Sabtu 24 Juli 2021, 07:05 WIB

Perlawanan dalam Berita Kehilangan

Pro/M-2 | Weekend
Perlawanan dalam Berita Kehilangan

Dok. MI
Cover buku Berita Kehilangan

PERJUANGAN tak kenal lelah dilakukan para keluarga korban atau penyintas kasus penghilangan paksa dan dugaan pelanggaran hak asasi manusia (HAM) berat lain dalam mencari keadilan. Hingga saat ini kasus pelanggaran HAM berat seperti penghilngan paksa tak juga menemukan titik terang penyelesaian, khususnya dari sisi hukum.

Ketika hukum tak juga memberi jawaban, karya sastra bisa menjadi alat perlawanan dan penyampai pendapat yang tak lekang termakan zaman. Keyakinan itulah yang agaknya jadi alasan para penulis yang ikut serta menyumbang karya dalam buku antologi cerita pendek (cerpen) berjudul Berita Kehilangan.

Berita Kehilangan memuat 20 cerpen karya para penulis yang mengikuti submisi cerita pendek yang diadakan Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras). Program tersebut diadakan dalam rangka memperingati pekan penghilangan paksa yang jatuh setiap 26 sampai 31 Mei.

Setidaknya 280 penulis ikut serta mengirimkan karya mereka dalam program itu. Setelah melewati proses kurasi ketat, 15 cerpen terpilih untuk ditampilkan dalam buku yang diterbitkan oleh penerbit Ultimus tersebut. 

Sementara itu, lima cerpen lain merupakan karya dari penulis tamu yang sudah tak asing lagi dan sangat familier di dunia sastra. Kelima penulis tamu tersebut ialah Seno Gumira Ajidarma, Ratih Fernandez, Putu Oka Sukanta, Raisa Kamila, dan Rio Johan.

Seno Gumira Ajidarma menyumbangkan karyanya yang berjudul Tragedi Kandang Babi. Cerpen tersebut menceritakan seorang tokoh agama yang dibunuh tentara karena dianggap berperan dalam membantu gerilyawan menghadang pembebasan tanah adat tempat mereka bernaung.

Meski tak tersurat, cerpen Seno tersebut menyiratkan konfl ik sengketa lahan dan konflik budaya seperti yang terjadi di Papua. Gerilya wan, tentara, dan kontak senjata sering terjadi di area publik.

‘Komandan menganggap pendeta Reyedipa ialah bagian dari gerilyawan pembebasan tanah Hahupa, yang secara terbuka maupun sembunyi-sembunyi telah menewaskan para anggota pasukan pemerintah’ (Tragedi Kandang Babi, halaman 29.)

Penulis tamu lainnya ialah Ratih Fernandez menampilkan cerpennya yang berjudul Telur Cicak, Putu Oka Sukanta menampilkan cerpennya yang berjudul Kupu-Kupu Datang Bertandang, Raisa Kamila menampilkan cerpennya yang berjudul Sarang Kutu, sedangkan Rio Johan yang sebelumnya terkenal lewat karya berjudul Ibu Susu pada 2018 menampilkan karya berjudul Raja Abufiruz.

Sementara itu, 15 penulis yang karyanya hadir dalam Berita Kehilangan ialah Cornelius Helmy, Ida Fitri, Dedy Tri Riyadi, Khairul Khwan Damanik, Aoelia M, Galih Nugraha Su, Erwin Setia, Mardian Siagian, Darmawati Majid, Rizki Taruma, Alexandreia Wibawa, Putra Hidayatullah, Sri Romdhoni Warta Kuncoro, Chris Wibisana, dan Zaky Yamani.

Salah satu kurator Berita Kehilangan, Linda Christanty, mengatakan proses kurasi dilakukan dengan metode blind author. Dengan kata lain, para kurator tak mengetahui siapa penulis dari setiap cerpen yang mereka baca dan pilih.

Metode tersebut rupanya menghadirkan kejutan menarik bagi pencinta karya sastra dan para pegiat HAM. Salah satunya munculnya nama-nama baru yang sebelumnya tak banyak diketahui berkiprah di dunia sastra. 

Sementara itu, dari sisi cerita, muncul cerita-cerita dengan latar belakang atau yang terinspirasi dari peristiwa penghilangan paksa dan pelanggaran HAM yang jarang terekspos di publik.

“Lebih menarik lagi juga karena mayoritas penulis yang turut ditampilkan karyanya ini mungkin mereka yang ketika tragedi penghilangan paksaan terjadi masih duduk di bangku sekolah dasar, taman kanak-kanan, atau bahkan belum lahir,” ujar Linda, dalam jumpa pers virtual peluncuran buku antologi cerpen Berita Kehilangan, (7/7).

Dalam Berita Kehilangan, pembaca dapat menemukan kisahkisah yang terinspirasi dari salah satu tahun paling kelam di Indonesia, 1965. Salah satunya dalam cerpen karya Chris Wibisana yang berjudul Maka Senyap pun Turun ke Bumi.

Dalam cerpen yang bermula di halaman 177 tersebut, Chris Wibisana menceritakan seseorang berusia 78 tahun yang kembali ke tanah kelahirannya setelah puluhan tahun pascatragedi 1965 menyingkir ke luar negeri. Ia kembali ke Desa Kapal, Bali, dan mengenang kisah hidupnya di kala muda yang diwarnai dengan adanya kelompok Legong Wa Mangku.

‘Jantungku bercincin tujuh. Menempuh perjalanan 12.000 kilometer dari Amsterdam ke Denpasar tentu merepotkan dan penuh risiko buat seorang penyakitan sepertiku. Tapi bukankah sahibulhikayat berkata, bila cinta sudah di tangan, bara seluas lautan tak ragu ditelan’, Maka Senyap pun Turun ke Bumi, halaman 178.

Kisah para eksil Indonesia yang terpaksa menyingkir jauh ke luar negeri karena perbedaan pandangan politik dan ideologi yang mengancam nyawa di era 1965 tentu sudah tak lagi asing. Cerpen karya Chris Wibisana tersebut menjadi salah satu gambaran miris kisah kelam dalam sejarah Indonesia tersebut.

Cerpen lain yang tak kalah menarik ialah karya seorang pemuda asal Pontianak, Mardian Sagian. Dalam cerpennya yang berjudul Ikan-Ikan yang Menggelepar, Mardian menceritakan kisah warga Kalimantan keturunan Tionghoa anggota PGRS/Paraku yang diduga mengalami berbagai pelanggaran HAM berat di era kepemimpinan Presiden Soeharto sekitar 1963-1965.

Berbeda dengan kisah para penyin tas tragedi 1965 yang mengasingkan diri ke luar negeri, tak banyak pemberitaan apalagi karya sastra yang membahas peristiwa PGRS/Paraku. Hal itu sepertinya yang menjadi alasan penulis menyumbangkan cerpen mengenai peristiwa yang terjadi di tanah kelahirannya, Kalimantan.

Penulis lain yang karyanya turut ditampilkan dalam Berita Kehilangan, Dedy Tri Riyadi, menghadirkan kisah peristiwa penghilangan paksa yang dihubungkan dengan mitos buaya siluman.

Cerpen berjudul Perempuan yang Berbincang tentang Buaya tersebut seakan mewakilkan kisah di banyak daerah Indonesia yang kerap menjadikan mitos sebagai alasan hilangnya seseorang secara misterius.

Dengan benang merah tentang penghilangan paksa atau pelanggaran HAM yang tak tuntas, Berita Kehilangan hadir sebagai karya sastra yang tak membosankan. Keragaman kisah, latar tempat, waktu, hingga adat dan budaya, membuat pembaca seakan diajak berjalan melintasi karagaman Nusantara dan dimensi waktu yang kaya akan pengalaman sejarah.

Berita Kehilangan sekali lagi menegaskan posisi sastra sebagai medium perlawanan dan perekam sejarah. Buku ini juga membuktikan bahwa upaya-upaya yang dilakukan keluarga korban dan penyintas kasus dugaan pelanggaran HAM berat dalam menyuarakan haknya memiliki dampak besar dan menyisakan memori kolektif yang signifikan pada sosok-sosok lintas generasi. (Pro/M-2)

Baca Juga

Dok. Mal Kuningan City

Pencinta Kuliner, Siap-Siap Santap di Jakarta Kulinary Edition

👤Fathurrozak 🕔Jumat 17 September 2021, 14:20 WIB
Rangkaian festival kuliner Jakarta Kulinary Edition berlangsung sepanjang...
Dok. Zoom Media Indonesia

Karya Peserta Lomba Foto ESDM Cerminkan Ketersediaan Hingga Keberlanjutan Energi

👤Galih Agus Saputra 🕔Jumat 17 September 2021, 07:28 WIB
Juri lomba ini  Koordinator Komunikasi dan Layanan Informasi Publik Kementerian ESDM, Ariana Soemanto, Fotografer, Beawiharta, dan...
Antara/Hafidz Mubarak A

Selain Erigo, Ini Jenama Lokal Lain yang Pernah Tampil di Peragaan Busana Internasional

👤Putri Rosmalia 🕔Jumat 17 September 2021, 07:20 WIB
Tak hanya di Indonesia, kiprah Dian Pelangi dalam dunia fesyen juga telah merambah pasar...

E-Paper Media Indonesia

HALAMAN FOKUS EKSTRA 4 HALAMAN

Fokus Edisi

Siap Bawa Pulang Piala Sudirman

 Terdapat empat pemain muda yang diharapkan mampu membuat kejutan di Finlandia.

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya