Headline
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Kumpulan Berita DPR RI
GARUDA Indonesia Group dan Sriwijaya Air Group kembali menyepakati komitmen kerja sama manajemen (KSM) yang sempat terhenti akibat ketegangan kedua belah pihak beberapa waktu lalu.
Dengan terjalinnya kembali komitmen kerja sama itu, operasional Sriwijaya Air Group yang sempat terseok-seok kembali pulih.
Anak usaha Garuda, yakni PT Garuda Maintenance Facility (GMF) AeroAsia Tbk, akan kembali melakukan jasa perawatan bagi pesawat Sriwijaya dan Nam Air. Dengan demikian, pesawat-pesawat milik Sriwijaya Group yang sempat berhenti mengudara dapat terbang kembali.
Direktur Citilink Indonesia Juliandra Nurtjahjo dalam konferensi pers di Tangerang, Banten, kemarin, menjelaskan ada beberapa faktor yang menjadi pertimbangan pihaknya kembali menjalin kerja sama dengan Sriwijaya.
Pertama terkait safety atau kelaikan pesawat-pesawat Sriwijaya yang perlu diperhatikan. Menurutnya, safety menjadi prioritas utama dalam dunia penerbangan.
Kemudian terkait kepentingan pelanggan. “Kepentingan pelanggan sangat menjadi pertimbangan kenapa kita berkomitmen lagi untuk melanjutkan kerja sama manajemen,” jelasnya.
Faktor ketiga yang jadi pertimbangan ialah bagaimana menyelamatkan aset Sriwijaya sebagai aset negara. Pihaknya ingin mendukung dan mendorong kondisi Sriwijaya untuk menjadi lebih baik lagi.
Faktor keempat, ia menyebutkan pihaknya ingin menciptakan ekosistem penerbangan di Indonesia yang sehat. Dengan mendukung Sriwijaya, banyak hal yang bisa diperbaiki untuk transportasi udara Indonesia yang lebih baik.
“Dari alasan-alasan tersebut kita berkomitmen melanjutkan kerja sama lagi, dimulai dengan dukungan operasional secara bertahap kepada pesawat-pesawat Sriwijaya Air,” imbuhnya.
Dalam kesempatan yang sama, Plt Direktur Utama Sriwijaya Air Jefferson I Jauwena menyambut baik upaya melanjutkan kerja sama manajemen tersebut. “Kita memulai lagi pelayanan dengan keselamatan penerbangan yang bisa kita capai,” ujarnya.
Menyehatkan
Saat ini, Sriwijaya Air mempunyai utang yang cukup besar. Selain kepada Garuda Indonesia Group, Sriwijaya Air Group juga menunggak utang kepada BUMN lain, yaitu PT Pertamina, Angkasa Pura I dan II, Airnav Indonesia, serta lainnya dengan total Rp2,46 triliun terhitung pada Oktober 2018.
“Apabila kerja sama ini lancar, Sriwijaya bisa sehat kembali. Utang yang cukup besar bisa dibayar mengingat Sriwijaya Group mengoperasikan sekitar 55 pesawat dan sebagian besar merupakan milik sendiri. Hanya mungkin cashflow yang agak terganggu akhir-akhir ini,” ujar anggota Ombudsman RI Bidang Perhubungan dan Infrastruktur Alvin Lie ketika dihubungi.
Kementerian Perhubungan melalui Direktorat Jenderal Perhubungan Udara mengapresiasi langkah rujuk Garuda dan Sriwijaya.
Direktur Jenderal Perhubungan Udara, Polana B Pramesti, berharap krejasama itu mampu memulihkan kondisi operasional maskapai Sriwijaya Group dan mendukung industri penerbangan nasional. (Ant/E-1)
Seluruh prosedur keselamatan dijalankan sesuai standar operasional. Pilot dinilai mampu mengendalikan situasi hingga pesawat mendarat dengan aman di Sydney.
Direktur Utama (Dirut) Garuda Indonesia Glenny H Kairupan menegaskan tidak ada awak kabin yang mengalami cedera serius dalam insiden turbulensi penerbangan GA 712 rute Jakarta–Sydney.
Anggota Komisi VI DPR RI, Christiany Eugenia Tetty Paruntu, menyoroti penataan manajemen dan arah transformasi baru Garuda Indonesia pascapengangkatan direksi baru.
Penyelamatan Garuda harus dimulai dari sektor operasional yang selama ini membebani keuangan. Proses pemulihan penuh membutuhkan waktu dua tahun.
Suntikan dana ini akan memperkuat struktur permodalan dan memastikan keberlanjutan pencatatan saham Garuda di Bursa Efek Indonesia.
Setiap pelanggan dapat melakukan satu kali penukaran pada setiap skema mulai dari 30.000, 150.000, dan 300.000 poin.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved