Pandemi dengan Ide-Ide Kreatif

MI/ADAM DWI
Usaha kuliner Steggo atau steak and egg on the go ambil bagian dalam pelatihan wirausaha berbasis kuliner di Jakarta, Sabtu (5/9).

 

PANDEMI covid-19 memunculkan tantangan bagi usaha mikro, kecil, dan menengah. Bisnis kuliner menjadi salah satu sektor yang bertahan dan menjadi peluang bisnis tersendiri bagi UMKM.

Tengok misalnya, Steggo yang merintis steak and egg on the go sejak 2017. Kini Steggo turut merambah pasar makanan beku siap olah. Pemilik Steggo, Richie Lovino, menuturkan penjualan produk mentah meningkat saat pandemi. “Di masa pandemi, penjualan produk mentah mencapai 70% dan produk matang 30%,” ujarnya saat ditemui di gerai Steggo, Panglima Polim, Jakarta Selatan.

Dijelaskannya, perubahan perilaku konsumen di masa pandemi harus dimanfaatkan. Karena jarang bepergian, orang cenderung mencari berbagai kegiatan untuk mengisi waktu. Salah satunya dengan memasak sendiri dan mencoba berbagai resep dari internet.

Steggo menjawab kebutuhan itu. Caranya, produk daging steak Sugoi beku kini dilengkapi saus steak ala Steggo (Steggsauce), lengkap dengan peralatan masak seperti grill pan. “Kami juga melakukan jemput bola dengan membuka cabang baru di luar Jakarta supaya ongkos kirim yang harus dibayar calon pembeli bisa diminimalkan. Alhamdulillah penjualan meningkat,” kata Richie.

Peluang bisnis makanan di masa pandemi juga dimanfaatkan Sri Desmi Yorita, ibu rumah tangga yang berkecimpung di bisnis kuliner skala mikro berlabel Dapur Bucik sejak 2000. Ia memasarkan menu Dapur Bucik lewat laman media sosial dan bekerja sama dengan Gofood dari Gojek.

Penjualan nasi bakar dan lauk pauk khas Nusantara itu mendongkrak omzet Dapur Bucik. Dalam sebulan, Yorita mengumpulkan pendapatan bersih Rp2 juta-Rp3 juta dari penjualan pempek, srikaya, nasi bakar, dan lauk-pauk Nusantara.

“Setiap orang butuh makan. Ketika mereka tidak bisa belanja ke pasar, artinya mereka tidak bisa masak, tapi perut kan tetap harus diisi. Nah, di situlah peluang bisnisnya,” ujar Yorita.

Sementara itu, Nadia Atmaji menyiasati lesunya usaha pakaian pesta dengan merek mainadcollection miliknya dengan merambah bisnis masker kain Nusantara. Bersama kakaknya, Annisa Puspasari, dan ibunya, Endang Atmaji, ia menawarkan masker unik yang menggunakan kain wastra Nusantara, seperti lurik Yogyakarta, songket Bali, tenun Lombok, hingga kain sasirangan Kalimantan.

Hasilnya, produk mereka laris. Sekitar 300 masker kain laku terjual dalam waktu empat hari saja. “Alhamdulillah, kami tidak menyangka antusiasme pembeli begitu besar. Ternyata mereka senang dengan masker kain kami karena ada nilai edukatifnya, yaitu bisa tahu berbagai kain khas daerah” ungkap Annisa. (Humaira Balqis/X-11)

Baca Juga

Antara/Sigid Kurniawan

Menkeu: Belanja Daerah untuk Program PEN Sangat Lamban

👤Despian Nurhidayat 🕔Selasa 01 Desember 2020, 19:15 WIB
Bendahara Negara menilai sejumlah daerah mengalami kendala dalam serapan anggaran PEN. Seperti, kesulitan berkoordinasi dengan Satgas...
DOK BJB

Dirut bank bjb Yuddy Renaldi Raih Gelar Bankers of The Year 2020

👤mediaindonesia.com 🕔Selasa 01 Desember 2020, 18:15 WIB
Yang teranyar, kini platform mobile banking bjb DIGI kini telah dapat melayani proses pengajuan kredit...
Dok:Pusluhtan

Mentan Luncurkan Integrasi Simluhtan e-RDKK Berbasis NIK

👤mediaindonesia.com 🕔Selasa 01 Desember 2020, 13:55 WIB
KEMENTAN meluncurkan integrasi data Sistem Informasi Penyuluhan Pertanian (Simluhtan) dan Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (e-RDKK)...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya