Senin 28 Desember 2020, 08:30 WIB

Perubahan Iklim Diduga Picu Penyakit Kulit pada Lumba-Lumba

Galih Agus Saputra | Weekend
Perubahan Iklim Diduga Picu Penyakit Kulit pada Lumba-Lumba

MI/Susanto
Lumba-lumba hidung Botol di perairan Sulawesi

 

SEBUAH studi yang baru-baru ini dipublikasikan di Scientific Reports mengungkapkan adanya penyakit kulit jenis baru pada lumba-lumba hidung botol.  Penyakit itu disebut Penyakit Kulit Air Tawar (Fresh Water Skin Disease), yang menurut para peneliti dipicu karena adanya perubahan iklim.

Para peneliti dari The Marine Mammal Center mengatakan, perairan yang ada di dalam daftar pengamatan mereka telah mengalami penurunan kadar garam (salinitas) secara tajam. Mereka juga menemukan bangkai lumba-lumba hidung botol yang mengalami penyakit kulit dengan luka menutupi 70 % permukaan tubuhnya.

Lumba-lumba pesisir pada dasarnya merupakan spesies yang dapat beradaptasi dengan perubahan kadar garam. Akan tetapi mereka bukanlah mahluk yang hidup di air tawar. Meningkatnya jumlah angin topan dan badai, terutama yang diawali dengan kekeringan, diperkirakan telah merusak habitat mereka.

Patolog The Marine Mammal Center, Pádraig Duignan mengatakan, penyakit kulit ini telah membunuh lumba-lumba sejak adanya Badai Katrina.

"Badai di Teluk Meksiko tahun ini dan syang lebih hebat di seluruh dunia terjadi karena perubahan iklim. Kami berharap untuk melihat lebih banyak wabah mematikan yang membunuh lumba-lumba (untuk diteliti)," katanya, seperti dilansir dari Ladbible, Minggu, (27/12).

Hasil penelitian dianggap dapat menjadi implikasi langsung terhadap wabah yang sedang berlangsung di Australia dan mempengaruhi salah satu spesies yakni lumba-lumba Burrunan. Ketua Peneliti dan Dosen Patologi Hewan di Universitas Murdoch, Perth, Australia, Nahiid Stephens menjelaskan, kondisi tersebut setara dengan luka bakar tingkat tiga pada manusia.

"Itu membunuh mereka karena menyebabkan gangguan elektrolit dalam aliran darah dan mereka akan mati  dengan kegagalan organ," terangnya.

Dalam jangka panjang, para peneliti berharap temuan ini dapat mendorong sikap pihak berwenang untuk lebih serius mengantisipasi dampak perubahan iklim. Menurut Duignan pemanasan suhu laut juga akan berdampak pada mamalia laut secara global. (M-4)

Baca Juga

manbodyspirit.com

Ketahui Saat Tepat Menjumpai Psikolog untuk Berkonsultasi

👤Mediaindonesia.com 🕔Kamis 20 Januari 2022, 12:00 WIB
CEO dan penggagas HatiPlong Farah Djalal menjelaskan bahwa stigma negatif di masyarakat masih mempengaruhi sebagian besar orang untuk pergi...
Unsplash/ NASA

Untuk Pertama Kalinya, Penelitian Arkeologi Dilakukan di Luar Angkasa

👤Galih Agus Saputra 🕔Kamis 20 Januari 2022, 10:00 WIB
Dalam studi ini, Gorman dan Walsh akan berusaha memahami bagaimana manusia berhubungan dengan benda-benda yang ada di luar...
unsplash.com/manja vitolic

Lakukan Cara ini Agar Kucing Peliharaan tidak Merusak Sofa di Rumah

👤Nike Amelia Sari 🕔Kamis 20 Januari 2022, 09:42 WIB
Kucing suka menggaruk setelah tidur siang sehingga Anda bisa menempatkan tiang garukan di area sekitar tempat tidur...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

Top Tags

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya