Headline
BEI sempat hentikan sementara perdagangan karena IHSG terkoreksi 8%.
BEI sempat hentikan sementara perdagangan karena IHSG terkoreksi 8%.
Kumpulan Berita DPR RI
SUATU ketika pada medio 2003, kelompok musik dengan vokalisnya yang bersetelan jas dan selengean di atas panggung memicu para penonton di Stadion Lebak Bulus, Jakarta Pusat, melempari ia dan personel band-nya dengan lumpur dan botol-botol. Band itu ialah The Brandals. Ketika itu mereka baru memiliki satu single 100Km/Jam yang manggung di pensinya SMA Pangudi Luhur, PL Fair. Mereka main setelah Pas Band dan sebelum Naif, dua band yang sudah duluan besar dan beken.
Panggung pun jadi penuh lumpur. Karena situasi makin tak terkendali, panitia memaksa Eka Annash dan band-nya untuk turun panggung. Situasi itu ialah satu dari bagian panjang perjalanan band garage rock n roll asal Jakarta yang terekam dalam dokumenter Marching Menuju Maut garapan Faesal Rizal. Faesal yang juga merupakan teman nongkrong para musikus The Brandals telah merekam momen-momen band itu sejak medio 2000 awal. Bahkan, ketika cikal bakal band itu masih bernama The Motives.
Menonton Marching Menuju Maut yang dikerjakan selama 2007-2013 benar-benar serupa menyaksikan perubahan zaman sebuah band. Bagaimana mula terbentuknya band hingga perjalanan musiknya, berikut situasi politik dan budaya yang mewarnainya. Kita bisa melihat, misalnya, perubahan ‘attitude’ The Brandals dari yang sangatsangat urakan menjadi lebih rapi dan ‘terkendali’ seiring pergantian manajer, juga perubahan warna musik yang diproduksi.
Dari tempat lain, baru-baru ini Alvin Yunata merilis dokumenter tentang GOR Saparua, Bandung. Dia menunjukkan rekaman gempita musik dan zamannya. Dari keroncong hingga riuh rendah festival musik underground di GOR itu. Dalam dokumenter berjudul Gelora Magnumentary of Gedung Saparua itu, Alvin menunjukkan gelombang musik di ‘Kota Kembang’ pada era 90-an hingga 2000 awal.
Jika di Jakarta, setidaknya tecermin dari Marching Menuju Maut, tempat para band manggung ialah di kafe atau bar, di Bandung, GOR Saparua semacam jadi melting pot-nya.
Faesal Rizal, sutradara Marching Menuju Maut, menuturkan pentingnya dokumentasi visual suatu kelompok musik untuk menunjukkan potret situasi saat dokumenter tersebut dibuat. “ Generasi selanjutnya bisa tahu ketika si band yang ada di dokumenter itu eksis, pasti ada potret budaya dan keadaan suatu tempat atau negara dan politiknya. Di AS dan Eropa, sekelas band ‘kelurahan’ saja ada dokumenternya. Dan itu jadinya cukup memperkaya kita untuk tahu eksistensi kelompok musik dan yang terjadi,” katanya dalam kesempatan diskusi virtual Kineforum Zeitgeist: Mencatat Semangat Jaman melalui media video, pada Juni lalu.
Era video klip
Perubahan zaman juga dapat ditandai dari fenomena kejayaan (masa silam) video musik. Sutradara Anggun Priambodo yang juga kerap menggarap musik video menuturkan era keemasan video musik di Indonesia terjadi pada 1990-an akhir hingga periode awal 2000 (hingga 2005). Hal itu didasari penetrasi program musik di banyak stasiun TV yang menampilkan video musik para musikus selain juga karena gelombang MTV yang masuk ke Indonesia pascareformasi.
“Merasakan medium musik video menarik waktu itu. Nah, bagaimana hari ini? Musik sebagai sajian utamanya, ya, masih ada walau hari ini karya fisik menurun. Itu memengaruhi untuk membuat video musik sebagai alat promosi si produk musiknya. Begitu musisi pendapatannya sangat kecil dari penjualan fisik, akhirnya berkurang jumlah produksinya,” kata Anggun yang belum lama menggarap musik video Irama Cita dari grup White Shoes And The Couples Company (WSATCC).
Di masa jaya video musik, kata Anggun, dalam setahun label-label besar bisa memproduksi lima hingga tujuh video untuk satu album milik satu musikus atau kelompok musik. Jika si label itu menaungi banyak kelompok musik atau solois, tentu akan lebih banyak produksinya.
Saat ini, Anggun menilai, label besar memproduksi tiga hingga lima musik video saja sudah hebat. “Sekarang perkembangannya sudah enggak terlalu semenarik 20 tahun lalu, tapi masih ada. Dan dengan segala keterbatasannya, gue masih suka dan pengin mengerjakan musik video.”
Di lain hal, konten video musik pun turut mencerminkan dinamika budaya pada masa klip tersebut diproduksi. Jika dulu kiblatnya ialah MTV dan kultur pop Barat, kini tentu bergeser seiring Hallyu yang menginvasi kultur pop global.
“Memang selalu berkaitan erat antara budaya dan teknologinya. Apa yang dikerjakan hari ini adalah imbas dari budaya secara keseluruhan; yang sedang terjadi, yang dikonsumsi, dan diproduksi secara global.”
Teknologi juga memengaruhi. Misalnya, ketika gelombang MTV sudah mewabah di tanah asalnya sejak dekade 80-an, baru masuk Indonesia pada dekade 90-an akhir dan awal milenium. Kini, tentu saja kultur pop sudah lebih cepat berkali lipat.
Angkat level
Selain merekam perubahan, fi lm atau video bisa menjadi medium untuk memperkenalkan suatu kultur, termasuk dalam musik.
Di dokumenter Tarling is Darling, Ismail Fahmi Lubis menunjukkan semangat ‘do it yourself’ para musikus dangdut tarling di Indramayu, Jawa Barat. Mulai bikin lagu dengan kibor pentium satu, rekaman di ruang ala kadarnya, dan kultur menyawer. Sebelum dirilis pada 2017, Ismail menghabiskan hingga kurun tiga tahun untuk mendokumentasikan lika-liku tarling di pantura.
Perkenalannya dengan tarling ialah saat ia tengah mencari objek dokumenter. Mulanya ia ingin mendokumentasikan Didi Kempot dan campursari. Namun, saat itu sang maestro justru langsung menyarankan dirinya untuk mendokumentasikan tarling.
Ia pun datang ke Indramayu. Di sana ia berjumpa dengan Jaham, salah satu sosok yang punya pamor di tarling Indramayu, sebelum kemudian bertemu dengan banyak penyanyi tarling.
“Rekaman mereka sebenarnya sama saja seperti apa yang disebut indie. Mereka bisa rekaman dengan alat busuk, tapi jadi lagu dan hit. Lagu Juragan Empang itu saya tahu betul kisahnya. Dibuat dari nongkrong-nongkrong, lalu sewa studio. Dan kemudian dijual sendiri. Tapi yang tidak diketahui, copyright-nya dipegang siapa? Itu permasalahannya,” tutur Ismail dalam kesempatan yang sama dengan Faesal.
Ketika Tarling Is Darling diputar ke berbagai layar internasional, respons beragam pun datang. Ada mahasiswa fesyen yang menganalisis gaya busana para penyanyi tarling yang tabrak-menabrak. Berkat kultur saweran yang terdokumentasikan juga, film itu menang di festival film di Taiwan.
“Itulah budaya mereka, budaya pesisir. Saya ingin angkat level dangdut ke yang lebih tinggi sebab itu tidak ecek-ecek. Mereka bahkan main pakai saksofon. Penginnya itu sebenarnya dikenalkan ke festival fi lm yang lebih banyak lagi,” kata Ismail yang tampaknya juga bakal memunculkan sekuel Tarling Is Darling. (M-2)
Siapa Boiyen? Ini profil lengkap Yeni Rahmawati, komedian dan pedangdut yang kini jadi sorotan usai menggugat cerai suaminya di PA Tigaraksa.
DKI Jakarta menyelenggarakan doa bersama lintas agama dan hiburan lainnya termasuk konser.
MEMPERINGATI delapan dekade perjalanan organisasi, Pengurus Pusat Pemuda Katolik melaksanakan kunjungan kasih ke Panti Asuhan Pelayanan Kasih Bakti Mandiri, Sabtu (15/11).
Kolaborasi antara Loket, Indodana, dan TikTok dalam forum ini menegaskan pentingnya sinergi antara data, layanan finansial, dan pemasaran digital.
Tiga perangkat terbarunya yakni Xiaomi Watch S4, Xiaomi OpenWear Stereo Pro, dan Xiaomi Smart Band 10 Glimmer Edition
Kehadiran Pagaehun menjadikan Icon Bali sebagai mal pertama yang menghadirkan konser publik artis K-Pop Korea di Bali.
Narasi dalam lagu Angin Malam milik Orkes Bada Isya berangkat dari potret sederhana sepasang kekasih yang mulai menyadari adanya absurditas dalam hubungan mereka.
Sabrina Carpenter bercerita tentang insiden jatuh ke kaktus saat syuting video musik "Manchild", yang kini membawanya meraih enam nominasi Grammy, termasuk kategori Best Music Video.
Video musik Santa Calus Is Comin' to Town menampilkan sentuhan magis dengan karakter utama Laufey dan kelinci kesayangannya, Mei Mei The Bunny yang menantikan kedatangan Sinterklas.
Konsep MV Bertemu 5000 Detik milik Titi DJ dan Thomas Djorghi berangkat dari ide sederhana tentang ajakan bertemu teman dan menikmati makanan bersama.
Video musik Mau Jadi Apa? memanfaatkan set area sawah sebagai salah satu latarnya dan memberikan visual yang menarik dengan berbagai elemen kejutan.
Band rock Jepang Radwimps merilis video klip untuk Hitsu Zetsu, salah satu lagu dari album terbaru mereka,Anew, yang sekarang sudah bisa didengarkan di seluruh dunia.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved