Kamis 18 Maret 2021, 12:05 WIB

Sejumlah Perempuan ini Bangun Panel Surya untuk Terangi Desa

Adiyanto | Weekend
 

KEHIDUPAN warga Yaman yang berada di tengah konflik dan perang berkepanjangan, betul-betul suram secara harfiah.  Mereka sulit mendapat pasokan listrik dan air.  Namun, itu tidak membuat Iman Hadi berputus asa. Bersama sejumlah rekannya (yang seluruhnya wanita) , perempuan berusia 36 tahun ini memelopori pembangunan listrik tenaga surya untuk menerangi desanya.

Mereka membuat bisnis panel surya jaringan mikro yang mereka harap dapat berkembang di seluruh wilayah yang dilanda perang.

Di negara konservatif yang dilanda kelaparan dan kemiskinan di tengah perang dahsyat yang telah menghancurkan sebagian besar infrastruktur, Hadi dan rekan-rekannya yang mengenakan burqa, mencari solusi apa yang menurut banyak orang tidak terpikirkan.

Dia memberdayakan para perempuan dalam Friends of the Environment Station, di daerah Abs yang dikuasai pemberontak, barat laut ibu kota Sanaa, sejak 2019. Dilengkapi dengan enam jaringan panel surya, stasiun pembangkit itu menjadi satu-satunya sumber listrik untuk puluhan rumah di beberapa desa.

Hadi mengatakan, ide tersebut dimulai ketika rekan-rekan perempuannya membayangkan apa yang bisa mereka lakukan untuk membantu meringankan dampak perang di negara termiskin di Jazirah Arab tersebut.

"Kami bisa membuat banyak orang bahagia dengan menghubungkan rumah mereka ke listrik," kata Hadi, mengenakan jubah panjang dan sarung tangan usang,  saat duduk di belakang mejanya di sebuah bangunan darurat di stasiun.

Stasiun pembangkit tersebut, salah satu dari tiga pembangkit di negara itu tetapi satu-satunya dijalankan oleh semua awak perempuan, dimulai dengan 20 rumah. Hari ini, jumlahnya berlipat dua kali lipat dari angka itu.

Pinjaman lunak

Di Yaman, puluhan ribu orang terbunuh sejak tahun 2014 akibat konflik, antara pemberontak Houthi yang didukung Iran melawan pemerintah yang diakui secara internasional dan didukung oleh koalisi militer yang dipimpin Saudi.

Rumah sakit, bisnis, dan pembangkit listrik telah dihancurkan atau ditutup, di tengah kekurangan bahan bakar yang parah, sehingga memaksa banyak orang bekerja di bawah cahaya lilin.

Sebelum konflik, hanya sekitar dua pertiga orang Yaman yang memiliki akses ke jaringan listrik umum.

Namun di tengah keputusasaan yang melanda negara itu, jaringan listrik tenaga surya kini mulai muncul di atap rumah di kota dan desa.

"Di Yaman, di mana orang tidak mampu membeli makanan, mengakses perawatan kesehatan atau kebutuhan mendasar lainnya, menyediakan pilihan energi matahari untuk daerah terpencil , memberdayakan masyarakat, dan membangun harapan serta ketahanan, sangatlah penting", kata Auke Lootsma, UN Development Perwakilan Penduduk Program untuk Yaman.

Proyek seperti yang dilakukian Hadi, yang menerima dana dan pelatihan PBB dan Uni Eropa, telah membantu negara itu mendapatkan kembali kehidupan normal.

"Alhamdulillah, dari pagi hingga sore, kipas angin, mesin cuci, lemari es, dan mesin jahit bekerja di rumah kami," kata Faeiqa Najjar, salah satu pelanggan Hadi, kepada AFP.

Tidak hanya penerang, jaringan listrik itu juga membantu perekonomian warga. Hadi memberikan pinjaman mikro dari keuntungan bersih bulanan sekitar US$2.000, sehingga memungkinkan orang untuk membuka usaha kecil seperti toko kelontong dan toko roti.

Sempat Diejek

 Namun, usaha Hadi dkk tidaklah mudah. Pembangkit kecil yang dikelilingi tembok beton itu kerap menjadi saksi pertempuran antara pemberontak dan pasukan pemerintah. Selain itu, mereka juga dihadapkan dengan keyakinan masyarakat pedesaan yang menolak gagasan perempuan bekerja di luar rumah.

“Kami menghadapi banyak kesulitan, termasuk ejekan dan penolakan dari keluarga dan masyarakat kami yang menganggap proyek semacam ini hanya untuk laki-laki,” kata Hadi.

"Tapi kami telah menangani kesulitan ini dengan kegigihan. Hari ini, ejekan mereka telah berubah menjadi penghargaan dan rasa hormat terhadap perempuan," imbuhnya.

Setiap hari, para perempuan kini ikut mengepel dan membersihkan jaringan surya biru tua, mengencangkan sekrup yang menahannya, memeriksa masa pakai baterai, dan menghitung konsumsi melalui meteran yang digantung di dinding.

Proyek ini telah memenangkan Penghargaan Ashden untuk Energi Kemanusiaan. Proyek ini juga telah mendapat bantuan dari  UNDP untuk meningkatkan bisnis komunitas ini dari tiga menjadi 100 lokasi di seluruh negeri.

Hadi terpilih sebagai salah satu dari 100 perempuan paling inspiratif dan berpengaruh di seluruh dunia versi  BBC pada 2020.

Jaringan listrik telah mengubahnya menjadi ikon bisnis lokal. Para pria kini meminta nasihatnya serta pinjaman lunak dari bisnis yang dikelolanya.

Rencana jangka panjang dari proyek ini adalah memperluas layanan tenaga surya ke 3.060 rumah tangga di wilayahnya.

"Pesan saya untuk semua perempuan di sini adalah bangkit dan keluar untuk memenuhi ambisi kalian," tukas Hadi. (AFP/M-4)

Baca Juga

Dok. Kepustakaan Populer Gramedia

Mengisi Imaji dengan Fiksi Mini

👤Pro/M-2 🕔Sabtu 16 Oktober 2021, 06:35 WIB
SETELAH berhasil menghanyutkan pembaca lewat buku kumpulan fiksi mini pertamanya berjudul Strings Attached, Firnita kembali menghadirkan...
Dok. PT Gramedia Pustaka Utama

Kala Pintu tidak sekadar Saksi Bisu

👤Putri Rosmalia 🕔Sabtu 16 Oktober 2021, 06:30 WIB
Yang menjadi kelebihan novelis satu ini ialah pembaca tidak akan merasa imajinasinya...
Instagram The Simpsons

Dicari, Analis Serial The Simpsons untuk Ramal Masa Depan

👤Irana 🕔Jumat 15 Oktober 2021, 23:37 WIB
Analis ini akan dibayar kurang lebih Rp95 juta untuk menonton serial The Simpsons dan film-film spin...

E-Paper Media Indonesia

HALAMAN FOKUS EKSTRA 4 HALAMAN

Fokus Edisi

Risma Marah dan Gaya Kepemimpinan Lokal

ika melihat cara Risma marah di Gorontalo, hal itu tidak terlalu pas dengan norma, etika, dan kebiasaan di masyarakat.

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya