Minggu 12 September 2021, 05:00 WIB

Mengejar Kejujuran Guterres

NIKE AMELIA SARI | Weekend
Mengejar Kejujuran Guterres

MI/SUMARYANTO BRONTO
Eurico Guterres

KICK Andy Double Check kembali menghadirkan narasumber yang tengah menjadi sorotan publik. Pada episode keempat yang tayang hari ini di Metro TV, Andy F Noya akan berbincang dengan mantan pimpinan milisi prointeg­rasi Timor Timur, Eurico Guterres.

Pada 12 Agustus 2021, pria yang akrab disapa Guterres itu dianugerahi Bintang Jasa Utama oleh Presiden Joko Widodo. Sebelumnya, pada 15 Desember 2020, dianugerahi medali dan Piagam Patriot Bela Negara dari Menteri Pertahanan (Menhan) Prabowo.

Anugerah Bintang Jasa Utama mendapat kritik dari berbagai pihak. Aliansi organisasi masyarakat sipil Timor Leste hingga Amnesty International Indonesia meminta Presiden untuk mencabut penghargaan itu karena Guterres dianggap terkait dengan berbagai kasus pelanggaran HAM berat di Timor Timur pada 1999. Pemberian penghargaan dinilai sebagai pengkhiat­an terhadap rasa keadilan, kemanusiaan, dan moral.

“Muncul juga pro dan kontra, sebagian orang menganggap bahwa penghargaan itu memang layak diterima oleh Eurico Guterres karena sikapnya pada saat itu yang membela kepentingan Indonesia pada saat jajak pendapat. Nah, bagi mereka yang kontra, mereka yang tidak setuju, mereka meminta agar Presiden mencabut kembali penghargaan tersebut,” ujar Andy Noya membuka Kick Andy Double Check yang bertajuk Guterres, Pahlawan atau Pelanggar HAM?

Guterres memang pada 2008 telah dibebaskan melalui peninjauan kembali (PK) di Mahkamah Agung. Meski begitu, tuduhan terhadap pria yang menjadi Ketua Umum Uni Timor Aswain (UNTAS) pada 2010 hingga 2019 itu belum berhenti. UNTAS ialah wadah resmi yang mewakili warga eks Timor Timur yang masih setia dan menetap di Indonesia.

Andy mengungkapkan bahwa ia meminta klarifikasi Guterres atas berbagai tuduhan tersebut. “Hari ini saya mengundang Eurico Guterres untuk memberikan klarifikasi tentang apa yang terjadi dan bagaimana sikap dia atas keberatan sebagian ormas dan LSM, baik yang di Timor Leste maupun yang di Indonesia. Mari kita sambut Eurico Guterres,” lanjut Andy.

Andy tak segan melontarkan perta­nyaan sensitif kepada Guterres. Salah satunya Andy meminta klarifikasi Guterres terkait tuduhan keterlibat­annya dalam berbagai pembantaian. “Mereka menganggap bahwa Anda tidak pantas, Anda tidak layak karena Anda dianggap terlibat dalam aksi kejahatan kemanusiaan dan pelanggaran HAM berat karena ketika konflik kita tahu persis terjadi banyak sekali pembantaian, pembunuhan, dan kemudian mereka menyebut nama Anda ialah salah satu aktor yang memprovokasi, apakah itu kelompok Anda atau masyarakat untuk melakukan pembunuhan,” tutur Andy.

“Ini pertanyaan yang harus dijawab jujur, apakah Anda pernah membunuh?” desak Andy. Guterres mengatakan bahwa dirinya tidak pernah membunuh siapa pun.
“Saya tidak membunuh orang. Kalau jujur, saya tidak membunuh orang. Namun, kalau orang-orang yang kelompok di luar sana yang membunuh lalu dianggap saya bertanggung jawab bahwa mereka ialah anggota saya ya,” kata pria berusia 52 tahun tersebut.

