Headline
Pelanggaran terhadap pembatasan operasional truk memperparah kemacetan.
Pelanggaran terhadap pembatasan operasional truk memperparah kemacetan.
Kumpulan Berita DPR RI
PULAU Dewata tak lagi ramai dikunjungi wisatawan sejak Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengumumkan pandemi Covid-19 di seluruh dunia. Imbasnya semua bisnis pariwisata di Bali menjadi lumpuh, termasuk usaha penukaran valuta asing (money changer).
Adalah Alvian Sampow, 46, pemilik usaha money changer di kawasan Jimbaran, mengaku pendapatan bisnisnya menurun sangat signifikan semenjak virus korona (Covid-19) meluas hingga ke Bali. Wabah Covid-19 telah memukul sektor pariwisata di banyak destinasi wisata di Bali, termasuk di Jimbaran, sehingga kunjungan wisatawan dan aktivitas ekonomi menjadi sepi.
“Dampaknya besar sekali apalagi buat pariwisata. COVID-19 ini membuat usaha turun banget, bisa pendapatan dalam sehari 0, karena tamunya [pengunjung] sudah tidak ada yang menukar, sudah tidak ada,” ujar Alvian yang telah menggeluti bisnis penukaran valuta asing selama 20 tahun, pada Selasa (14/4).
Alvian yang tengah dihadapkan pada situasi sulit mendapatkan titik terang saat dirinya tidak sengaja menonton sebuah berita di televisi. Tayangan televisi itu menginformasikan bahwa pemerintah memberikan kelonggaran kredit baik yang diberikan oleh perbankan ataupun industri keuangan nonbank, berupa penundaan cicilan hingga satu tahun dan juga penurunan bunga.
Di saat itulah, Alvian yang merupakan nasabah Bank BRI selama 11 tahun ini, menghubungi kantor cabang terdekat untuk mengajukan keringanan pinjaman. “Waktu nonton TV, saya melihat berita pemerintah ada relaksasi keringanan, dari situ saya langsung mengajukan ke BRI."
Selama pengajuan keringanan Alvian mengaku bahwa prosesnya relatif mudah dan cepat, sehingga dirinya tidak perlu menunggu lama untuk mendapatkan relaksasi kredit tersebut. Dia menambahkan bahwa keringanan yang didapatnya sangatlah menguntungkan untuk perkembangan bisnisnya.
“Keringanan yang diberikan sangat membantu, karena pemasukan menurun. Jadi kalau otak sudah tenang tidak perlu mikir harus bayar pinjaman begini-begini, kerja bisa fokus ya, walau penghasilannya tidak seperti biasanya,” urai Alvian.
Pria asal Manado ini menceritakan sebelum wabah Covid-19 meluas, bisnis penukaran valas yang dijalankannya selalui ramai oleh pengunjung baik domestik maupun turis luar negeri, sehingga menghasilkan pendapatan yang relatif besar.
Dalam situasi normal, Alvian bisa mengantongi omzet sekitar Rp500 ribu per hari atau sekitar Rp12 juta-Rp15 juta per bulan. Bahkan untuk meningkatkan usahanya, Alvian bekerja sama dengan money changer skala besar guna memenuhi kebutuhan valas.
“Usaha money changer bukan usaha satu-satunya, kadang-kadang saya juga mengantar tamu [wisatawan], tetapi sekarang tamunya [turis] saja sudah tidak ada. Paling orang domestik yang menukar uang, tetapi juga sekarang terpengaruh imbauan physical distancing,” tutur Alvian.
Sepinya kunjungan wisatawan dan turunnya permintaan akan penukaran valuta asing membuat bapak dari tiga orang anak ini memutar otak.
Alvian pun berupaya mendapatkan pemasukan lain dengan mencoba-coba dagang online. Pasalnya, pendapatan dari usaha money changer tak lagi dapat diandalkan Alvian untuk mencukupi kebutuhan keluarga, pun untuk memenuhi kewajiban di bank.
"Sekarang ini nasabah-nasabah juga sangat terbantu adanya program dari BRI ini dan semoga saja Covid-19 bisa selesai. Jadi bisa berusaha lagi kerja lagi, untuk sekarang ini memang terbantu sekali dengan adanya program ini," tambah Alvian.
Dia berharap wabah Covid-19 segera berlalu agar aktivitas pariwisata dan ekonomi kembali pulih, sehingga roda bisnis money changer dan usaha sampingannya dapat kembali bergeliat.
Dalam kebijakan relaksasi kredit, BRI sebagai bank yang concern terhadap pemberdayaan sektor UMKM, memberikan keringanan bagi pelaku usaha yang mengalami penurunan usaha akibat wabah Covid-19.
Hal tersebut sebagai wujud nyata bahwa BRI terus mendukung keberlangsungan usaha sektor UMKM dan meningkatkan layanan kepada nasabahnya di tengah kondisi yang menantang akibat pandemi Covid-19. (OL-09)
SOLUSI pendanaan cepat melalui GrabModal by OVO Finansial telah hadir sebagai dukungan nyata bagi mitra usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) memanfaatkan tingginya aktivitas digital selama Ramadan 2026 untuk meningkatkan promosi dan penjualan melalui platform TikTok.
Laporan IMF Article IV 2026 mencatat UMKM Indonesia menghadapi biaya pinjaman jauh lebih tinggi dan prosedur aplikasi pinjaman lebih kompleks daripada negara-negara serupa.
Kegiatan Pasar Rakyat “Berbelanja dan Berbagi” direncanakan akan dilaksanakan secara rutin setiap bulan dengan lokasi yang bergiliran di seluruh kabupaten/kota di Bali.
Program ini diperuntukkan bagi pelaku UMKM yang ingin menjadi mitra program tersebut.
Kementerian Koperasi (Kemenkop) resmi menjalin kerja sama dengan Pengurus Besar Al Jam’iyatul Washliyah untuk memperkuat pengembangan koperasi dan pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Pentingnya penerapan prinsip pengenalan nasabah yang mendalam.
KEPALA Eksekutif Pengawas Perbankan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Dian Ediana Rae menegaskan kinerja intermediasi perbankan tetap tumbuh positif dengan profil risiko yang terjaga.
Bank Mandiri menilai perpanjangan penempatan dana Saldo Anggaran Lebih (SAL) oleh Kementerian Keuangan dapat memperkuat likuiditas perbankan.
Di tengah persaingan industri perbankan yang semakin kompetitif, program loyalitas menjadi salah satu strategi utama untuk mempertahankan dana pihak ketiga.
Meningkatnya ancaman kejahatan daring seperti phishing, social engineering, dan serangan siber lainnya mendorong perusahaan perbankan untuk terus memperkuat sistem keamanannya.
Inflasi Januari 2026 naik ke 3,55%. Bank Indonesia menahan BI Rate di 4,75% jelang Ramadan dan Idulfitri, seiring tekanan musiman dan nilai tukar rupiah.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved