Sabtu 16 Januari 2021, 07:45 WIB

Ilmuwan Temukan Bahaya Baru dari Ganja dan Tembakau

Galih Agus Saputra | Weekend
Ilmuwan Temukan Bahaya Baru dari Ganja dan Tembakau

Unsplash/ Sharon McCutcheon
Ilmuwan menemukan jika ganja dan tembakau mengandung bahan beracun berupa akrilonitil dan akrilamida yang cukup tinggi.

ILMUWAN dari Dana-Farber Cancer Institute, Boston, Massachusetts, Amerika Serikat telah menemukan bukti baru terkait risiko kesehatan yang didapat dari unsur kimia tembakau dan ganja. Dalam sebuah penelitian yang diterbitkan melalui EClinicalMedicine, mereka mengutarakan adanya bahan beracun tingkat tinggi yakni akrilonitril dan akrilamida.

Selain itu, para peneliti juga menemukan adanya paparan akrolein, atau bahan kimia yang dihasilkan dari pembakaran. Meski paparannya lebih tinggi pada tembakau ketimbang ganja, akan tetapi bahan ini tetap berkontribusi pada penyakit kardiovaskular.

"Penggunaan ganja sedang meningkat di Amerika Serikat dengan semakin banyak negara bagian yang melegalkannya untuk tujuan medis dan non-medis - termasuk lima negara bagian tambahan dalam pemilu 2020. Peningkatan tersebut telah memperbarui kekhawatiran tentang potensi efek kesehatan dari asap ganja, yang mana diketahui mengandung beberapa produk pembakaran beracun yang sama-sama ditemukan pada asap tembakau," kata sang peneliti, Dana Gabuzda, seperti dilansir Sciencedaily, Kamis, (14/1).
 
Gabuzda selanjutnya menjelaskan hasil studi ini ialah yang pertama kali membandingkan paparan akrolein dan bahan kimia berbahaya terkait asap tembakau dan ganja, terutama kaitannya pada gangguan kardiovaskular. Penelitian melibatkan 245 peserta HIV-positif dan HIV-negatif. Penderita HIV dipilih mengingat tingginya jumlah perokok tembakau dan ganja dalam kelompok ini.

Para peneliti menemukan bahwa peserta yang secara eksklusif menghisap mariyuana memiliki kadar kimia beracun seperti metabolit naftalen, akrilamida, dan akrilonitril yang lebih tinggi pada darah dan urinnya, ketimbang mereka yang tidak merokok. Konsentrasi zat ini lebih tinggi pada mereka yang merupakan perokok tembakau.

"Temuan kami menunjukkan bahwa tingkat akrolein yang tinggi dapat digunakan untuk mengidentifikasi pasien dengan peningkatan risiko kardiovaskular, dan bahwa mengurangi paparan akrolein dari merokok tembakau dan sumber lain dapat menjadi strategi untuk mengurangi risiko," imbuh Gabudza. (M-1)

Baca Juga

eminenceorganics.com

Tips Menetralkan Kulit dari Kosmetik Abal-Abal

👤Retno Hemawati 🕔Senin 08 Maret 2021, 17:27 WIB
Semakin lama dipakai produk bermerkuri akan semakin menumpuk di jaringan kulit dan perlu waktu lama hingga tahunan untuk...
Tangkapan layar YouTube

Sejarah Musik Ska Indonesia bakal Dibukukan

👤Fathurrozak 🕔Senin 08 Maret 2021, 16:42 WIB
Menulis buku sejarah ska di Indonesia menjadi salah satu rencana Indonesia Ska Connection...
Joe Pugliese/ Harpo Productions/ AFP

Meghan Markle Mengaku Nyaris Bunuh Diri Saat Hamil Archie

👤Putri Rosmalia 🕔Senin 08 Maret 2021, 13:00 WIB
Ia kini mengandung anak berjenis kelamin...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya