Headline

Putusan MK dapat memicu deadlock constitutional.

Fokus

Pasukan Putih menyasar pasien dengan ketergantungan berat

Flortje Ferra Menajang: Kasih untuk Orang dengan Gangguan Jiwa

Bagus Pradana
27/12/2020 01:15
Flortje Ferra Menajang: Kasih untuk Orang dengan Gangguan Jiwa
Flortje Ferra Menajang(MI/SUMARYANTO BRONTO)

TIDAK banyak orang yang memiliki ketulusan hati untuk mengabdikan diri melayani penderita orang dengan gangguan jiwa (ODGJ). Salah satu yang memiliki ketulusan tersebut ialah Flortje Ferra Menajang, yang juga merupakan ketua dari panti rehabilitasi disabilitas mental Gerasa (Gerakan Asih Abadi Indonesia).

Di panti yang beralamat di Jalan AC Lengkeng No 210-A RT 01/RW 02A, Kelurahan Bojong Menteng, Bekasi, ini Ferra bersama keluarganya telah hampir 10 tahun mengabdikan diri untuk melayani sekitar 71 ODGJ yang mayoritas perempuan.

Menjadi narasumber Kick Andy, episode Menebar Kasih Tuhan, Minggu (27/12), Ferra mengungkapkan jika ge rakan sosialnya sengaja lebih memprioritaskan perempuan karena kerap menjadi korban perlakuan tidak beradab. Kebanyakan penderita ODGJ tersebut diselamatkan Ferra sendiri di jalanan sekitar Jabodetabek.

“Para perempuan ODGJ ini dirawat di panti tanpa bantuan medis atau obat-obat penenang, mereka dirawat dengan pendekatan kasih sayang dan konseling rutin. Kini sebagian besar dari mereka telah pulih hingga 70%,” tutur Ferra.


Awalnya Bingung

Ide untuk melayani para perempuan penyandang disabilitas mental, diungkapkan Ferra, berawal dari ide sang suami, Pendeta Lukas Sagotra. Lukas sempat melihat seorang perempuan ODGJ diperlakukan dengan tak semestinya di pinggir jalan.

Kepada Ferra, Pendeta Lukas mengungkapkan keinginannya untuk merawat para perempuan ODGJ telantar di seputaran rumah mereka. Dari penuturan warga, perempuan tersebut dinilai sering membuat onar hingga akhirnya diusir.

Mendengar keinginan sang suami, awalnya Ferra merasa kaget sekaligus bingung. Ia pun meminta waktu suami untuk berdoa memohon petunjuk dari Sang Ilahi dan juga meminta pendapat anak-anak mereka. “Pada suatu kesempatan, saya bertanya sama kedua anak saya, ‘Bagaimana kalau mama dan papa merawat orang-orang dengan disabilitas mental di rumah?’ Saya kaget, ternyata kedua anak saya itu tidak keberatan, bahkan mendukung rencana kami,” tutur perempuan berusia 51 tahun itu.

Kegiatan sosial mereka pun dimulai Maret 2011. Untuk membuktikan keseriusannya dalam menangani para ODGJ, Ferra pun mendirikan Panti Rehabilitasi Mental Gerasa (Gerakan Asih Abadi Indonesia) pada Juli 2011.

Ia bahkan menyediakan ruangan yang cukup nyaman untuk tempat tinggal para perempuan ODGJ ini. Seiring waktu, mereka mendapat bantuan dari beberapa relawan Puskesmas Bojong Menteng. Setiap bulan, para relawan datang ke panti untuk memeriksa kesehatan para ODGJ.

Untuk kebutuhan makan, Ferra bersyukur mereka dapat memenuhi kebutuhan makan tiga kali sehari dengan layak. “Biaya hidup yang dikeluarkannya untuk memenuhi kebutuhan dari para penghuni panti memang cukup besar. Namun, saya percaya bahwa Tuhan akan selalu membukakan jalan bagi umatnya yang berlutut dan berdoa,” tambahnya.

Kebahagiaan terbesar diakui Ferra ketika ada ODGJ binaannya yang sembuh dan dapat berkomunikasi seperti sediakala. Sebagian besar di antara mereka tidak bisa kembali bersama keluarganya masing-masing, maka Ferra memberi pelatihan keterampilan agar para mantan ODGJ bisa mandiri.

Ferra pun mengajarkan kepada para ODGJ keterampilan membuat keset, pegangan kompor, lap dari bahan sisa kain perca, hingga membuat sambal.

“Puji Tuhan, sekarang sudah banyak yang sembuh. Semuanya sekarang bisa mencuci baju sendiri, memasak, bahkan sebagian masakannya siap untuk dijual,” pungkas Ferra. (Bus/M-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Riky Wismiron
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik