Headline
Tragedi Bantargebang menjadi bukti kegagalan sistemis.
Kumpulan Berita DPR RI
Sejumlah lembaga ilmu pengetahuan di Tiongkok dikabarkan tengah mengevaluasi batuan dari bulan yang dikumpulkan lewat misi Chang'e 5. Desember lalu. Misi tersebut berhasil membawa turun batuan bulan sebanyak 3,82 lbs (1,73 kg), dan sebelumnya juga telah berhasil membawa turun 31 sampel seberat 0,616 ons atau lebih tepatnya pada Juli.
Salah satu institusi yang mengerjakan amatan kali ini ialah The Beijing Research Institute of Uranium Geology (BRIUG). Lembaga yang didirikan sejak 1959 itu mempelajari batuan bulan seberat 50 miligram, untuk menemukan isotop yang disebut helium-3.
Helium-3 selama ini dirasa sangat langka di bumi, akan tetapi diperkirakan sangat melimpah di bulan. Materi ini dicari karena diperkirakan menyimpan potensi yang sangat besar untuk menjalankan pembangkit listrik fusi nuklir di masa depan.
Dalam penelitian kali ini, BRIUG turut merancang peralatan khusus, termasuk wadah pemanas sampel. Untuk mendapatkan helium-3, proses pemanasan batuan bulan secara bertahap diperkirakan mencapai titik tertinggi hingga 1.800 derajat Fahrenheit (1.000 derajat Celcius).
"Tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk menentukan kandungan helium-3 di tanah bulan, parameter ekstraksi helium-3, yang menunjukkan pada suhu berapa kita dapat mengekstrak helium, dan bagaimana helium-3 melekat pada bulan. Kami akan melakukan studi sistematis pada aspek-aspek ini," terang Peneliti BRIUG, Huang Zhixin, seperti dilansir dari Space.com, Senin, (20/9).
Pakar Astrobiologi University of London, Ian Crawford memberikan catatan khusus atas penelitian kali ini. Menurutnya, investasi penambangan dan ekstraksi materi bulan yang satu ini membutuhkan biaya yang sangat tinggi. Maka dari itu pula, pemanfaatan sumber energi dari material yang ada di bumi kemungkinan akan lebih disukai. "Namun demikian, memastikan konsentrasi helium-3 di lokasi baru di bulan secara ilmiah sangat berharga," imbuhnya. (M-4)
Sementara itu, Kepala BRIUG, Li Ziying mengatakan bahwa penelitian kali ini juga mencoba mempelajari kemungkinan adanya unsur radioaktif uranium dalam sampel. Baginya penelitian kali ini tidak hanya bernilai untuk potensi eksploitasi sumber emergi, akan tetapi juga penting untuk mengetahui bagaimana relasi atas bulan dan bumi itu sendiri.
Adapun Li Xianhua, pakar dari Institute of Geology and Geophysics yang berada di bawah the Chinese Academy of Sciences (CAS) menjelaskan bahwa kini ia sedang mempelajari karakteristik isotop geokimia untuk mengetahui usia sampel tersebut. Menurutnya, tahap penelitian ini dapat memberi sumbangan informasi terkait aktivitas vulkanik terakhir di bulan.
"Bulan dapat mengisi celah sejarah geologi Bumi. Karena Bumi adalah planet yang aktif, oleh karena itu tidak banyak catatan tentang zaman kuno di Bumi yang tersisa. Sebaliknya, Bulan memiliki catatan yang cukup tua, jadi mempelajari evolusinya dapat melengkapi sejarah evolusi Bumi," pungkas Li Chunlai, Wakil Kepala perancang proyek eksplorasi Bulan Tiongkok, yang diperkirakan akan kembali meluncurkan misi Chang'e 6 2024 mendatang.
Perusahaan-perusahaan pertahanan terbesar di Amerika Serikat telah sepakat untuk melipatgandakan produksiĀ empat kali lipat.
Menlu Tiongkok Wang Yi kecam perang di Timur Tengah dan desak AS kelola hubungan bilateral. Beijing tegaskan aliansi dengan Rusia tetap kokoh di tengah krisis global.
Kegiatan ini dilaksanakan guna menunjukkan kepedulian dan tanggung jawab sosial mahasiswa Indonesia bukan hanya di Tiongkok melainkan pula di tanah air.
Laporan CNN menyebut Tiongkok mulai alihkan dukungan finansial dan komponen rudal ke Iran. Simak analisis dampak geopolitik dan keterlibatan Rusia
Jubir NPC Tiongkok Lou Qinjian tegaskan tak ada negara boleh dominasi urusan internasional. Simak poin penting sidang parlemen Tiongkok 2026 di sini.
Wang mengatakan kepada Menteri Luar Negeri Arab Saudi Faisal bin Farhan bin Abdullah bahwa ia menghargai sikap menahan diri Riyadh.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved