Sabtu 16 Juli 2022, 07:45 WIB

Era Televisi Digital di Depan Mata

Putri Rosmalia | Weekend
Era Televisi Digital di Depan Mata

Dok. 123RF

 

SETELAH lebih dari sepuluh tahun direncanakan, Indonesia akhirnya memulai proses analog switch-off (ASO). ASO merupakan proses migrasi saluran televisi analog menjadi digital atau lebih dikenal dengan proses digitalisasi televisi.

Dalam laman resmi Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kemenkominfo), disebutkan siaran televisi analog yang telah mengudara selama hampir 60 tahun di Indonesia akan digantikan siaran televisi digital selambat-lambatnya pada 2 November 2022 mendatang. Untuk mempermudah prosesnya, ASO dilakukan dalam tiga tahapan.

Tahap pertama dilaksanakan pada 30 April 2022. Tahap kedua 25 Agustus 2022 dan tahap ketiga atau paling akhir, 2 November 2022. Pada November mendatang, ditargetkan ASO akan sudah terlaksana secara penuh di 22 provinsi. Untuk memudahkan masyarakat, pemerintah juga membagikan perangkat penunjang siaran digital berupa set top box atau decoder secara gratis pada masyarakat.

Bukan tanpa alasan, digitalisasi televisi dikatakan banyak pakar sebagai keniscayaan. Negara-negara di dunia juga telah melakukan digitalisasi jauh sebelum Indonesia. Luksemburg dan Belanda merupakan negara-negara di dunia yang pertama kali sukses melakukan digitalisasi televisi secara total pada 2006.

Di ASEAN, Malaysia menjadi negara pertama yang sukses melakukan digitalisasi televisi secara total pada 2019. Sama seperti Indonesia, Malaysia membutuhkan beberapa tahun untuk bisa melakukan ASO secara total. Sementara itu, Singapura menjadi negara pertama di dunia yang melakukan ASO secara serempak di seluruh wilayah negaranya pada 2019.

Terdapat beberapa keuntungan dengan dilakukannya digitalisasi televisi. Keuntungan paling terlihat dan bisa langsung dirasakan penonton televisi ialah meningkatnya kualitas siaran. Kualitas gambar hingga suara dari televisi digital disebut jauh berada di atas kualitas siaran televisi analog.

Sebagai contoh, ketika menggunakan siaran televisi berbasis analog, kerap kali kualitas gambar mendadak menurun dan buram ketika antena bergerak atau terbawa angin. Ketika sudah menggunakan siaran digital, hal-hal seperti itu akan terminimalisasi dengan sangat signifikan. Penonton televisi juga tak perlu susah payah membenarkan posisi antena.

Menariknya, dengan perangkat televisi digital seperti decoder, saluran televisi atau channel yang didapat akan jauh lebih banyak. Tentunya tanpa perlu lagi membayar biaya bulanan televisi berlangganan.

 

Suplai frekuensi

Selain berpengaruh dari segi kualitas siaran, ASO disebutkan juga akan menciptakan efisiensi dalam berbagai aspek. Salah satunya dalam ketersediaan frekuensi, khususnya pita frekuensi 700 Mhz.

Pita frekuensi 700 Mhz merupakan sumber daya yang sangat terbatas yang hingga saat ini masih didominasi siaran televisi analog. Padahal, dengan ruang yang lebih besar pada frekuensi tersebut, Indonesia akan memiliki kesempatan meningkatkan performa jaringan internet.

Dengan peningkatan itu, pemerintah memperkirakan akan terjadi pergerakan ekonomi digital yang lebih pesat. Setidaknya 232 ribu lapangan kerja dalam bidang ekonomi digital akan tercipta dengan adanya frekuensi sisa atau dividen digital tersebut.

“Memang kalau bicara efisiensi tentu saja akan lebih efisien. Begitu juga dengan keuntungan dari sektor ekonomi digital. Kalau jaringan internet bisa lebih baik lagi setelah ASO ini, tentu pergerakan ekonomi juga akan lebih pesat,” ujar pakar ekonomi digital Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Nailul Huda, ketika dihubungi pada Kamis (14/7).

Meski tak mudah, Huda meyakini proses ASO akan dapat berjalan hingga mencapai target yang ditentukan. Karena itu, pemerintah harus lebih gencar menyosialisasikan tentang program tersebut dan membagikan perangkat decoder ke masyarakat yang membutuhkannya.

“Kalau masyarakat sudah paham, pasti mereka juga akan lebih mau bergerak untuk ikut programnya karena mereka tahu setidaknya bisa menonton dengan lebih nyaman,” ujar Huda.

Selain ASO, pemerintah juga tengah gencar mendorong peralihan jaringan menuju 4G. Imbauan itu membuat beberapa penyedia jaringan seluler sudah melakukan penghilangan jaringan 3G secara bertahap di beberapa daerah.

Salah satu provider yang akan segera menghapus jaringan 3G di Jabodetabek ialah Telkomsel. Mulai 20 Juli mendatang, seluruh jaringan 3G Telkomsel di Jabodetabek akan sepenuhnya hilang. Karena itu, pelanggan yang masih menggunakan kartu seluler 3G harus menggantinya ke gerai Telkomsel. Jika tidak, mereka tak akan lagi bisa menggunakan kartu seluler.

Selain Telkomsel, Indosat dan Xl Axiata secara bertahap juga mulai melakukan penghapusan jaringan 3G. Sama dengan Telkomsel, para pelanggan kedua provider tersebut juga diimbau untuk segera mengganti kartu seluler mereka.

“Ini juga hal yang tentu mengarah ke hal positif. Dengan semakin baiknya jaringan internet, pasti akan mendorong lebih cepat dan banyaknya transasksi digital. Bisa di berbagai kegiatan, misalnya saja transaksi e-commerce. Ketika perputaran transaksi semakin cepat, pertumbuhan ekonominya juga akan semakin besar,” ujar Huda.

Meski begitu, berbeda dengan ASO, Huda menilai proses migrasi penuh dari 3G ke 4G di Indonesia akan lebih sulit dilakukan. Kemungkinan baru akan bisa tercapai dalam jangka panjang atau lebih dari lima tahun ke depan.

“Karena ini, kan, berkaitan dengan perangkat telepon yang dimiliki masyarakat. Saya yakin masih banyak masyarakat kita yang handphone-nya masih belum mendukung 4G. Kan, tidak mungkin membuat program membagikan handphone seperti membagikan decoder. Belum lagi pembangunan base transceiver station (BTS) di daerah yang harus dikebut,” ujar Huda.

Senada dengan Huda, pakar keamanan siber Vaksincom, Alfons Tanujaya, juga mengatakan ASO dan 3G switch-off memang sudah saatnya dilakukan pemerintah Indonesia. Mempertahankan dua teknologi itu dianggapnya sebagai hal yang tidak efisien.

“Akan memakan biaya tinggi dan tidak efisien jika mempertahankan dua teknologi ini karena jadinya harus mengaktifkan dan memelihara teknologi lama beserta teknologi baru,” ujar Alfons.

Alfons menjelaskan akan ada banyak keuntungan dari digitalisasi televisi. Mulai siaran yang bebas distorsi hingga ketersediaan lebih banyak saluran televisi. Dengan begitu, masyarakat Indonesia akan disuguhkan dengan tayangan yang lebih beraga dan berkualitas.

“Sedangkan dengan 3G switch-off keuntungannya adalah spektrum yang tadinya digunakan oleh 3G akan bisa dialihkan ke 4G sehingga pengguna seluler tentunya akan memiliki pita frekuensi yang lebih banyak dalam mengakses layanan dan akan berdampak pada kecepatan mengakses layanan seluler dan internet,” ujar Alfons. (M-2)

 

 

Baca Juga

Dok. KawanKawan Media

Dibintangi Reza Rahadian, Film 24 Jam Bersama Gaspar Tayang Tahun Depan

👤Fathurrozak 🕔Jumat 19 Agustus 2022, 00:01 WIB
Film tentang cerita pencurian ini juga dibintangi Shenina Cinnamon,  Sal Priadi, Dewi Irawan,  dan Laura...
123F

Ini Risiko Kesehatan dari Konsumsi Garam Berlebihan

👤Devi Harahap 🕔Kamis 18 Agustus 2022, 22:25 WIB
Risiko disinyalir dapat dikurangi jika seseorang mengimbangi dengan lebih banyak makan sayur dan...
Dok Noice

Noice Siapkan Fitur Monetisasi bagi Kreator Podcast

👤Fathurrozak 🕔Kamis 18 Agustus 2022, 13:58 WIB
Ke depan, platform streaming audio Indonesia, Noice, tengah mempersiapkan fitur-fitur monetisasi bagi para kreator...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya