Headline

BEI sempat hentikan sementara perdagangan karena IHSG terkoreksi 8%.

Pria Ini Nilai Podcast Tidak Cocok Untuk Cari Kaya

Fathurrozak
20/4/2020 17:30
Pria Ini Nilai Podcast Tidak Cocok Untuk Cari Kaya
Pemandu siniar Makna Talks, Iyas Lawrence, menyebut podcast lebih berfungsi untuk membuka peluang baru.(Instagram @maknatalks)

PODCAST (siniar) beberapa tahun belakangan menjadi salah satu medium yang populer. Podkesmas, BKR Brothers, Dou You See What I See, Rapot, Rintik Sedu, Makna Talks, Unfaedah Podcast, ialah sederet kanal podcast yang masuk ke jajaran teratas podcast Spotify Indonesia.

Para pelakunya bukan hanya mereka yang berlatar belakang penyiar radio, melainkan juga selebritas dan orang biasa. Iyas Lawrence, pemandu kanal podcast Makna Talks, menyebut jika podcast akan terus diminati. 

Di sisi lain, podcast tidak akan menggantikan radio. Menurutnya, keduanya ialah medium yang berbeda.

"Kalau kita lihat dari sisi audio, podcast akan panjang. Makin banyak brand yang tap in, banyak konten. Enggak tahu kapan (podcast) akan berhenti. Maksudnya bukan mati ya, tapi ada media lain yang lebih besar yang mengalahkan podcast," ungkapnya dalam siaran langsung di akun Instagram Hardrock fm dalam rangkaian Audio Fest, Senin, (20/4).

"Gue akan menikmati momen saat ini. Ini momen yang paling nyaman. Bisa ngobrol sama orang baru, diapresiasi orang-orang," lanjutnya.

Menurutnya, saat orang akan ikut nyemplung membuat kanal podcast, pola pikirnya tidak bisa dimulai dengan mencari untung. Justru, baginya podcast ialah pembuka peluang lain atau pembuka jaringan.  

"Gue rasa ada banget (peluang bisnis). Tapi lo enggak bisa mindset lo ke situ. Mindset gue bukan untuk jadi kaya. Tapi bisa kenalan dengan orang-orang baru, koneksinya banyak. Kalau mau stick di podcast aja bisa juga sih. Mengelola konten, brand masuk, ada adlips, offline berbayar, brand partnership. Namun balik lagi, apakah konten lo sekuat itu untuk berhak mendapatkan brand-brand itu?"

Ia menyebut, saat membuat kanal siniar, konsistensi ialah salah satu kunci utama. Ia menganalogikan seperti 'membuka toko'. Podcaster juga tidak boleh cepat puas meski di awal kerap mudah menjaring pujian.

"Pas pertama buka, akan ada banyak yang datang, untuk muji. Kemudian akan turun. Ketika turun (pendengar), sebagai orang yang dibalik podcast harus mikir untuk balik ke atas lagi. Satu-satunya ya konsistensi. Maintain konten podcast lo seperti hari pertama. Ketika berinvestasi di kualitas, akan terbayar dengan segera kok," tutupnya. (M-1)


 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Bintang Krisanti
Berita Lainnya