Masih belum puas dengan jawaban Guterres yang seolah tidak mengetahui pergerakan kelompok yang dianggap sebagai bagian anggotanya, Andy pun mencecar lebih jauh. “Tapi, apakah Anda pernah memerintahkan kelompok Anda untuk membunuh kelompok lain?” lanjut Andy.

Guterres mengaku bahwa dia tidak pernah memerintahkan siapa pun untuk membunuh. Dia menjelaskan, jika betul bahwa dia memerintahkan untuk membunuh, orang-orang yang sekarang menjadi pejabat mungkin sudah tidak ada.

Selain itu, adanya sejumlah ormas dan LSM yang protes dan mendesak untuk mencabut penghargaan tersebut, Andy mempertanyakan apakah Guterres merasa layak mendapatkan penghargaan tersebut. “Saya pantas mengenakan ini karena saya orang Indonesia,” ujar Guterres. Jawaban Guterres selengkapnya dapat ditonton dalam tayangan malam ini pukul 19.00 WIB.

Kekhawatiran lepasnya wilayah


Di luar soal berbagai tuduhan terhadap dirinya, pria yang belakangan sering berpindah parpol itu, mulai dari Partai Golkar, Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), Partai Amanat Nasional (PAN), Partai Persatuan Indonesia (Perindo), hingga Partai Gerindra, mengaku khawatir akan berulangnya sejarah seperti di Timtim. Ia khawatir akan risiko lepasnya daerah lainnya di Indonesia.

Pria yang bergelar sarjana ekonomi itu melihat ada indikasi-indikasi di beberapa wilayah. “Apa yang saya khawatirkan itu seperti Pulau Timor yang ada di dua negara yang berbeda, ini memang harus diperhatikan betul dan tidak bisa dianggap remeh. Oke hari ini mungkin kita akan tenang, tapi kita tidak tahu besok, lusa, atau yang seterusnya seperti apa,” ujar pria yang lahir di Waitame, Uatolari, Timor Leste.

Menuju penghujung acara, Andy membahas kuncir rambut Guterres yang masih ada hingga kini. Guterres mengatakan rambutnya merupakan kekuatan. Sepanjang belum adanya keadilan, rambutnya tidak akan dipotong.

Dalam penjelasanya tentang keadil­an, dia mengatakan bahwa keadilan yang dimaksud ialah adanya orang yang bertanggung jawab atas peristiwa tahun 1959, peristiwa pembantaian tahun 1975, peristiwa 1999. Selain itu, adanya pemberian penghargaan untuk keturunan para pejuang yang diikuti dengan pemberian kesejahtera­an. (M-1)

Baca Juga

Instagram @jamesbond

Daniel Craig Kenang Hampir Menolak Peran James Bond

👤Fathurrozak 🕔Senin 27 September 2021, 15:15 WIB
No Time To Die yang merupakan film terakhir Daniel Craig sebagai agen 007, akan rilis di Indonesia 30 September...
Dok. Netflix

Tidak Hanya Timo Tjahjanto, Netflix Kini Juga Gandeng Nia Dinata

👤Fathurrozak 🕔Senin 27 September 2021, 14:50 WIB
Nia Dinata menggarap film A World Without dan Timo Tjahjanto menggarap film The Big...
Saffire Blue Inc

Semakin Diminati, Ketahui Cara Tepat Pilih Minyak Esensial

👤Mediaindonesia.com 🕔Minggu 26 September 2021, 22:27 WIB
Semenjak tren penggunaan minyak esensial ini marak digunakan, banyak kemunculan berbagai merek dan pilihan yang semakin...

E-Paper Media Indonesia

HALAMAN FOKUS EKSTRA 4 HALAMAN

Fokus Edisi

Meretas Asa Jadi Pusat Ekonomi Syariah

Potensi besar hanya akan tetap menjadi potensi bila tidak ada langkah nyata untuk mewujudkannya.

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

Top Tags

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya