Minggu 10 April 2022, 05:15 WIB

Irfan Rahadian : Dari Dosen Jadi Petani

Nike Amelia Sari | Weekend
 Irfan Rahadian  : Dari Dosen Jadi Petani

MI/SUMARYANTO BRONTO
Irfan Rahadian Dari Dosen Jadi Petani

 

SEPERTI halnya lahan pertanian yang semakin tergerus, profesi petani pun makin jauh dari benak generasi masa kini. Karena itu, ketika ada sosok anak milenial melepaskan pekerjaan mapan untuk menjadi petani, sungguh istimewa. Terlebih ia juga merupakan lulusan S-2 gelar ganda dari Indonesia dan Jerman.

Dialah Irfan Rahadian yang pada 2015-2018 menjadi dosen pertanian di Universitas Padjadjaran, Bandung, setelah mendapat beasiswa master di Gottingen University di Jerman. Irfan bertani kopi arabika. Di usia kini 32, Irfan telah sukses dengan usaha Kiwari Farmers di kaki Gunung Manglayang, Jawa Barat (Jabar).

Saat hadir sebagai bintang tamu Kick Andy episode Jadi Petani itu Keren yang tayang malam ini, Irfan menuturkan kakeknya memang merupakan petani bawang. Sang ibu meneruskan dengan memiliki la­han pertanian kopi se­luas seperempat hektare, selain menjadi PNS.

Sepulang kuliah di Jerman yang dibiayai LPDP dari Dikti, Irfan membentuk kelompok tani di Dusun Cikawari, Desa Mekarmanik, Kecamatan Cimenyan, Bandung, Jabar. Nama Kiwari berasal dari bahasa Sunda kiwari yang berarti masa kini atau sekarang. Tujuannya membentuk kelompok tani tersebut ialah mengajak anak-anak muda untuk kembali melirik dunia pertanian.

Nama Kiwari Farmers pun memiliki arti seperti tujuannya, petani masa kini. Ia juga memanfaatkan media sosial seperti Youtube dan Tiktok untuk menarik anak muda.
Irfan menerapkan konsep pertanian berkelanjutan yang telah ia coba di Jerman. Baginya, konsep itu akan menghasilkan kesejahteraan lingkungan, kesejahteraan hewan, dan kesejahteraan petani.

“Pertama, lingkungan asalnya susah air, sekarang ada beberapa sumber air. Kedua, kita pakai binatang luak, jadi ada sertifikasi Kementan dan animal welfare standard. Ketiga, kesejahteraan petani, kita beli ke kelompok juga lalu kita olah jadi produk,” katanya.

Dari penanaman kopi tersebut, daerah pegunungan Manglayang akhirnya memiliki beberapa sumber mata air. Pada 2017, saat masih menjadi dosen ia menuliskan konsep itu ke dalam penelitiannya dan mendapat penghargaan Anugerah Inovasi Jawa Barat untuk bidang lingkungan hidup dari Gubernur Jabar. Irfan juga pernah membagikan ribuan bibit kopi kepada petani kopi untuk penghijauan.

Meski keluarga sempat menyayangkan keputusannya untuk fokus ke pertanian, Irfan sukses dan bisa meluaskan lahannya menjadi 3 hektare.

Tak hanya itu, ia membuka Restoran Bumi Kiwari di lahan 3.600 meter. Sepertiga dari lahan itu sengaja dimanfaatkan untuk hutan. Dengan dibantu petani dari Ciwidey, ia tanam di dalam hutan itu benih lokal endemik yang hampir punah.

Melalui Bumi Kiwari, Irfan mengajak ibu-ibu muda untuk memasak makanan dari kebun organik dan mengangkat makanan lokal seperti cireng dan peuyeum, yang ia ambil dari tetangga-tetangga sekitar. Meski omzetnya mengalami penurunan selama pandemi hingga 90%, Irfan yakin usahanya bisa bangkit lagi dan terus berjalan.

Wisuda petani

Dalam Kick Andy kali ini juga hadir Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil dan dilangsungkan wisuda secara simbolis para petani milenial. Pemprov Jawa Barat memang memiliki program Petani Milenial untuk mengajak anak muda menjadi petani.

Ridwan menyatakan saat ini petani kian menjadi profesi yang ditinggalkan karena stigma miskin dan menderita. “Dari 3,2 juta petani di Jawa Barat, yang usianya di bawah 40 tahun itu hanya 29%. Artinya 71% sudah lansia. Kalau tidak ada sebuah gagasan baru, bisa dibayangkan hitungan puluh tahun kita mau makan apa,” kata Ridwan.

Pria yang akrab disapa Kang Emil itu juga mengatakan kebanyakan petani masih menggunakan cara manual. Sebab itulah, pihaknya meluncurkan Petani Milenial pada Maret 2021 yang salah satu targetnya ialah mencetak petani dengan pendapatan layaknya profesi di perkotaan.

Lebih jauh lagi, program itu bertujuan mendorong regenerasi tenaga kerja di sektor pertanian Jawa Barat yang memiliki inovasi, gagasan, dan kreativitas. Lewat pemanfaatan teknologi digital, petani milenial akan menggerakkan kewirausahaan bidang agrikultur dengan pertanian yang lebih segar dan atraktif untuk bisa berkelanjutan di Jawa Barat.

Lewat Petani Milenial pula diharapkan laju urbanisasi bisa diantisipasi. Berbagai teknologi diterapkan dalam pertanian di program itu, misalnya penggunaan drone untuk pemupukan dan pemberantasan hama tanaman padi dan sprinkler untuk penyiraman tanaman hortikultura.

Program itu terbuka secara gratis bagi warga pemuda-pemudi Jawa Barat usia 19-39, baik yang sudah existing dan memiliki lahan maupun peserta yang berkehendak mengikuti proses dan tahapan inkubasi bisnis lewat program Petani Milenial. Seleksi peserta akan dilakukan luring dan daring. (M-1)

Baca Juga

Charly TRIBALLEAU / AFP

Taiko, Tradisi Gendang Jepang yang masih Bergema di Era Kiwari

👤Adiyanto 🕔Jumat 20 Mei 2022, 10:32 WIB
Kunci dari evolusi itu adalah seorag drummer jazz Daihachi Oguchi, yang memindahkan festival taiko ke panggung pertunjukan pada 1950-an dan...
CNN/Southeby

Lukisan Berobjek Kekasih Picasso Laku Dilelang Rp990 Miliar

👤Devi Harahap 🕔Kamis 19 Mei 2022, 22:05 WIB
Lukisan itu menggambarkan Marie - Therese Walter sebagai makhluk...
Gucci

Gucci dan Adidas Bikin Payung Mewah Tidak Tahan Hujan

👤Putri Rosmalia 🕔Kamis 19 Mei 2022, 21:07 WIB
Produk kolaborasi itu menuai banyak kritikan karena dianggap tidak...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya