Sabtu 18 September 2021, 06:35 WIB

Susah Senang Jadi Katolik

Pro/M-2 | Weekend
Susah Senang Jadi Katolik

Dok. Buku Mojok
Cover buku Susah Senang Jadi Katolik.

 

TERLAHIR sebagai bagian kelompok minoritas amat mungkin menghadirkan kesan tersendiri bagi yang mengalaminya.

Di Indonesia, konsep minoritas acap disematkan antara lain pada pilihan agama. Tinggal di negara berpenduduk mayoritas muslim ini, penganut agama lain kerap harus berupaya menyesuaikan diri dalam kesehariannya.

Pengalaman menjadi minoritas itu menjadi kisah yang diangkat Alexander Arie dalam bukunya berjudul Asyik dan Pelik Jadi Katolik.

Sebagai seseorang yang lahir dari keluarga Katolik taat di Sumatra Barat, keseharian penulis kaya akan kisahkisah sederhana kaum minoritas yang tak melulu miris. Pada buku yang diterbitkan oleh Buku Mojok tersebut, penulis menceritakan kisah hidupnya sebagai penganut Katolik dengan detail di setiap tahap kehidupannya. Mulai dari masa anak-anak hingga ketika ia tumbuh dewasa dan bekerja sebagai seorang apoteker.

Sebagai suatu agama, Katolik memiliki aturan dan sistem yang ternyata tak mudah dalam beberapa hal. Kepelikan menjalani hidup sebagai penganut Katolik yang bukan saja minoritas tetapi juga memiliki ragam aturan dihadirkan penulis dengan jenaka tanpa mengecilkan nilai dan kedudukan agama yang dianutnya.

Sebagai pembuka, penulis menceritakan pengalamannya menjalani keseharian sebagai penganut Katolik di Bukittinggi. Selama ini, Sumatra Barat, ter masuk Bukittinggi di dalamnya, merupakan salah satu daerah di Indonesia yang nuansa keislamannya sangat kental.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik tahun 2000, di Bukittinggi hanya ada kurang lebih 2.000 orang penganut agama Katolik. Adapun di Indonesia, jumlah totalnya tak lebih dari 8 juta orang.

Sebagai warga pendatang yang juga beragama minoritas, menjalani kehidupan tentu tak selalu mudah. Salah satu tantangan yang dirasakan ialah jumlah tempat ibadah yang sedikit. Selain itu, bahkan ketika bersekolah di sekolah berkonsep agama Katolik, penulis masih juga harus menerima kondisi bahwa mayoritas siswanya bukan beragama Katolik.

Pengalamannya menjalani masa kecil hingga lulus SMP di Bukittinggi dijabarkan penulis sebagai hal penting yang membentuk kepribadiannya hingga saat ini. Bahwa perbedaan tak melulu soal pertikaian dan ketidakramahan. Karena komunitasnya yang juga kecil, di sana ia juga merasakan persaudaraan yang kuat di antara sesama penganut Katolik.

Sejak kecil, penulis sudah harus menjalani beberapa hal yang cukup menguras energi sebagai penganut Katolik. Salah satunya dalam menjalankan kewajiban mengisi buku agenda gereja. ‘Jika anak-anak muslim hanya mengisi buku tersebut sepanjang bulan Ramadan, anak-anak Katolik agak berbeda.

Sedikit lebih berat, meskipun sebenarnya tidak sampai 2 kali lipatnya: setiap pekan. Anak-anak Mulsim mengisi buku itu untuk 30 hari dan anak Katolik harus mengisinya 52 kali sesuai jumlah hari Sabat, eh, hari Minggu dalam setahun’, halaman 14.

Selain menceritakan kisah masa sekolahnya, penulis juga menghadirkan kisah ketika ia harus menjalani masa SMA dan kuliah di Yogyakarta. Di sana ia merasakan perbedaan yang mencolok terkait ketersediaan tempat ibadah hingga pemuka agama dengan keadaan saat ia di Bukittinggi.

Secara ringan tapi mendetail, penulis juga menceritakan tentang perjalanan batinnya mendalami dan menjalani masa muda sebagai penganut Katolik yang taat, meski kadang kerap juga merasa lelah dan tidak rutin beribadah.

 

 

Cari jodoh

Selayaknya anak muda yang masih mencari jati diri, penulis sempat menjalani fase-fase saat ia hanya datang ke gereja ketika ada momen penting seperti Natal atau Paskah. Ia juga sempat menjadikan gereja dan ibadah sebagai pelarian dari kesehariannya yang tidak begitu menyenangkan di rumah.

Salah satu cerita menarik ialah peng- alaman penulis mencari jodoh seiman untuk jadi pasangan hidup. Terbatasnya jumlah lawan jenis penganut Katolik diakui penulis membuat usahanya mencari jodoh jadi jauh lebih berat. Tak jarang ia harus mengakhiri niat mendekati seorang wanita karena ternyata tak menganut agama yang sama.

‘Angka 7 sampai 8 juta itu harus dipotong jumlah umat Katolik yang ada di tempat-tempat yang jauh dari domisili. Dipotong lagi jumlah umat cowok dan yang silbat di pelayanan Tuhan. Lalu, angka ini dipotong lagi jumlah yang sudah menikah maupun masih balita, dipotong lagi gadis Katolik yang kepincut lelaki beda agama, serta sortiran terbanyak adalah saat dipotong lagi jumlah gadis Katolik yang mau sama saya. Habis, Kak! Habis’, (halaman 112).

Untuk menyiasati itu, penulis mencoba menjadikan gereja dan kegiatan di dalamnya sebagai jalan untuk bisa bertemu dan berkenalan dengan lawan jenis yang seiman. Meski tak semulus dan semudah yang diharapkan, ia akhirnya bisa menemukan pasangan seiman yang siap dibawa ke jenjang pernikahan.

Barangkali saking menjelimetnya perkara mencari jodoh, penulis menyem patkan menulis tentang sosok Basuki Tjaha ja Purnama (Ahok). Dengan berkelakar, ia mengasumsikan Ahok sebagai lelaki Katolik paling beruntung di Indonesia karena dengan mudahnya bisa kembali mendapatkan jodoh di usia yang tidak begitu muda.

Lepas persoalan jodoh, penulis berhadapan dengan tetek bengek formalitas untuk berkeluarga yang ternyata tak mudah. Pengalamannya mengurus semua syarat dan dokumen pernikahan di gereja Katolik dan catatan sipil menjadi hal yang mungkin tak banyak diketahui orang tentang kerumitan menikah di agama Katolik.

‘Urusan birokrasi sudah ganda: ke Catatan Sipil dan ke gereja. Urusan gedung juga ganda: gedung gereja dan gedung resepsi. Mantap kan pernikahan Katolik itu’, halaman 116. Sebagai pemuda yang aktif di gereja dan juga di ranah publik, penulis juga menceritakan pengalamannya sebagai relawan di beberapa kegiatan bakti sosial yang diadakan oleh gereja. Dijabarkan betapa tak mudah menjalani kegiatan sebagai minoritas, bahkan ketika akan melakukan bakti sosial sekalipun.

Tak jarang ia dan timnya dari gereja yang akan melakukan bakti sosial dicurigai memiliki maksud tersembunyi terkait gerakan keagamaan. Biasanya tuduhan itu akrab disebut sebagai upaya kristenisasi.

‘Sebagai salah satu pelaku baksos yang cukup aktif, saya adalah orang yang paling tidak bisa terima kalau ada yang menyebut baksosnya orang Katolik itu sebagai bentuk kristenisasi. Alasan pertama tentu karena masuk Katolik itu susah dan perlu proses panjang. Untuk belajarnya saja perlu setahun dan ada absensi yang diperhitungkan’ (halaman 80).

Buku Asyik dan Pelik Jadi Katolik menghadirkan cerita-cerita tentang susah senang menjalani keseharian sebagai kaum minoritas di Indonesia. Pada beberapa bab pembaca juga akan menemukan beberapa informasi dan istilah baru yang kerap digunakan dalam keseharian kaum Katolik yang menarik untuk diketahui.

Meski tak mengandung keseluruhan informasi tentang kehidupan dan proses peribadatan Katolik dengan rinci, buku ini bisa menambah perspektif pembaca tentang keseruan dan tantangan yang ada di kalangan muda Katolik dengan tak menghakimi. (Pro/M-2)

Baca Juga

AFP/Chris Delmas

Kim Kardashian Berkolaborasi dengan Fendi

👤Mediaindonesia.com 🕔Selasa 26 Oktober 2021, 11:54 WIB
Merek shapewear Kim Kardashian West, Skims, berkolaborasi dengan Fendi dalam sebuah koleksi pakaian baru, kata perusahaan itu, dilansir...
MI

Ternyata Hal Ini yang Memicu Kerusakan Bahasa

👤Galih Agus Saputra 🕔Selasa 26 Oktober 2021, 05:15 WIB
Di masa datang, bahasa Indonesia diharap lebih banyak menyerap kosakata dari bahasa lokal ketimbang bahasa...
123RF

Yang Masih Menjadi Ganjalan dalam Dunia Puisi Indonesia

👤Fathurrozak 🕔Selasa 26 Oktober 2021, 01:41 WIB
Penyair Joko Pinurbo dan Inggit Putria Marga akan melelang puisi tulisan tangan mereka untuk aksi...

E-Paper Media Indonesia

HALAMAN FOKUS EKSTRA 4 HALAMAN

Fokus Edisi

Bongkar Transaksi Narkoba Rp120 Triliun

Para anggota sindikat narkoba juga kerap memanfaatkan warga yang polos untuk membantu transaksi dari dalam ke luar negeri dan sebaliknya.

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

Top Tags

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya