Headline
Ada kelompok yang nyaman dengan kelakuan lama, ingin intervensi meski tak lagi berkuasa.
Ada kelompok yang nyaman dengan kelakuan lama, ingin intervensi meski tak lagi berkuasa.
Kumpulan Berita DPR RI
PENYANYI dangdut Lesti Kejora melaporkan tindak Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) yang diduga dilakukan oleh suaminya, Rizky Billar ke Polres Jakarta Selatan, Rabu (28/9). Sejauh ini belum ada informasi lebih jauh terkait kekerasan yang dialami oleh Lesti.
Terlepas dari kasus tersebut, kekerasan pada pasangan tak hanya seputar pada kekerasan fisik saja. Melansir dari situs Psychology Today, Departemen Kehakiman Amerika Serikat (United States Department of Justice) mendefinisikan kekerasan dalam rumah tangga sebagai pola perilaku kasar dalam hubungan apa pun yang digunakan oleh satu pasangan untuk mendapatkan atau mempertahankan kendali atas pasangan mereka.
KDRT dapat bersifat fisik atau psikologis, dan dapat memengaruhi siapa saja dari segala usia, jenis kelamin, ras, atau orientasi seksual. KDRT biasanya melibatkan dinamika kekuasaan yang tidak setara di mana satu pasangan mencoba untuk menegaskan kendali atas yang lain dengan berbagai cara. Korban KDRT dapat mengalami penurunan harga diri, kecemasan, depresi, dan rasa tidak berdaya secara umum yang membutuhkan waktu dan seringkali bantuan profesional untuk mengatasinya.
Berikut beberapa macam kekerasan yang kerap dilakukan oleh pasangan, seperti dikutip dari Very Well Mind, situs kesehatan mental.
1. Pelecehan Seksual
Memaksa pasangan untuk berpartisipasi dalam tindakan seks tanpa persetujuan eksplisit mereka. Pelecehan seksual juga mencakup setiap kontak seksual antara orang dewasa dan pasangan yang berusia di bawah 18 tahun.
2. Kekerasan Fisik
Kekerasan fisik nyatanya tidak selalu berarti tubuh korban yang langsung mengalami kekerasan. Kekerasan fisik mencakup tindakan seperti melempar barang, membenturkan pintu, atau meninju tembok.
3. Pelecehan Emosional
Pelecehan emosional yang kerap terjadi dalam rumah tangga, di antaranya adalah:
- Melemahkan harga diri seseorang dengan mengkritik mereka terus-menerus atau menyudutkan pasangan atas berbagai tindakan mereka.
- Memanggil pasangan dengan nama yang tidak mereka inginkan.
- Mengisolasi pasangan dari keluarga dan teman-temannya.
- Memantau segala aktivitas pasangan dan mengekangnya.
4. Pelecehan Psikologis
Pelecehan psikologis dapat berdampak jangka pendek dan panjang. Ini dilakukan dengan tindakan sebagai berikut:
- Meneror pasangan.
- Mempermainkan pikiran mereka.
- Mengancam akan menyakiti pasangan atau orang yang mereka cintai.
5. Penyalahgunaan Keuangan
Tindakan KDRT yang berwujud lewat keuangan, diantaranya adalah:
- Mempertahankan kendali penuh atas keuangan bersama.
- Menahan akses pasangan ke uang.
- Mencegah atau menghalangi pasangan untuk dapat memiliki kesempatan atau akses menjadi mandiri secara finansial.
6. Menguntit
Pola perilaku yang dimaksudkan untuk melecehkan, mengganggu, menakut-nakuti, atau menyakiti pasangan. Menguntit dapat melibatkan perilaku seperti:
- Menelepon pasangan terus-menerus untuk mengetahui keberadaan mereka.
- Mengikuti pasangan saat mereka menjalani hari mereka.
- Menemukan cara untuk memata-matai pasangan saat mereka di rumah atau bekerja.
7. Penyalahgunaan Daring
Menggunakan berbagai platform seperti email, media sosial, dan platform digital lainnya untuk melecehkan, menyalahgunakan, menguntit, mengancam, menggertak, atau memanipulasi pasangan. (M-1)
Remaja lebih mudah tergoda melakukan hal-hal yang menyenangkan atau sedang tren karena sistem limbik mereka lebih dominan
Ada mekanisme psikologis dan neurologis yang sangat kompleks yang membuat manusia modern begitu terobsesi dengan urusan privasi orang lain, seperti netizen yang terobsesi dengan artis.
PEMAHAMAN mendalam mengenai tahapan perkembangan psikologi anak bukan sekadar wawasan tambahan, melainkan fondasi utama dalam pola asuh modern di tahun 2026.
Psikologi menyebut orang yang memasak sambil membersihkan dapur memiliki 8 kepribadian kuat, mulai dari disiplin, mindfulness, hingga manajemen waktu yang baik.
Studi terbaru mengungkap teknik "meta-cognitive doubt". Meragukan pikiran negatif ternyata lebih efektif untuk kembali berkomitmen pada tujuan jangka panjang.
Korps Relawan Bencana di bawah Himpunan Psikologi Indonesia (Himpsi), melaksanakan rangkaian Psychosocial Support Program bagi anak-anak yang terdampak gempa bumi di Kabupaten Poso.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved