Headline
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Kumpulan Berita DPR RI
SUMBER daya alam yang melimpah, struktur geografi yang didominasi dengan lautan serta memiliki kekayaan rempah menjadi salah satu penyebab kayanya cita rasa kuliner di Indonesia.
Sayang rasanya bila kekayaan kuliner itu tidak dimanfaatkan dengan maksimal. Culinary Storytaller, Ade Putri Paramadita, mengatakan, kuliner sejatinya bisa menciptakan industri baru yang menghubungkan antara kuliner dan pariwisata.
"Semenjak era sosial media semua orang selalu ingin menceritakan pengalamannya, kalau dulu kebanyakan tentang pemandangan, sekarang justru sudah menyentuh kepada kebudayaan seperti tarian, upacara adat, termasuk kuliner," ucap Ade dalam Asian Creative and Digital Economy Youth Summit (ACE-YS) 2023 di Jakarta, Minggu (29/10).
Diterangkan Ade, industri antara kuliner-parawisata dapat berbentuk layaknya jasa pemandu wisata (tour guide) bagi turis-turis mancanegara. Bedanya, industri tersebut lebih fokus kepada pengenalan kuliner-kuliner khas daerah yang dikunjungi.
Untuk dapat menciptakan industri baru tersebut tentu perlu kolaborasi yang baik antara pemerintah dan penyedia jasa. Saat ini, sejatinya sudah ada beberapa penyedia layanan jasa kuliner namun mereka lebih banyak berjalan sendiri dan kurang terlihat gaungnya.
"Bagaimana caranya pemerintah harus bisa mengintegrasikan itu, menjadikan kota-kota yang ada di Indonesia sebagai destinasi kuliner," kata Ade.
"Sebagai contoh, Jakarta itu punya peta panduan (untuk turis), seharusnya maps Jakarta itu bukan hanya musem tapi ada tempat-tempat yang memang sudah dijadikan lokasi kuliner, misalnya mau makan Laksa betawi, lokasinya di mana?" imbuhnya.
Baca juga: Pentas Budaya dan Kuliner Minangkabau 'Takana Jo Kampuang' Hadir di Cibubur Junction
Ade menyebut, pemerintah juga bisa megeluarkan sejumlah standar kepada pengusaha tempat makan untuk meningkatkan kualitas restoran mereka, agar para turis merasa nyaman untuk mencicipi kuliner nusantara.
"Menurut saya, tempat-tempat makan itu harus dipantau, untuk memberikan standardisasi tertentu. Karna masih banyak turis-turis luar negeri ragu misalnya warung kaki lima, apa masih layak makan," ungkap Ade.
"Padahal tidak semua makanan kaki lima itu tidak layak makan, cuma memang untuk standardisasi tertentu mereka akan lihat kok kotor sih, kok nggak bersih. Kalau aku pribadi mungkin masih oke tapi untuk mereka kan berbeda," jelasnya.
Ade menilai jika hal-hal ini dapat diperhatikan pemerintah, tentu industri baru ini bisa menjanjikan karena tidak hanya mendorong pertumbuhan pariwisata, namun juga menggerakan roda perekonomian di dalam negeri khususnya para pengusaha makanan maupun penyedia layanan jasa.
"Hal-hal ini kalau bisa diintregasikan dengan baik, pasti akan memiliki banyak manfaat," tukasnya.(M-4)
Meski secara konsisten masuk dalam jajaran sepuluh besar setiap tahunnya, ini adalah kali pertama Bali menempati posisi puncak dalam sejarah penilaian TripAdvisor.
Pendapatan bulanan tempat wisata melonjak dari rata-rata Rp12 juta menjadi sekitar Rp32 juta per bulan, seiring dengan meningkatnya kunjungan wisatawan lokal maupun mancanegara.
Kebijakan itu diharapkan bisa menarik pengunjung, sehingga meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD).
Dubai mencatat 17,55 juta wisatawan internasional sepanjang Januari-November 2025. Kota ini kian diminati berkat akses penerbangan, hotel beragam, dan wisata inklusif.
Ingin melancong ke Uni Emirat Arab? Ini 7 destinasi yang cocok bagi Gen Z dan Milenial yang ingin berkunjung ke Dubai.
Selain menjadi pusat operasional regional, kantor pusat ini pun dirancang untuk menampung berbagai aktivitas korporasi.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved