Headline
Pemerintah pelajari seluruh risiko menyusul putusan MA AS.
Pemerintah pelajari seluruh risiko menyusul putusan MA AS.
Kumpulan Berita DPR RI
MAKIN pesatnya pertumbuhan teknologi finansial (tekfin), khususnya industri asuransi, di Indonesia, berbanding lurus dengan perkembangan potensi ancaman siber yang timbul.
Untuk itu, Indonesia Re Institute hadir untuk mendampingi para pelaku industri asuransi mengantisipasi berbagai ancaman digital yang tak hanya akan merugikan korporasi, tapi juga konsumen.
Direktur Pengembangan, Manajemen Risiko dan Kepatuhan Indonesia Re Putri Eka Kusumawati Sjarief mengatakan, industri akan semakin mengandalkan big data dan Internet of Things. Tapi di sisi lain, potensi ancaman sibernya begitu besar
"Lewat Indonesia Re Institute, kami ingin menjadi mitra industri untuk tak hanya menghadapi tantangan tersebut, tapi juga memanfaatkan semakin pesatnya perkembangan teknologi di industri asuransi," ujarnya seperti dikutip dari Antara.
Baca Juga: Bea Cukai Banten Terbitkan Izin KB Perusahaan Pengolah Biji Nikel
Hadirnya Indonesia Re Institute dilatarbelakangi oleh semakin tingginya tuntutan pasar dan semakin ketatnya persaingan di industri asuransi nasional. Oleh karena itu, Indonesia Re, sebagai BUMN yang ditunjuk pemerintah menjadi Perusahaan Reasuransi Nasional (PRN) merasa bertanggung jawab untuk turut meningkatkan standar praktik asuransi, tata kelola risiko pereasuransian, serta menjajaki peluang untuk mengembangkan produk asuransi yang lebih beragam dalam rangka memenuhi kebutuhan seluruh pemangku kepentingan industri asuransi.
Untuk semakin memperkuat kapabilitasnya, Indonesia Re Institute akan bekerjasama dengan sejumlah institusi akademik yang ternama di dalam dan luar negeri.
"Kami akan bekerjasama dengan Universitas Indonesia, Institut Teknologi Bandung, Institut Pertanian Bogor, SIGMA, dll," tukasnya. (Ant/OL-7)
Data Badan Perlindungan Konsumen Nasional (BPKN) RI menunjukkan tren peningkatan pengaduan serta lonjakan kerugian finansial konsumen dari tahun ke tahun.
Pelaku usaha kini bisa daftar QRIS, terima pembayaran semua bank dan e-wallet, serta pencairan dana tiap jam.
Di tengah ekspansi ekonomi digital yang kian cepat, industri financial technology (fintech) Indonesia memasuki fase baru: dari mengejar pertumbuhan.
Meski potensi ekonomi digital besar, Indonesia masih menghadapi tantangan serius pada aspek literasi.
Peran AI sebagai intelligent trust, bukan pengganti tanggung jawab manusia, melainkan alat untuk memperkuat transparansi, keadilan distribusi, dan pengambilan keputusan beretika.
Bank Indonesia melakukan reformasi pengaturan industri sistem pembayaran, salah satunya Transaksi, Interkoneksi, Kompetensi, Manajemen Risiko, dan Infrastruktur Teknologi Informasi.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved