Headline
Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.
Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.
Kumpulan Berita DPR RI
SEKITAR empat dekade lalu, Jos Avery diberi hadiah kamera. Sejak saat itu ia pun tergila-gila dengan fotografi. Pada September lalu, hobinya jeprat-jepret ini semakin terbantu dengan program Artificial Inteligence/AI (kecerdasan buatan) dari Midjouney. Dengan bantuan ini, ia mampu ‘menipu’ ribuan pengikutnya di Instagram dengan menghasilkan gambar liar dan indah dari instruksi teks singkat.
"Segera setelah mulai mencoba Midjourney, saya menjadi terobsesi dengan kemungkinan kreatif," kata Avery seperti dilansir AFP, Minggu (9/4)
Midjourney ialah program dan layanan kecerdasan buatan yang dibuat dan diselenggarakan oleh laboratorium penelitian independen yang berbasis di San Francisco, Midjourney, Inc. Midjourney menghasilkan gambar dari deskripsi bahasa alami, yang disebut "prompts", mirip DALL-E OpenAI dan Stable Diffusion.
Midjourney dan saingannya seperti DALL-E 2 dan Stable Diffusion menghasilkan gambar unik dengan menggabungkan katalog gambar yang telah mereka "latih".
Bagi Avery, seorang insinyur perangkat lunak dan pengacara berusia 48 tahun, Midjourney membuatnya semakin leluasa menghasilkan foto indah dan kadang absurd.
Menyesatkan
Dia memulai eksperimennya di akun Instagramnya untuk menyimpan output Midjourney-nya, tanpa memberi tahu tentang asal-usul gambar tersebut. Artinya, ia tidak menyebutkan bahwa itu merupakan hasil olahan dengan bantuan kecerdasan buatan dari Midjourney.
“Awalnya, saya tidak berpikir banyak orang mengira gambar itu adalah foto asli. Padahal mata dan kulitnya tidak realistis," ujarnya.
Dia kemudian memperbaiki kelemahan itu dengan bantuan Adobe Photoshop. Hasilnya foto itu nyaris sempurna sehingga instagram-nya banyak yang suka. Isinya adalah potret yang menakjubkan dan gamblang dari orang-orang yang cantik, tetapi sebetulnya tidak nyata.
Banyak dari follower-nya mengira itu gambar asli. "Orang-orang akan bertanya di kolom komentar tentang perlengkapan kamera dan lensa yang saya pakai," katanya.
"Saya akan menanggapi dengan menyebutkan peralatan yang benar-benar saya gunakan untuk foto asli atau peralatan yang saya sertakan sebagai bagian dari prompt."
Dia mengakui jawabannya "menyesatkan" karena mereka (para follower-nya) mengira dia menggunakan perlengkapan yang ada di kameranya saja untuk membuat gambar spesifik itu.
Namun, bukannya 'bertobat', Avery malah semakin mendalami penipuannya. Ia menghabiskan berjam-jam memilih dan mengedit gambar untuk meningkatkan hasilnya agar terkesan nyata. Jumlah pengikutnya pun meningkat dengan cepat, dan eksperimennya sukses.
“Ini di luar ekspektasi. Pengikut yang tertipu dan jawaban saya yang menyesatkan, membuat saya merasa tidak nyaman, dan saya sulit tidur di malam hari," kata Avery.
Dia akhirnya membuat ‘pengakuan dosa’ dengan memberi tahu hal sesungguhnya di situs web spesialis Ars Technica apa yang telah dia lakukan. Ia juga menambahkan di biografi Instagram-nya bahwa karya-karya fotonya itu berkat bantuan AI (kecerdasan buatan) dan mulai memberikan jawaban jujur kepada pengikutnya. "Sejak saat itu aku bisa tidur lebih nyenyak," katanya.
Tentu saja sebagian yang merasa tertipu ada yang mengecam dan membully-nya sehingga Avery terpaksa memblokir beberapa pengikutnya. "Saya harus memblokir sekitar 30 orang," ujarnya. Namun, menurut Avery reaksi pengikutnya secara keseluruhan positif, dan akun Instagram-nya, sekarang dengan hampir 40.000 pengikut, masih terus bertambah.
Sekarang dia mengisinya dengan fotografi nyata dan gambar berlabel jelas yang dihasilkan dari Midjourney. Dia mengatakan teknologi AI sangat bermanfaat, membantunya menemukan kecintaan pada fotografi potret wajah. Tapi, sisi negatifnya, sekali lagi dia tidak bisa tidur nyenyak. Namun, kali ini karena harus begadang sepanjang malam mengotak-atik gambar di Midjourney. (AFP/M-3)
SAP SE (NYSE: SAP) mengumumkan dua penunjukan kepemimpinan strategis yang bertujuan mempercepat pertumbuhan bisnis ekonomi digital di Indonesia dan kawasan Asia Tenggara.
DI tengah gempuran outcome artificial intelligence, otomatisasi, dan disrupsi digital, banyak yang meragukan masa depan profesi akuntan publik.
Kehadiran infrastruktur AI lokal memungkinkan institusi kesehatan untuk mengembangkan inovasi digital secara berkelanjutan tanpa mengorbankan aspek keamanan dan kepercayaan publik.
PERUBAHAN sering bergerak seperti arus di laut dalam; tak tampak di permukaan, tapi cepat dan kuat menentukan arah.
Tanpa pengawasan yang tepat, agen AI yang mampu mengambil keputusan dan memproses data sensitif secara mandiri dapat memicu kerusakan fatal.
PENDIDIKAN abad ke-21 menghadapi tantangan bagaimana mengintegrasikan teknologi tanpa mengabaikan nilai kemanusiaan
Kemitraan strategis ini adalah jawaban atas kebutuhan pasar Indonesia yang terus berkembang, khususnya di segmen fotografi gaya hidup.
Program Studi Ilmu Komunikasi UniversitasDian Nusantara (Undira) menggelar pameran fotografi bertajuk Kreativitas Tanpa Batas dalam Lensa .
Kekayaan budaya Indonesia kembali diperkenalkan ke publik melalui medium fotografi dalam ajang vivo Imagine Awards 2025.
VIVO resmi merilis ponsel flagship teranyar mereka di tanah Air, adalah Vivo X300 dan X300 Pro. Lewat ponsel itu, vivo menghadirkan loncatan besar dalam inovasi teknologi kamera,
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menegaskan aktivitas fotografi di ruang publik, tidak dikenai biaya.
Pameran Fotografi Indonesia 80 Tahun Keberagaman, Potret Bangsa dalam Lensa
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved