Minggu 01 November 2020, 05:30 WIB

Seperempat Abad Miles tak Henti Bertualang

(Jek/M-2) | Weekend
Seperempat Abad Miles tak Henti Bertualang

DOK. MILES FILMS

TAHUN ini tepat menandai 25 tahun Mira Lesmana dan Riri Riza bertandem di bawah bendera Miles Films. Bisa dibilang keberadaan mereka membantu lahirnya bibit-bibit kreatif di industri film nasional
pasca-Orde Baru.

Kuldesak (1997), pada masanya menjadi salah satu fi lm yang menjadi tonggak gelombang sineas generasi 90-an. Nan Achnas, Rizal Mantovani, Mira Lesmana, dan Riri Riza ialah beberapa nama di belakang lahirnya film yang didanai swadaya itu. Film yang tayang perdana pada 1998 tersebut menjadi salah satu penanda gerakan independen para sineas Indonesia dalam mendobrak aturan yang serbamengekang. Saat itu, masih harus ada aturan main untuk menyutradarai suatu fi lm: paling tidak sudah pernah terlibat sebagai asisten sutradara, dan beberapa kali menulis skenario.

Berikutnya, Petualangan Sherina (1999) menjadi salah satu penanda antusiasme penonton dalam negeri menonton fi lm Indonesia, khususnya fi lm anak.

Tentu, jangan lupa, fi lm remaja yang menjadi sensasi hingga kini, Ada Apa dengan Cinta (AADC). AADC menjadi salah satu fi lm yang menandai kebangkitan gairah sinema remaja Indonesia. Saking kuatnya impresi romansa tokoh Cinta dan Rangga, dan di benak generasi ‘90-an, Miles Films pun memproduksi sekuelnya,  AADC 2, serta sempalannya, Milly & Mamet.

Belum lagi berbicara tentang Laskar Pelangi (2008). Dengan nangkring sebagai pemuncak perolehan penonton tertinggi (4.719.453), dan baru tergantikan empat tahun berselang oleh Habibie & Ainun (4.601.249). Walakin, angka penonton Laskar Pelangi sampai kini masih bertengger di empat besar fi lm Indonesia terlaris, kurun 2002-2020.

“Banyak yang bisa kami refl eksikan. Pastinya dalam perjalanan ini kami juga merefl eksikan apa yang Miles cari. Sejak kelahirannya, Miles menjadi tempat anak-anak muda berkumpul, berawal dari kegelisahan untuk kemudian berekspresi. Dengan semangat refleksi ini, kami ingin selalu produktif, ingin terus belajar tentang film Indonesia. Kami selalu senang kalau ada anak muda,” kata Mira
menjawab pertanyaan Media Indonesia dalam konferensi pers virtual 25 tahun Miles Films, Jumat, (30/10).

Beberapa talenta industri fi lm saat ini jika dilacak banyak yang bermula dari akar Miles. Umpama, produser Shanty Harmayn (BASE Entertainment) yang dulu memulai karier produsernya lewat  Kuldesak. Mandy Marahimin (Tanakhir Films) yang awalnya menjabat publisis di Miles, kini bertransformasi sebagai produser, atau Meiske Taurisia (Palari Films), yang merambah posisi produser dalam Babi Buta yang Ingin Terbang (2008), fi lm produksi Babi Buta yang juga koproduksi dengan Miles.

Edwin sendiri, tandem Meiske sejak Babi Buta hingga di Palari, beberapa kali sempat menjadi asisten sutradara di beberapa judul garapan Riri, seperti Gie (2005), Untuk Rena (2005), dan 3 Hari untuk Selamanya (2007).

“Dua puluh lima tahun yang kedua nanti, harus lebih banyak punya anak muda untuk bantu kami tetap produktif sebab rencananya akan ada banyak fi lm-fi lm besar. Kami juga ingin kembangkan Miles Music, Miles Production, dan Miles Animation, papar Mira.

Sherina beraksi lagi


Terjunnya Miles ke ranah animasi bakal ditandai lewat pengembangan kekayaan intelektual ( intellectual property/IP) yang turut membesarkan nama mereka, Petualangan Sherina. Keduanya tengah
memproduksi Petualangan Sherina Animation, dan juga Petualangan Sherina 2. Sherina Munaf dan Derby Romero akan kembali bermain sebagai Sherina dan Sadam.

“Memang biar bagaimanapun, suatu IP (intellectual property) sudah melekat di masyarakat, kemudian IP itu tinggal di hati kita semua. Saat memunculkan kembali, familiarity-nya akan membawa orang untuk kembali, itu sudah terbukti. Jadi harus diatur baik. IP yang sudah ada, sembari membuat IP baru, juga penting untuk dieksplorasi,” kata Mira.

Dua aksi Sherina itu rencananya akan meluncur pada tahun depan. “Cerita ini yang kayaknya akan jatuh pada waktu yang tepat. Intinya, ini rilis sekarang, tidak mungkin dilakukan lima tahun lalu,” ucap
Riri. (Jek/M-2)

Baca Juga

MI/ Tangkapan layar diskusi publik virtual Komite Musik Dewan Kesenian Jakarta (DKJ), Selasa (1/12) malam.

Dikhawatirkan Mulai Jenuh, Konser Virtual Perlu Terobosan

👤Fathurrozak 🕔Kamis 03 Desember 2020, 18:00 WIB
Penyelenggara konser virtual di Tanah Air dinilai perlu mencontoh terobosan yang ada di Korea...
Screenshot

Hal yang Perlu Diketahui Sebelum Ko-Produksi Film Dokumenter

👤Fathurrozak 🕔Kamis 03 Desember 2020, 13:03 WIB
Sebelum berjalan lebih jauh dalam ko-produksi, dproduser harus terlebih dulu menyiapkan dokumen legalnya. Akan lebih baik jika memiliki...
zoom

Ini Cara Mengelola Bisnis yang Beretika

👤Bagus Pradana 🕔Kamis 03 Desember 2020, 12:47 WIB
Menurut Andy Noya buku ini hadir tepat waktu. Ia optimis kalau nilai-nilai pemikiran yang ada di buku ini justru paling tepat yang bisa...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya