Headline
Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.
Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.
Kumpulan Berita DPR RI
SEJAK Juli 2019 lalu Bank Indonesia (BI) telah menurunkan suku bunga tiga kali berturut-turut. Kini, suku bunga BI 7 Days Reverse Repo Rate (BI7DRRR) berada di level 5,25 %. Meski begitu, penurunan suku bunga acuan itu ternyata belum diimbangi dengan peningkatan kredit yang signifikan.
Pengamat Ekonomi dan Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, Willem A Makaliwe mengungkapkan langkah yang diambil BI sudah tepat. Akan tetapi ia menilai BI seharusnya masih bisa menurunkan suku bunga acuan.
"Langkah BI menurunkan sudah cukup baik, tapi masih mungkin untuk diturunkan lagi. Terutama bagaimana mereka mendorong perbankan untuk mendapat ekspansi kredit dari sektor riil," jelasnya ketika dihubungi Media Indonesia, di Jakarta, Minggu (22/9).
BI sebenarnya masih bisa menurunkan suku bunga mengingat respons perbankan dan kreditur yang belum menunjukan peningkatan kredit perbankan. Hal tersebut juga menjadi alasan kredit perbankan di Indonesia masih loyo.
"Angkanya di 5,25 % dan sebagai patokannya inflasi sekitar 3%-3,5%. Berarti masih ada jarak 2% untuk turun," tambahnya.
Menurutnya penurunan suku bunga bank sangatlah penting untuk mendorong peningkatan kredit perbankan. Langkah itu pun sudah dibuat BI secara bertahap sejak Juli 2019. Begitu pula dengan perbankan secara bertahap menyesuaikannya.
Di sisi lain, Wilem memandang persoalan kredit perbankan yang kurang signifikan bukan semata persoalan suku buang acuan yang dinilai masih tinggi. Permasalahan lain menurutnya ialah kurangnya kreativitas perbankan dalam menyalurkan kredit.
"Yang kita harapkan produk-produk itu tidak hanya interest base atau basis suku bunga tapi juga berbasis fee (fee based income). Itu yang kurang diekspansi, sehingga pergerakan naik turun suku bunga tidak terlalu pengaruh," imbuhnya.
Fee based income, menurutnya, akan lebih mendorong peningkatan kredit. Hal tersebut karena bank-bank juga akan turut mendukung usaha kreditur. Dengan demikian, tidak hanya pendapatan daru jasa bank tapi juga proses pengembalian kredit yang lancar dan bisa terus meningkat. (X-12)
Bank Indonesia melakukan reformasi pengaturan industri sistem pembayaran, salah satunya Transaksi, Interkoneksi, Kompetensi, Manajemen Risiko, dan Infrastruktur Teknologi Informasi.
BANK Indonesia (BI) memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 berada di kisaran 4,9%–5,7%. Angka ini lebih tinggi dibandingkan proyeksi 2025 yang berada pada rentang 4,7%–5,5%.
KETUA Komisi XI Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI), Mukhamad Misbakhun meminta agar Bank Indonesia (BI) untuk menjaga nilai tukar rupiah pada angka-angka yang moderat.
RAPAT Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) memutuskan mempertahankan suku bunga acuan atau BI-Rate tetap berada pada level 4,75 persen mempertahankan stabilitas nilai tukar rupiah
Selain faktor suku bunga, Deni menilai bahwa kondisi neraca pembayaran pemerintah juga turut memberikan tekanan.
Gubernur BI Perry Warjiyo mengungkap pelemahan rupiah dipicu tekanan global dan domestik, dengan modal asing keluar Rp25,1 triliun pada Januari 2026.
PT Bank Negara Indonesia (BNI) dinilai berada pada posisi yang lebih siap memasuki 2026 dibandingkan bank-bank besar lainnya.
Menurut Pramono, pencatatan saham Bank Jakarta di BEI tidak hanya akan meningkatkan kepercayaan publik, tetapi juga mendorong profesionalisme perusahaan.
MENTERI Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengaku telah menarik dana pemerintah sebesar Rp75 triliun dari total penempatan Rp276 triliun Saldo Anggaran Lebih (SAL) di sistem perbankan.
MANTAN Kepala PPATK Yunus Husein menilai pemajangan uang tunai hasil rampasan kasus korupsi dan sitaan negara oleh aparat penegak hukum tidak diperlukan dan cenderung tidak efisien.
PERUBAHAN status Bank Syariah Indonesia (BSI) menjadi persero dinilai memperkuat posisi bank tersebut, terutama dari sisi kredibilitas dan persepsi keamanan.
Bank Indonesia (BI) menyebut penurunan suku bunga kredit perbankan cenderung lebih lambat. Karena itu, BI memandang penurunan suku bunga kredit perbankan perlu terus didorong.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved