Headline
YLKI mengultimatum pemerintah agar melakukan tindakan korektif yang nyata.
YLKI mengultimatum pemerintah agar melakukan tindakan korektif yang nyata.
Kumpulan Berita DPR RI
SELINTAS, lukisan-lukisan karya Tjutju Widjaja tampaknya seperti karya seorang perupa muda yang bersemangat. Padahal, kenyataannya, ia adalah perempuan yang lebih dari setengah baya, bahkan sudah menjadi nenek dari beberapa cucu’. Begitu tulisan kuratorial Rifky Effendy yang terbaca di satu sisi dinding Cemara 6 Galeri, Jakarta. Setidaknya, tulisan yang dilapis plastik itu bertahan selama pameran tunggal Tjutju yang bertema Hear no evil, see no evil digelar pada 13-26 Februari 2016.
Tjutju memang tidak muda lagi. Usianya sekarang menginjak 74 tahun. Namun, karya alumnus Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) Universitas Maranatha, Bandung, itu seolah mencitra sebaliknya. Tjutju banyak mengambil subjek lukisan dari lingkungan sekitarnya, terlebih fenomena penggunaan gawai pada anak-anak.
Selain itu, masih menurut Rifky, karya Tjutju menunjukkan suatu perkembangan artistik. Di usia senjanya, garapan karyanya semakin menunjuk semangat muda. Lukisannya semakin punya kecenderungan ke arah pop.
Gayanya menyiratkan teknik representasional realistis yang membebaskan pelukis menggunakan berbagai media. Contohnya corak seperti foto realis dipadu teks komik serta menggunakan warna yang kuat dan cerah.
Ada petuah kuno berbunyi see no evil, hear no evil, speak no evil. Kata bijak itu difi gurkan dengan tiga kera dikenal dengan the three wise monkey. Ketiga kera itu ialah Mizaru yang menutup mata (see no evil), Kikazaru yang menutup telinga (hear no evil), dan Iwazaru monyet yang menutup mulut (speak no evil). Abad ke-17, fi gur sekaligus peribahasa itu ditemukan di pintu Kuil Tosho-go di Nikko, Jepang.
Jamak dipahami, peribahasa itu bermaksud menyatakan untuk tidak melihatkan yang bertentangan, tidak mendengarkan yang bertentangan, dan tidak mengatakan yang bertentangan. Dalam bahasa yang lebih populer maksudnya ‘cuekin aja’.
Judul tersebut ternyata juga hadir dalam pameran Tjutju. Karya instalasi Tjutju berjudul sama, See No Evil, Hear No Evil, Speak No Evil. Karya itu juga yang diangkat menjadi judul pameran, Hear No Evil See No Evil.
Karya instalasi itu menampilkan delapan puluh satu figur Buddha yang mengelilingi sebuah tablet. Figur tersebut terbagi dalam tiga macam posisi. Figur Buddha berwarna merah menutup mata. Figur Buddha berwarna kuning menutup telinga.
Baca juga: Karya Film Mahasiswa Uhamka Raih Juara PPSF 2019
Figur Buddha berwarna biru menutup mulut. Instalasi itu diletakkan di atas meja. Tepat di tengah meja, ada tablet berukuran 7,9 inci dalam kondisi menyala dan sedang memainkan game.
Karya itu dimaksudkan Tjutju sebagai sebuah pesan filosofis yang dapat menjadi salah satu alternatif solusi. Menurutnya, saat ini arus teknologi media dan informasi telah menimbulkan problem tersendiri dalam dunia anakanak.
Ia tidak memaksudkan figur Buddha sebagai ajaran. Ia hanya bermaksud untuk menceritakan asal usul filosofi tersebut. See No Evil, Hear No Evil, Speak No Evil merupakan sebuah sikap yang dapat diimplementasikan untuk menangkal setiap efek negatif yang dihadapi anak sebagai konsekuensi dari kemajuan teknologi.
Karya instalasi itu begitu mencolok sebab mengambil tempat tepat di tengah ruang pamer. Di sekelilingnya, terdapat 10 karya lukisan yang dibentang di dinding. Penempatan itu bukan tanpa alasan. Semua karya Tjutju berdimensi cukup besar, lebih dari 100 cm2. Bahkan, salah satu karya berjudul Competition berukuran 224 x 150 cm.
Lukisan ‘raksasa’ itu menggambarkan tujuh anak yang sedang berlari. Anak-anak itu sedang menghadapi tantangan dan kompetisi. Anak berlari ialah simbol dari setiap usaha yang dilakukan untuk mencapai tujuan dan cita-cita hidup.
Di depan anak-anak, ada mata satu yang berada dalam segitiga. Di sisi mata tersebut, ada dua tangan menjulur terbuka seolah bermaksud untuk menyambut para bocah tersebut. Kedua tangan itu memegang benda berbeda, air dan api. Tjutju memaksudkan mata itu sebagai tipuan-tipuan di dunia.
Baca juga: Metrotvnews.com Bagikan Beasiswa
Kedua benda di tangan itu dimaksudkan sebagai pertanda dari keburukan dan kebaikan. Ketika yang diulurkan ialah tangan berisi air menyejukkan, itu sebenarnya ialah keburukan yang bakal menjerumuskan. Api malah sebaliknya, ialah hal yang menyejukkan dalam hakikatnya.
Ia merepresentasikan belajar, bekerja keras, dan disiplin dengan simbol api. Kesepuluh karya Tjutju memang bernuansa anakanak. Itulah yang menjadi fokus Tjutju. Ia berangkat berkarya dari kekhawatiran terhadap perilaku cucunya yang terkena dampak dari kemajuan teknologi. Gawai telah membuat mereka larut dalam permainan virtual (game). Kondisi itu ditambah lagi dengan beratnya beban sistem pendidikan. (Zuq/M-4)
Melalui kolaborasi strategis, karya-karya Caleb diimplementasikan menjadi produk merchandise eksklusif yang dipasarkan melalui Beehive Store.
Lukisan "Pria Tanpa Wajah” karya Aura Kasih menuai kontroversi dan perhatian publik. Simak makna filosofis di balik karya seni abstrak tersebut.
Presiden Prabowo Subianto menerima lukisan dari seorang anak bernama Billy yang sudah menunggu sejak pagi hari.
DUA seniman Tanah Air, Agus Wicak dan Zakimuh menggelar pameran tunggal bertajuk Bio Diversity dan Parodi. Pameran ini menyatukan dua kekuatan visual yang saling mengkritisi zaman.
SEBUAH karakter yang digambarkan sebagai sosok animasi gadis kecil yang menggemaskan dengan rambut merah dan mata besar menghiasi dinding yang ditempeli sejumlah lukisan.
SBY mengungkapkan, lukisan tersebut menggambarkan dua sisi kehidupan dunia saat ini yakni kekerasan akibat perang dan pentingnya berdamai dengan alam.
Madonna dan mantan suaminya Guy Ritchie tampil bersama mendukung pameran seni Rocco Ritchie di London.
"Ini tentang eksistensi alam dan peradaban manusia, jadi ini tentang hubungan keduanya yang cenderung selama ini terlihat tidak selaras."
Ubud Art Ground menggelar pameran seni perdana bertajuk Parallels : Legacies in Flux yang bakal berlangsung dari 11 Juli - 10 Agustus 2025
Jelajahi sejarah seni lukis, kuasai tekniknya, dan ikuti perkembangannya. Inspirasi seni menanti!
Frigorifero d'Arte jadi istimewa berkat seni lukis tangan tradisional dari Sicilia, Italia, dengan kolaborasi bersama Dolce & Gabbana.
Komponis Purwa Tjaraka bersama pelukis John Martono berkolaborasi menggabungkan seni lukis dan musik dalam satu pertunjukan
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved