Selasa 21 September 2021, 07:47 WIB

Ilmuwan Tiongkok Pelajari Potensi Batuan Bulan Sebagai Sumber Energi

Galih Agus Saputra | Weekend
Ilmuwan Tiongkok Pelajari Potensi Batuan Bulan Sebagai Sumber Energi

NORBERTO DUARTE / AFP
Bulan

 

Sejumlah lembaga ilmu pengetahuan di Tiongkok dikabarkan tengah mengevaluasi batuan dari bulan yang dikumpulkan lewat misi Chang'e 5. Desember lalu. Misi tersebut berhasil membawa turun batuan bulan sebanyak 3,82 lbs (1,73 kg), dan sebelumnya juga telah berhasil membawa turun 31 sampel seberat 0,616 ons atau lebih tepatnya pada Juli.

Salah satu institusi yang mengerjakan amatan kali ini ialah The Beijing Research Institute of Uranium Geology (BRIUG). Lembaga yang didirikan sejak 1959 itu mempelajari batuan bulan seberat 50 miligram, untuk menemukan isotop yang disebut helium-3.

Helium-3 selama ini dirasa sangat langka di bumi, akan tetapi diperkirakan sangat melimpah di bulan. Materi ini dicari karena diperkirakan menyimpan potensi yang sangat besar untuk menjalankan pembangkit listrik fusi nuklir di masa depan.

Dalam penelitian kali ini, BRIUG turut merancang peralatan khusus, termasuk wadah pemanas sampel. Untuk mendapatkan helium-3, proses pemanasan batuan bulan secara bertahap diperkirakan mencapai titik tertinggi hingga 1.800 derajat Fahrenheit (1.000 derajat Celcius).

"Tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk menentukan kandungan helium-3 di tanah bulan, parameter ekstraksi helium-3, yang menunjukkan pada suhu berapa kita dapat mengekstrak helium, dan bagaimana helium-3 melekat pada bulan. Kami akan melakukan studi sistematis pada aspek-aspek ini," terang Peneliti BRIUG, Huang Zhixin, seperti dilansir dari Space.com, Senin, (20/9).

Pakar Astrobiologi University of London, Ian Crawford memberikan catatan khusus atas penelitian kali ini. Menurutnya, investasi penambangan dan ekstraksi materi bulan yang satu ini membutuhkan biaya yang sangat tinggi. Maka dari itu pula, pemanfaatan sumber energi dari material yang ada di bumi kemungkinan akan lebih disukai. "Namun demikian, memastikan konsentrasi helium-3 di lokasi baru di bulan secara ilmiah sangat berharga," imbuhnya. (M-4)

Sementara itu, Kepala BRIUG, Li Ziying mengatakan bahwa penelitian kali ini juga mencoba mempelajari kemungkinan adanya unsur radioaktif uranium dalam sampel. Baginya penelitian kali ini tidak hanya bernilai untuk potensi eksploitasi sumber emergi, akan tetapi juga penting untuk mengetahui bagaimana relasi atas bulan dan bumi itu sendiri.

Adapun Li Xianhua, pakar dari Institute of Geology and Geophysics yang berada di bawah the Chinese Academy of Sciences (CAS) menjelaskan bahwa kini ia sedang mempelajari karakteristik isotop geokimia untuk mengetahui usia sampel tersebut. Menurutnya, tahap penelitian ini dapat memberi sumbangan informasi terkait aktivitas vulkanik terakhir di bulan.

"Bulan dapat mengisi celah sejarah geologi Bumi. Karena Bumi adalah planet yang aktif, oleh karena itu tidak banyak catatan tentang zaman kuno di Bumi yang tersisa. Sebaliknya, Bulan memiliki catatan yang cukup tua, jadi mempelajari evolusinya dapat melengkapi sejarah evolusi Bumi," pungkas Li Chunlai, Wakil Kepala perancang proyek eksplorasi Bulan Tiongkok, yang diperkirakan akan kembali meluncurkan misi Chang'e 6 2024 mendatang.

Baca Juga

Dok: IDN Pictures

Fajar Nugros Bakal Sutradarai Srimulat The Movies

👤Retno Hemawati 🕔Kamis 28 Oktober 2021, 15:05 WIB
Fajar Nugros menyambut inisiasi ini dengan sangat...
Dok Film Kadet 1947

Film Kadet 1947 Rilis Poster Resmi saat Peringatan Hari Sumpah Pemuda

👤Mediaindonesia.com 🕔Kamis 28 Oktober 2021, 13:26 WIB
Poster ini membawa sentuhan hangat persahabatan para kadet yang berjuang untuk Indonesia, dan nuansa optimisme dari langit cerah yang...
MI/Ramdani

Menteri ESDM: Indonesia Mainkan Peran Penting dalam Kebutuhan EBT

👤Mediaindonesia.com 🕔Kamis 28 Oktober 2021, 11:35 WIB
Indonesia akan memainkan peran penting menyelamatkan bumi dan menjadi menjadi sumber kebutuhan energi baru terbarukan untuk...

E-Paper Media Indonesia

HALAMAN FOKUS EKSTRA 4 HALAMAN

Fokus Edisi

Menghadang Ganasnya Raksa

Indonesia masih menjadi sasaran empuk perdagangan ilegal merkuri, terutama dari Tiongkok dan Taiwan. Jangan sampai peristiwa Minamata pada 1956 di Jepang terjadi di sini.

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

Top Tags

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya